Kementerian PU Prioritaskan Pembangunan Sumur Bor di Fasilitas Sosial dan Umum di Aceh

Redaksi Bara News

- Redaksi

Minggu, 4 Januari 2026 - 04:24 WIB

50279 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

GAYO LUES |  Kementerian Pekerjaan Umum memprioritaskan pembangunan sumur bor air bersih di sejumlah fasilitas publik dan sosial masyarakat yang berada di wilayah terdampak bencana di Provinsi Aceh. Program ini menyasar lokasi-lokasi strategis seperti masjid, meunasah, pesantren, sekolah, pasar, hunian sementara (huntara), kantor pemerintahan, dan fasilitas umum lainnya yang menjadi pusat aktivitas harian masyarakat.

Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya pemulihan pascabencana banjir bandang sekaligus menjamin ketersediaan air bersih yang aman dan berkelanjutan di wilayah rawan bencana. Pembangunan sumur bor tersebut juga diintegrasikan dengan penyediaan sarana pendukung seperti rumah pompa, MCK, sistem distribusi air, serta perlengkapan sanitasi darurat.

Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, menyatakan bahwa pemulihan pascabencana tidak semata berbicara tentang perbaikan fisik infrastruktur, tetapi juga soal mengembalikan rasa aman dan kenyamanan masyarakat dalam menjalani aktivitasnya. Menurutnya, keberadaan akses air bersih di fasilitas sosial seperti rumah ibadah dan sekolah mampu mempercepat proses pemulihan sosial warga.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Masjid, sekolah, dan pesantren adalah ruang hidup masyarakat. Ketika air bersih tersedia di sana, warga bisa kembali beribadah dengan tenang, anak-anak bisa belajar dengan layak, dan risiko penyakit dapat dicegah,” ujar Menteri Dody dalam siaran pers resmi Kementerian PU.

Sejak 28 Desember 2025, pekerjaan pengeboran sumur air tanah telah dimulai di berbagai titik yang telah ditetapkan berdasarkan hasil survei hidrogeologi. Satu titik sumur bor telah berfungsi penuh di Masjid Simpang Lhee, Kecamatan Manyak Payed, Aceh Tamiang, dan saat ini dilengkapi dengan fasilitas pendukung seperti rumah pompa dan sanitasi umum.

Di Kabupaten Aceh Tamiang, pengeboran sumur dilakukan di sejumlah lokasi strategis, meliputi puskesmas, polindes, pasar, masjid, ponpes, sekolah, dan huntara. Beberapa lokasi yang telah memasuki tahap pengerjaan antara lain Puskesmas Karang Baru, Pasar Manyak Payed, Masjid Babul Falah di Karang Baru, hingga Pondok Pesantren Darul Muchlisin di Karang Baru. Sementara di Kabupaten Pidie Jaya, pekerjaan dilakukan di Komplek Dinas Perhubungan, Komplek Perpustakaan Daerah, serta meunasah di beberapa gampong. Di Bener Meriah, pengeboran dilakukan di kawasan huntara, seperti Huntara Blang Rakal dan Huntara Tunyang.

Pengeboran sumur dilakukan pada kedalaman bervariasi, antara 60 hingga 82 meter, disesuaikan dengan hasil survei geolistrik untuk memastikan kualitas air dan keberlanjutan sumber air tanah. Pendekatan teknis ini dilakukan dengan mempertimbangkan karakteristik geologi dan risiko bencana di wilayah masing-masing.

Secara keseluruhan, Kementerian PU menargetkan pembangunan 47 titik sumur bor air baku di Kabupaten Aceh Tamiang yang tersebar di 12 kecamatan dan mencakup 30 lokasi. Dari total tersebut, 14 titik merupakan sumur bor dangkal dan sisanya sebanyak 33 titik berupa sumur bor dalam, yang difungsikan sebagai cadangan air bersih jangka menengah sekaligus elemen mitigasi menghadapi kemungkinan bencana hidrometeorologi lanjutan.

Seluruh kegiatan ini dijalankan secara terintegrasi oleh Direktorat Jenderal Cipta Karya dan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, dan merupakan bagian dari skema tanggap darurat dan rehabilitasi pascabencana. Pembangunan sumur juga didukung dengan pengoperasian Instalasi Pengolahan Air (IPA) mobile, mobil tangki air, hidran umum, toilet darurat, dan toren air yang telah disebar di sejumlah titik di Aceh Tamiang dan kabupaten lainnya yang terdampak.

Kementerian PU menyampaikan bahwa infrastruktur air bersih memiliki peran vital dalam upaya pemulihan pasca bencana, tidak hanya sebagai kebutuhan dasar hidup, namun juga sebagai penanda bangkitnya kembali aktivitas sosial, ekonomi, dan keagamaan di tengah masyarakat. (*)

Berita Terkait

Komdigi–Meta Indonesia Gelar Bimtek Satgas Medsos Dukung PP TUNAS
Kementerian Keuangan Tetapkan Nilai Kurs untuk Pelunasan Pajak dan Bea Masuk Periode 21–27 Januari 2026
Bupati Pati Sudewo Terjerat Kasus Dugaan Jual Beli Jabatan dan Suap Proyek Kereta Api
Mendagri Ingatkan Aceh, Sumut, dan Sumbar Bijak Gunakan Dana TKD untuk Percepatan Pemulihan Pascabencana
MK Putuskan Wartawan Dilindungi Sepenuhnya dalam Menjalankan Profesi, Tak Bisa Langsung Diproses Secara Pidana atau Perdata
Kementerian Keuangan Tetapkan Nilai Kurs untuk Pelunasan Pajak dan Bea Masuk Periode 14–20 Januari 2026
Video Viral Dugaan Pungli di Palembang, Mobil Bantuan Bencana Dihentikan Oknum Diduga Petugas Transportasi
Protes Jemuran Celana Dalam di Kudus, Simbol Kritik Etika dan Tuntutan Pembenahan KONI

Berita Terkait

Kamis, 22 Januari 2026 - 23:38 WIB

Perkuat Sinergi Penegakan Hukum, Kapolres Nagan Raya Coffee Morning Bersama Advokat dan Pengacara

Kamis, 22 Januari 2026 - 23:34 WIB

Satlantas Polres Nagan Raya Gencar Tertibkan Knalpot Brong, Libatkan Peran Orang Tua dan Aparat Desa

Kamis, 22 Januari 2026 - 23:25 WIB

Sat Reskrim Polres Nagan Raya Tahan Sopir Air Kemasan Gelapkan Uang Perusahaan Hampir Rp89 Juta

Kamis, 22 Januari 2026 - 14:12 WIB

Zainal Abidin Kades Keude Linteung Buka Secara Resmi Musrenbang Desa tahun 2026

Rabu, 21 Januari 2026 - 14:01 WIB

Jangan Hanya Butuh Saat Pencitraan Saja : YARA Desak Pemerintah Perhatikan Nasib Wartawan Yang Korban Banjir

Senin, 19 Januari 2026 - 20:45 WIB

Wilmar dan Luka Agraria: Saat Negara Membiarkan Rakyat Terpinggirkan

Minggu, 18 Januari 2026 - 16:31 WIB

Sambut Isra Mikraj 1447 H, Pemkab Nagan Raya Gelar Tausiah di Masjid Giok

Minggu, 18 Januari 2026 - 16:23 WIB

Sat Reskrim Polres Nagan Raya Berhasil Amankan Terduga Pelaku Judi Online Jenis Slot

Berita Terbaru