Aceh Tamiang |Banjir bandang yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang dalam beberapa pekan terakhir meninggalkan jejak kehancuran di berbagai sektor kehidupan masyarakat. Permukiman warga, kawasan perkebunan, lahan peternakan, hingga unit kendaraan pribadi dan niaga turut menjadi korban keganasan alam. Guyuran hujan ekstrem dan meluapnya aliran sungai menyebabkan sebagian besar wilayah terendam air dan material lumpur sepanjang hari, memaksa ribuan warga mengungsi dan menghentikan aktivitas harian mereka.
Salah satu pemandangan yang menuai perhatian publik terjadi di Desa Bukit Rata, Kecamatan Kejuruan Muda. Di lokasi tersebut, dua unit mobil truk tangki tersapu arus banjir bandang dan terhenti dalam posisi bertumpukan — satu truk naik ke atas badan mobil lainnya. Kondisi yang tak biasa ini mengundang perhatian warga sekitar dan pengguna jalan yang melintas.
Selain menjadi simbol betapa dahsyatnya dampak banjir bandang, posisi truk yang tumpang tindih ini juga menimbulkan kekhawatiran terkait keselamatan. Fenomena tersebut cepat tersebar di media sosial dan menjadi tontonan warga secara langsung. Sejumlah masyarakat tampak berkumpul di sekitar lokasi, mengamati dan mengambil gambar meskipun posisi kendaraan tidak stabil dan berpotensi membahayakan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Melihat situasi tersebut, Kapolres Aceh Tamiang AKBP Muliadi mendatangi langsung lokasi dua unit truk tangki tersebut. Guna menghindari potensi kecelakaan dan gangguan lalu lintas yang lebih luas, polisi mengambil inisiatif untuk mengevakuasi kedua kendaraan dengan mengerahkan satu unit eskavator dan satu unit crane.
“Kita mengerahkan dua unit alat berat untuk melakukan evakuasi terhadap kedua mobil tangki tersebut, dan Alhamdulillah evakuasi berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan,” ujar AKBP Muliadi di sela kegiatan evakuasi.
Ia menegaskan bahwa langkah ini disebabkan oleh meningkatnya antusias masyarakat yang berdatangan ke lokasi untuk sekadar mengambil video atau berfoto di dekat truk tersebut. Menurutnya, aktivitas itu berpotensi berbahaya karena posisi kendaraan tidak stabil, sementara tanah di sekitarnya masih basah dan labil.
“Kita melakukan evakuasi dengan tujuan untuk mencegah jatuhnya korban jiwa. Mobil tangki yang berada di atas mobil lainnya ini sudah viral di media sosial, dan banyak masyarakat berdatangan meskipun kondisi cukup berisiko,” tambah AKBP Muliadi.
Fenomena tersebut juga berdampak terhadap arus lalu lintas di jalur utama Medan–Banda Aceh. Terjadinya perlambatan kendaraan karena banyaknya pengemudi yang melambatkan laju mobil untuk melihat dan mengabadikan momen, memperparah kepadatan di jalur tersebut.
“Selain banyak masyarakat yang berdatangan, kondisi ini juga menyebabkan arus lalu lintas di Jalan Lintas Medan–Banda Aceh menjadi padat dan macet. Banyak pengguna jalan melambatkan kendaraan mereka untuk mengambil gambar, sehingga menimbulkan kemacetan cukup panjang,” pungkasnya.
Dengan evakuasi yang telah dilakukan, kepolisian berharap situasi kembali kondusif dan warga masyarakat tidak lagi terlalu mendekati lokasi bekas bencana sebelum keadaan benar-benar aman. Upaya ini juga menjadi bagian dari langkah-langkah penanganan pasca banjir yang saat ini terus berproses di berbagai wilayah terdampak.
Seiring surutnya banjir, tugas-tugas pemulihan mulai ditingkatkan. Pembersihan jalan, evakuasi kendaraan, pengangkutan lumpur, dan penanganan kesehatan masyarakat dilakukan secara terstruktur oleh berbagai unsur pemerintah, TNI, Polri, dan relawan. Kejadian seperti truk tangki terguling menjadi pengingat akan kecepatan dan kedahsyatan banjir bandang, serta pentingnya mitigasi risiko di wilayah rawan bencana seperti Aceh Tamiang. (*)






































