BARANEWS|ACEH TAMIANG – Di tengah bentang duka yang masih menggantung di langit Aceh Tamiang ketika air bah belum sepenuhnya surut dari ingatan dan kehilangan secercah harapan perlahan tumbuh di antara tenda-tenda pengungsian. Bencana hidrometeorologi yang melanda wilayah ini tak hanya menghancurkan rumah dan lahan pertanian, tetapi juga mengguncang ketenangan jiwa ribuan warganya.
Dalam suasana itulah, kepedulian kemanusiaan datang mengetuk dari berbagai arah. Salah satunya melalui langkah Anggota DPRA, Edy Asaruddin, SE, yang bersama tim relawan menyusuri sejumlah wilayah pedalaman Aceh Tamiang. Mereka menembus jalan-jalan berlumpur dan jalur yang tak selalu ramah, demi memastikan bantuan sembako menjangkau ribuan titik pengungsian.
Edy Asaruddin: Hadir Sejak Hari Pertama, Menyatu dengan Pengungsi
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Edi Asyaruddin yang akrab disapa Edo dikenal masyarakat sebagai sosok yang memilih hadir di tengah rakyat, bukan sekadar memantau dari kejauhan. Berdasarkan pantauan Media, setiap kali Edo melintasi kawasan pengungsian, kerap terdengar suara masyarakat menyapanya dengan penuh haru, “Dewan rakyat berhati mulia.”
Julukan itu tumbuh dari jejak langkahnya sejak hari-hari awal banjir melanda Aceh Tamiang. Edo tercatat sebagai salah satu pihak pertama yang menembus wilayah terdampak. Ketika akses darat terputus dan jalur transportasi lumpuh, Edo memilih jalur laut untuk mengangkut bantuan sembako, memastikan pasokan pangan tetap sampai ke warga yang terisolasi.
Saat media menelusuri keberadaannya, Edo diketahui bermalam bersama para pengungsi di Islamic Center Aceh Tamiang. Ia tidak menetap di satu titik, melainkan berpindah dari satu tenda ke tenda lain menyapa, mendengar keluh kesah, dan memastikan setiap keluarga mendapat perhatian. Aktivitas ini jarang tersorot kamera, namun berlangsung konsisten sejak hari-hari awal bencana.
Dalam beberapa hari terakhir, Edo juga aktif mendampingi rombongan kemanusiaan bersama istri Wakil Gubernur Aceh, memastikan distribusi bantuan berjalan merata dan tak ada warga terdampak yang terlewati.
Faisal Amsco: Menghadirkan Logistik dan Tawa untuk Anak-Anak Pengungsi
Di balik distribusi logistik dan pendataan kebutuhan dasar, terselip pemandangan sederhana yang meninggalkan kesan mendalam terutama bagi anak-anak, kelompok paling sunyi dalam pusaran bencana.
Dalam hampir setiap kunjungan ke lokasi pengungsian, Faisal Amsco, putra terbaik Aceh yang turut mendampingi misi kemanusiaan, selalu menghentikan langkahnya saat melihat ada anak-anak berkumpul. Tanpa sorotan berlebihan, ia memborong es krim, jajanan, serta makanan kesukaan anak-anak, lalu membagikannya satu per satu tanpa membedakan siapa pun.
Bukan tentang besar kecilnya bantuan, melainkan tentang rasa. Tentang tawa kecil yang pecah di tengah kesedihan. Anak-anak baik yatim maupun bukan yatim tampak bersorak dan tersenyum, seolah menemukan jeda singkat dari trauma banjir yang memaksa mereka meninggalkan rumah dan rutinitas.
Di balik itu, pantauan media mencatat peran Faisal Amsco yang jarang terekspos kamera. Sejak hari-hari awal banjir, ia ikut memboyong sedikitnya 15 kendaraan pengangkut logistik sembako ke wilayah terdampak. Ketika jalur darat tak bisa dilalui, jalur laut pun dimanfaatkan. Prinsipnya sederhana, sebagaimana ditirukan warga dari ucapannya, “Yang penting rakyat tidak boleh lapar.”
Kehangatan itu terus berulang dari satu sudut pengungsian ke sudut lainnya. Di setiap kabupaten dan kota yang disinggahi, bantuan sembako berjalan beriringan dengan upaya menjaga semangat anak-anak. Sebuah gestur kecil, namun sarat makna: bahwa di tengah krisis, anak-anak tetap berhak merasakan bahagia.
Sekilas dari Aceh Tamiang, Edi Asaruddin, anggota DPRA dari Fraksi Partai Gerindra, dan Faisal Amsco menghadirkan dua wajah kepedulian yang saling melengkapi keteguhan memastikan kebutuhan dasar terpenuhi, serta kehangatan yang menjaga harapan tetap hidup di hati anak-anak pengungsi.




































