Kerusuhan yang pecah pada Sabtu malam itu menyisakan kerusakan parah. Di ibu kota Paris, polisi bersenjata tongkat pemukul diterjunkan ke titik-titik unjuk rasa untuk menindak kelompok yang melakukan penjarahan. Aparat berhasil menangkap sejumlah pelaku yang kedapatan menjarah pertokoan dan swalayan di tengah kekacauan. Pagi ini, kondisi jalanan porak-poranda, dipenuhi puing, sisa pembakaran, dan etalase toko yang hancur.
Apa yang semula merupakan aksi damai terkait biaya hidup berubah menjadi kekerasan ekstrem. Polisi menggunakan gas air mata dan meriam air untuk menghadapi pengunjuk rasa yang melemparkan berbagai benda serta menembakkan kembang api ke arah petugas. Seorang remaja laki-laki berusia 17 tahun dilaporkan kehilangan tangan kanannya akibat ledakan granat pengendali massa di Saint-Etienne, Prancis selatan.
Siapa yang terlibat dan berapa besar skalanya masih simpang siur. Kementerian Dalam Negeri Prancis mencatat aksi diikuti 550.000 orang di seluruh negeri. Namun serikat pekerja CGT yang turut mengorganisir aksi menyebut jumlah peserta mencapai 800.000 orang. Aksi ini terjadi setelah berminggu-minggu protes mahasiswa dan hanya enam bulan menjelang pemilihan presiden untuk menggantikan Emmanuel Macron.
Kapan dan di mana eskalasi meluas juga tercatat signifikan. Kerusuhan tidak hanya terpusat di Paris, melainkan meluas ke Marseille, Lyon, Nice, Nantes, Bordeaux, Limoges, Lille, Toulouse, hingga Strasbourg. Puluhan toko mulai dari supermarket, apotek, butik mewah, toko kacamata, gerai kosmetik, hingga toko elektronik dijarah. Kantor pemerintahan kota di Limoges yang telah berdiri lebih dari 140 tahun rusak berat akibat kebakaran yang disengaja. Kantor serupa di Marseille dan Lille juga dibobol, kompleks kepolisian di Bordeaux dirusak, dan kantor pariwisata di Lyon dibakar massa.
Bagaimana aksi penjarahan berlangsung menunjukkan pola terorganisir. Laporan di lapangan menyebut kelompok yang terdiri dari sekitar enam pemuda mengenakan masker dan sarung tangan, terlebih dahulu memutus kamera keamanan sebelum memecahkan kaca untuk masuk ke dalam toko.
Mengapa pemerintah bereaksi keras dijelaskan oleh para pejabat. Perdana Menteri Sebastien Lecornu mengecam intensitas ekstrem kekerasan tersebut. “Sebuah keajaiban jumlah korban tidak lebih tinggi dari ini,” ujar Lecornu saat mengunjungi petugas di pusat kota Paris usai bentrokan, Minggu, 18 Oktober 2026. Presiden Emmanuel Macron juga mengecam keras tindakan brutal massa dan memastikan negara akan meminta pertanggungjawaban hukum. “Mereka yang melakukan vandalisme, menyerang kantor administrasi atau tempat usaha, maupun melakukan penjarahan, bahkan di kantor-kantor pemerintahan kota akan dituntut dan dihukum,” tegas Macron.
Berdasarkan data terkini, sedikitnya 1.200 hingga 2.000 orang telah ditangkap di seluruh penjuru negeri, sementara 150 petugas kepolisian terluka akibat bentrokan. Wakil Wali Kota Paris Emmanuel Gregoire menyebut seluruh ruas jalan di Paris telah hancur lebur.
Kerusuhan ini turut menjadi sorotan global. Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance melalui platform X menyalahkan isu imigrasi sebagai pemicu. Di dalam negeri, politisi oposisi memanfaatkan situasi. Kandidat sayap kanan Marine Le Pen mengecam para perusuh dan menuding partai rivalnya di sayap kiri, Jean-Luc Melenchon, telah melegitimasi kekerasan. Sementara Melenchon yang sebelumnya vokal mendukung demonstrasi, mendesak pengunjuk rasa menjauhi penjarahan dan menyebut tindakan itu bertentangan dengan metode perjuangannya. (*)










































