Jakarta — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijadikan andalan Presiden Prabowo Subianto di panggung internasional kini berbalik menjadi sorotan tajam dari luar negeri. Satu hari setelah pidato Prabowo mempromosikan MBG dalam forum Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok, media Rusia Moskovskij Komsomolets justru mengangkat fakta pahit di balik retorika: ratusan siswa dan guru di Indonesia jatuh sakit akibat makanan yang digembar-gemborkan sebagai simbol kesejahteraan rakyat.
Artikel MK.ru berjudul “Hampir 800 orang keracunan akibat makan siang gratis di sekolah” diterbitkan Kamis (3/9/2026) petang waktu Moskow. Media itu menyoroti ironi antara pidato Prabowo, yang menuntut pembangunan berangkat dari meja makan rakyat kecil, dengan krisis nyata di lapangan yang mempermalukan citra pemerintah Indonesia sendiri. Media Rusia tak ragu menulis bahwa program yang disanjung di depan Vladimir Putin pada kenyataannya memunculkan masalah besar: keracunan massal, kegagalan pengawasan mutu, serta ketidakbecusan manajemen.
Sorotan ini muncul karena kasus-kasus keracunan massal MBG dalam sepekan terakhir memasuki fase gawat. Ratusan—bahkan mendekati seribu—murid dan guru dari berbagai daerah Indonesia terdata mengalami gejala keracunan usai menyantap makanan gratis yang dicanangkan negara. Kejadian ini menampar keras narasi sukses yang selama ini dibangun dan diumumkan ke dunia.
Alih-alih menuai pujian internasional, Prabowo dan pemerintah justru harus menelan pil pahit. Sorotan media Rusia menandai kegagalan negara dalam menunaikan janji paling mendasar: menyehatkan anak-anak bangsa. Ini bukan sekadar kritik biasa, melainkan peringatan sekaligus bukti bahwa membangun citra di level global tanpa membenahi masalah di dalam negeri hanya menghasilkan malu bertingkat. Saat dunia memelototi program MBG karena tragedi keracunan massal, pemerintah Indonesia seharusnya berhenti bersembunyi di balik pidato, dan mulai berbenah sungguh-sungguh di lapangan. (*)








































