GAYO LUES — Memasuki minggu keempat pascabanjir bandang dan longsor yang melanda Kabupaten Gayo Lues, Provinsi Aceh, sejumlah wilayah masih berada dalam kondisi darurat. Akses vital penghubung Gayo Lues–Aceh Tenggara, yang berperan penting dalam distribusi logistik dan arus pengungsi, masih tergolong rawan untuk dilintasi. Kerusakan infrastruktur dan ancaman longsor susulan menjadi tantangan utama dalam proses pemulihan.
Di Desa Tetumpun, Kecamatan Putri Betung, salah satu titik longsor terbesar telah memutus jalan sepanjang kurang lebih 300 meter. Upaya pembersihan akses terus dilakukan. Sejumlah alat berat telah dikerahkan ke lokasi untuk membuka jalur. Namun, kondisi tanah yang belum stabil akibat tingginya curah hujan membuat pekerjaan berlangsung secara terbatas dan dalam situasi yang penuh risiko.
Sejak Kamis pagi (18/12), jalur menuju Aceh Tenggara mulai bisa dilalui secara terbatas oleh kendaraan roda dua dan roda empat. Meski demikian, dengan masih banyaknya material longsor berupa tanah dan kerikil di sejumlah titik, jalur tersebut belum sepenuhnya aman. Pergerakan tanah sewaktu-waktu masih berpotensi menyebabkan longsor susulan yang kembali menutup badan jalan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Pada beberapa titik, meskipun sudah dibersihkan, longsor kembali terjadi dan menutup jalur. Ini membuat kami harus mengulang pekerjaan dari awal,” ujar Bupati Gayo Lues, Suhaidi, dalam keterangan langsungnya saat diwawancarai TV One, Sabtu (20/12/2025). Ia menyampaikan bahwa seluruh alat berat yang tersedia, baik milik pemerintah daerah maupun milik swasta, telah dikerahkan untuk percepatan evakuasi dan pembukaan jalan.
Namun, upaya tersebut belum sepenuhnya mampu menjawab kompleksitas medan dan luasnya wilayah terdampak. Pemerintah daerah pun telah meminta dukungan tambahan alat berat dari pemerintah provinsi dan pusat untuk membantu mempercepat penanganan infrastruktur dasar.
Kondisi lebih memprihatinkan justru terjadi di wilayah terpencil seperti Kecamatan Pining. Hingga kini, akses darat menuju kecamatan tersebut masih terputus total. Tidak ada kendaraan yang bisa mencapai lokasi, memaksa warga berjalan kaki hingga sepuluh jam lamanya hanya untuk mengambil bantuan logistik dari posko utama. Di sisi lain, kondisi fisik warga yang kelelahan serta terbatasnya pasokan logistik menjadi ancaman serius bagi ketahanan mereka selama masa pemulihan.
Keterbatasan akses juga memperburuk distribusi kebutuhan dasar lainnya. Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan gas elpiji semakin dirasakan. Antrean panjang kendaraan terlihat di sejumlah SPBU, menambah beban masyarakat yang harus menghadapi keterbatasan akses, kebutuhan pokok, serta keamanan infrastruktur.
Situasi di Gayo Lues menjadi potret nyata betapa kompleksnya penanganan bencana di wilayah dengan topografi ekstrem. Pemerintah daerah terus mengupayakan (Abdiansyah)






































