Banda Aceh — Ratusan warga memadati Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Sabtu (13/6/2026) untuk melaksanakan salat jenazah bagi mantan Gubernur Aceh, Zaini Abdullah, atau yang akrab disapa Abu Doto. Salat jenazah digelar selepas salat Asar dan diimami oleh Ustaz Muzakir, disaksikan jamaah yang datang dari berbagai kalangan untuk memberikan penghormatan terakhir kepada almarhum.
Pantauan di lokasi menunjukkan barisan jamaah meluber hingga ke serambi masjid. Di antara para pelayat tampak Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan dan politikus senior PAN Hatta Rajasa. Sejumlah tokoh agama, politisi lokal dan nasional, akademisi, serta masyarakat umum juga hadir. Mereka berdiri dalam satu saf, mengiringi prosesi ibadah yang khidmat bagi sosok yang pernah memimpin Aceh tersebut.
Zaini Abdullah wafat pada Sabtu siang sekitar pukul 12.26 WIB di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh. Informasi yang dihimpun menyebutkan, jenazah almarhum terlebih dahulu dimandikan di rumah sakit sebelum kemudian dibawa ke rumah duka di Gampong Garot, Kecamatan Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar. Dari rumah duka, jenazah kemudian diberangkatkan ke Masjid Raya Baiturrahman untuk disalatkan oleh jamaah dalam jumlah besar yang telah menunggu sejak sebelum waktu Asar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Usai salat Asar berjamaah, imam masjid memimpin salat jenazah. Prosesi berlangsung tenang dan tertib, dengan suasana duka yang kental terasa di antara para jamaah. Setelah salat jenazah selesai, sejumlah tokoh terlihat bergantian menyampaikan belasungkawa kepada keluarga dan kerabat dekat almarhum. Di pelataran masjid, warga yang tidak sempat masuk ke dalam ruangan utama tetap berdiri dan menunggu hingga iring-iringan jenazah kembali diberangkatkan.
Kehadiran Zulkifli Hasan di antara para pelayat menarik perhatian jamaah. Di sela prosesi, ia menyampaikan bahwa dirinya memiliki hubungan komunikasi yang cukup intens dengan almarhum saat Zaini Abdullah masih menjabat sebagai Gubernur Aceh. “Beliau sering berdiskusi dengan saya waktu menjabat dulu. Saya sampaikan, apa yang menjadi kewenangan saya, akan saya dukung,” ujar Zulkifli Hasan, mengenang interaksinya dengan almarhum dalam berbagai pembahasan mengenai pembangunan Aceh.
Zulkifli menuturkan, dalam berbagai perbincangan tersebut, salah satu hal yang kerap ia tekankan adalah pentingnya menjaga kerukunan dan memajukan Aceh agar tidak tertinggal dari daerah lain di Sumatra. “Yang penting Aceh rukun. Jangan sampai tertinggal dari Sumatra Utara. Saya katakan bahwa masyarakat menaruh harapan besar kepada saudara Abu Doto,” ucapnya. Menurut dia, harapan besar itu bukan hanya terkait jabatan, tetapi juga menyangkut kemampuan almarhum menjembatani kepentingan pusat dan daerah demi percepatan pembangunan.
Di hadapan para jurnalis yang mewawancarainya singkat di halaman masjid, Zulkifli Hasan juga menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya Zaini Abdullah. Ia menyebut almarhum sebagai sosok yang terbuka untuk berdialog dan mau mendengar masukan, khususnya terkait upaya mempercepat kemajuan Aceh. “Insyaallah setelah ini saya akan takziah,” katanya, menjelaskan bahwa dirinya akan melayat ke rumah duka usai menghadiri agenda pelantikan Dewan Pimpinan Wilayah PAN Aceh yang telah terjadwal sebelumnya.
Kepergian Zaini Abdullah meninggalkan kesan tersendiri bagi masyarakat Aceh yang hadir di Masjid Raya Baiturrahman. Di antara jamaah, tidak sedikit yang menyebut kehadiran mereka sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada figur yang pernah berada di garda depan pemerintahan Aceh. Bagi sebagian warga, salat jenazah berjamaah di masjid kebanggaan Aceh itu menjadi wujud penghargaan atas pengabdian almarhum selama menjabat sebagai gubernur.
Sejumlah tokoh agama yang ditemui seusai prosesi menilai, ramainya warga yang hadir menunjukkan bahwa sosok almarhum memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat. Mereka berharap, duka atas kepergian Zaini Abdullah dapat menjadi momentum bagi semua pihak untuk mempererat persaudaraan dan meneruskan cita-cita pembangunan Aceh yang lebih baik. Dalam suasana duka, ajakan untuk menjaga kekompakan dan menghindari perpecahan kembali mengemuka, sejalan dengan pesan-pesan yang kerap disuarakan almarhum semasa hidupnya.
Setelah disalatkan di Masjid Raya Baiturrahman, jenazah kemudian diberangkatkan menuju Kabupaten Pidie untuk dimakamkan. Iring-iringan mobil jenazah dan pengantar berangkat dari kompleks masjid pada sore hari, disertai doa yang dipanjatkan oleh keluarga, kerabat, dan warga yang mengantar hingga ke halaman masjid. Pemakaman di Pidie dipilih sesuai kesepakatan keluarga dan tradisi setempat, sekaligus menandai berakhirnya rangkaian prosesi perpisahan seorang tokoh yang pernah memegang amanah sebagai Gubernur Aceh.































































