BANDA ACEH | Kegiatan belajar mengajar di Provinsi Aceh mulai kembali berjalan secara bertahap setelah sempat terhenti akibat bencana banjir dan longsor yang terjadi pada Desember 2025. Salah satu tanda awal pemulihan terlihat di SD Negeri 1 Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, yang kembali melaksanakan aktivitas sekolah pada pembukaan semester genap Tahun Ajaran 2025/2026, Senin (5/1/2026).
Meski demikian, proses pembelajaran belum berlangsung dalam kondisi yang ideal. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abdul Muhari, menyampaikan bahwa sejumlah infrastruktur pendidikan masih terdampak. Fasilitas seperti meja, kursi, serta ruang kelas banyak yang rusak dan belum sepenuhnya dibersihkan dari sisa material banjir. Akibat keterbatasan sarana, kegiatan belajar sementara dilakukan secara darurat, termasuk penggunaan terpal sebagai alas belajar bagi siswa.
Pemulihan juga belum menyentuh seluruh peserta didik. Sebagian anak masih berada di lokasi pengungsian, terutama yang berasal dari wilayah terdampak parah, sehingga belum dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar secara penuh. Di tengah keterbatasan itu, sekolah tetap berupaya menciptakan suasana belajar yang aman dan inklusif, salah satunya dengan memulai hari pertama sekolah melalui sesi berbagi cerita. Dalam sesi ini, para siswa menceritakan pengalaman mereka selama menghadapi bencana, sebagai bagian dari pendekatan pemulihan psikososial yang mendorong pemulihan emosi anak-anak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kebersamaan juga tercermin saat waktu istirahat. Para guru berinisiatif memastikan seluruh siswa dapat menikmati waktu makan, termasuk dengan berbagi bekal kepada anak-anak yang belum dapat membawa makanan sendiri. Suasana solidaritas dan empati menjadi bagian penting dari pembelajaran pascabencana yang tak sekadar fokus pada materi akademik, tetapi juga mendampingi pemulihan mental anak-anak.
SD Negeri 1 Karang Baru menjadi gambaran kecil dari proses pemulihan sektor pendidikan yang tengah berlangsung di Aceh. Berdasarkan data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), sebanyak 2.756 satuan pendidikan terdampak langsung oleh banjir dan longsor. Dari jumlah tersebut, 2.226 sekolah telah kembali beroperasi, meskipun banyak di antaranya masih bergantung pada tenda darurat dan sarana belajar alternatif.
Pemerintah pusat bekerja sama dengan pemerintah daerah terus melakukan percepatan pemulihan melalui sejumlah langkah konkret. Proses pembersihan puing dan lumpur, perbaikan bangunan sekolah, serta penyediaan perlengkapan belajar menjadi kegiatan utama dalam tahap pemulihan awal. Hingga awal Januari 2026, berbagai bentuk bantuan telah disalurkan ke Provinsi Aceh, antara lain 15.500 paket school kit, 78 unit tenda darurat, 100 ruang kelas darurat, dana operasional pendidikan darurat sebesar Rp11,3 miliar, serta dana dukungan psikososial senilai Rp300 juta. Selain itu, 90.000 buku pelajaran juga didistribusikan ke sekolah-sekolah terdampak.
Pemerintah juga menyalurkan tunjangan khusus bagi guru dan tenaga kependidikan yang terdampak bencana. Tunjangan tersebut mencakup pendidikan anak usia dini dengan nilai Rp758 juta untuk 379 penerima, pendidikan dasar senilai Rp8,2 miliar untuk 4.098 penerima, serta pendidikan menengah sebesar Rp6,7 miliar untuk 3.381 penerima manfaat.
Dalam sektor pembelajaran, pendekatan pendidikan darurat dilakukan dalam tiga fase. Pada fase tanggap darurat (0–3 bulan), kurikulum difokuskan pada materi pembelajaran minimum seperti literasi, numerasi, keselamatan, dan edukasi kebencanaan. Fase kedua, pemulihan dini (3–12 bulan), menggunakan kurikulum adaptif berbasis krisis yang mengintegrasikan mitigasi bencana dan pemulihan pembelajaran secara fleksibel. Sedangkan pada fase pemulihan lanjutan (1–3 tahun), fokus diarahkan pada pembangunan sistem pembelajaran yang tangguh, berbasis ketahanan, serta penyempurnaan pemantauan pendidikan darurat.
Komitmen untuk mempercepat pemulihan sektor pendidikan terus digaungkan oleh BNPB bersama kementerian dan lembaga terkait. Sinergi antara berbagai pihak diharapkan dapat mengembalikan fungsi pendidikan sebagai ruang aman, bermakna, dan berkualitas bagi seluruh siswa terdampak bencana. Meskipun tantangan masih besar, semangat belajar anak-anak Aceh yang kembali ke sekolah menjadi titik awal bagi lahirnya harapan baru di tengah pemulihan. (*)






































