GAYO LUES | Kementerian Pekerjaan Umum memprioritaskan pembangunan sumur bor air bersih di sejumlah fasilitas publik dan sosial masyarakat yang berada di wilayah terdampak bencana di Provinsi Aceh. Program ini menyasar lokasi-lokasi strategis seperti masjid, meunasah, pesantren, sekolah, pasar, hunian sementara (huntara), kantor pemerintahan, dan fasilitas umum lainnya yang menjadi pusat aktivitas harian masyarakat.
Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya pemulihan pascabencana banjir bandang sekaligus menjamin ketersediaan air bersih yang aman dan berkelanjutan di wilayah rawan bencana. Pembangunan sumur bor tersebut juga diintegrasikan dengan penyediaan sarana pendukung seperti rumah pompa, MCK, sistem distribusi air, serta perlengkapan sanitasi darurat.
Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, menyatakan bahwa pemulihan pascabencana tidak semata berbicara tentang perbaikan fisik infrastruktur, tetapi juga soal mengembalikan rasa aman dan kenyamanan masyarakat dalam menjalani aktivitasnya. Menurutnya, keberadaan akses air bersih di fasilitas sosial seperti rumah ibadah dan sekolah mampu mempercepat proses pemulihan sosial warga.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Masjid, sekolah, dan pesantren adalah ruang hidup masyarakat. Ketika air bersih tersedia di sana, warga bisa kembali beribadah dengan tenang, anak-anak bisa belajar dengan layak, dan risiko penyakit dapat dicegah,” ujar Menteri Dody dalam siaran pers resmi Kementerian PU.
Sejak 28 Desember 2025, pekerjaan pengeboran sumur air tanah telah dimulai di berbagai titik yang telah ditetapkan berdasarkan hasil survei hidrogeologi. Satu titik sumur bor telah berfungsi penuh di Masjid Simpang Lhee, Kecamatan Manyak Payed, Aceh Tamiang, dan saat ini dilengkapi dengan fasilitas pendukung seperti rumah pompa dan sanitasi umum.
Di Kabupaten Aceh Tamiang, pengeboran sumur dilakukan di sejumlah lokasi strategis, meliputi puskesmas, polindes, pasar, masjid, ponpes, sekolah, dan huntara. Beberapa lokasi yang telah memasuki tahap pengerjaan antara lain Puskesmas Karang Baru, Pasar Manyak Payed, Masjid Babul Falah di Karang Baru, hingga Pondok Pesantren Darul Muchlisin di Karang Baru. Sementara di Kabupaten Pidie Jaya, pekerjaan dilakukan di Komplek Dinas Perhubungan, Komplek Perpustakaan Daerah, serta meunasah di beberapa gampong. Di Bener Meriah, pengeboran dilakukan di kawasan huntara, seperti Huntara Blang Rakal dan Huntara Tunyang.
Pengeboran sumur dilakukan pada kedalaman bervariasi, antara 60 hingga 82 meter, disesuaikan dengan hasil survei geolistrik untuk memastikan kualitas air dan keberlanjutan sumber air tanah. Pendekatan teknis ini dilakukan dengan mempertimbangkan karakteristik geologi dan risiko bencana di wilayah masing-masing.
Secara keseluruhan, Kementerian PU menargetkan pembangunan 47 titik sumur bor air baku di Kabupaten Aceh Tamiang yang tersebar di 12 kecamatan dan mencakup 30 lokasi. Dari total tersebut, 14 titik merupakan sumur bor dangkal dan sisanya sebanyak 33 titik berupa sumur bor dalam, yang difungsikan sebagai cadangan air bersih jangka menengah sekaligus elemen mitigasi menghadapi kemungkinan bencana hidrometeorologi lanjutan.
Seluruh kegiatan ini dijalankan secara terintegrasi oleh Direktorat Jenderal Cipta Karya dan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, dan merupakan bagian dari skema tanggap darurat dan rehabilitasi pascabencana. Pembangunan sumur juga didukung dengan pengoperasian Instalasi Pengolahan Air (IPA) mobile, mobil tangki air, hidran umum, toilet darurat, dan toren air yang telah disebar di sejumlah titik di Aceh Tamiang dan kabupaten lainnya yang terdampak.
Kementerian PU menyampaikan bahwa infrastruktur air bersih memiliki peran vital dalam upaya pemulihan pasca bencana, tidak hanya sebagai kebutuhan dasar hidup, namun juga sebagai penanda bangkitnya kembali aktivitas sosial, ekonomi, dan keagamaan di tengah masyarakat. (*)






































