Kenduri 40 Hari Rusni Binti Makam, Tradisi Doa dan Penguatan Ikatan Sosial di Nagan Raya

Redaksi Bara News

- Redaksi

Senin, 6 April 2026 - 21:03 WIB

50393 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

NAGAN RAYA | Malam itu, di sebuah rumah sederhana di Jalan SMAN 2 Seunagan, suasana haru bercampur hangat menyelimuti halaman yang dipenuhi kursi-kursi plastik dan tikar yang digelar rapi. Lampu-lampu temaram menerangi wajah-wajah yang hadir, sebagian besar adalah kerabat, tetangga, dan sahabat lama almarhumah Rusni Binti Makam. Mereka datang memenuhi undangan kenduri 40 hari, sebuah tradisi yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Desa Keude Linteung, Kecamatan Seunagan Timur, Kabupaten Nagan Raya.

Kenduri 40 hari bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan juga peristiwa sosial yang sarat makna. Di Aceh, tradisi ini menjadi bagian tak terpisahkan dari rangkaian penghormatan terakhir bagi seseorang yang telah berpulang. Setelah prosesi pemakaman dan tahlilan tujuh hari, keluarga yang ditinggalkan kembali mengundang masyarakat untuk bersama-sama mendoakan almarhumah pada hari ke-40, sebuah penanda penting dalam perjalanan spiritual menurut keyakinan setempat.

Sejak pagi, aktivitas di rumah duka sudah tampak sibuk. Kaum ibu menyiapkan aneka hidangan khas Aceh, mulai dari kuah beulangong hingga kue-kue tradisional, sementara para pria membantu menata tempat dan mengatur logistik. Semua dilakukan secara gotong royong, tanpa pamrih, sebagai bentuk solidaritas dan empati terhadap keluarga yang sedang berduka. Di tengah kesibukan itu, terdengar suara anak-anak yang sesekali berlarian, menambah nuansa kehidupan di tengah suasana kehilangan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ketika malam tiba, para tamu mulai berdatangan. Mereka disambut dengan senyum tulus dan ucapan terima kasih dari keluarga. Di ruang utama, seorang imam memimpin doa bersama, melantunkan ayat-ayat suci dan tahlil yang diamini oleh seluruh hadirin. Nama Rusni Binti Makam disebutkan berulang kali, seolah menjadi pengingat akan jejak kehidupan yang telah ditinggalkan. Doa-doa yang dipanjatkan tidak hanya untuk almarhumah, tetapi juga untuk keluarga yang ditinggalkan agar diberi ketabahan dan kekuatan.

Tradisi kenduri 40 hari ini memiliki dimensi sosial yang sangat kuat. Di tengah arus modernisasi dan perubahan gaya hidup, masyarakat Desa Keude Linteung tetap menjaga tradisi ini sebagai bagian dari identitas kolektif. Kenduri menjadi ruang pertemuan lintas generasi, tempat nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong diwariskan secara alami. Tidak jarang, acara seperti ini juga menjadi ajang silaturahmi, mempererat hubungan yang mungkin sempat renggang karena kesibukan sehari-hari.

Bagi keluarga almarhumah, kehadiran masyarakat memberikan kekuatan tersendiri. Agus Salim RZ, S.Sos, perwakilan keluarga, menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam atas dukungan dan doa yang mengalir dari berbagai pihak. Ia mengakui, tanpa kehadiran dan bantuan masyarakat, beban duka yang mereka rasakan akan terasa jauh lebih berat. “Kami sangat berterima kasih atas kehadiran dan doa dari semua. Semoga Allah membalas kebaikan Bapak dan Ibu sekalian,” ujarnya dengan suara bergetar.

Dampak dari tradisi ini tidak hanya dirasakan oleh keluarga, tetapi juga oleh masyarakat luas. Kenduri menjadi sarana memperkuat jaringan sosial, menumbuhkan rasa saling peduli, dan menjaga harmoni di tengah kehidupan desa. Di saat yang sama, tradisi ini juga menjadi pengingat akan siklus kehidupan, bahwa setiap manusia pada akhirnya akan kembali kepada Sang Pencipta, dan yang tertinggal hanyalah doa serta kebaikan yang pernah dilakukan.

Ketika acara kenduri usai dan para tamu mulai berpamitan, suasana rumah duka perlahan kembali hening. Namun, kehangatan dan kebersamaan yang tercipta malam itu meninggalkan jejak yang dalam di hati setiap orang yang hadir. Tradisi kenduri 40 hari, dengan segala kesederhanaannya, telah menjadi jembatan antara dunia yang fana dan keabadian, antara yang telah pergi dan yang masih bertahan.

Di tengah tantangan zaman, masyarakat Desa Keude Linteung membuktikan bahwa tradisi bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan juga fondasi untuk membangun masa depan yang lebih kuat dan penuh makna. Melalui kenduri 40 hari, mereka merawat nilai-nilai kemanusiaan, memperkuat ikatan sosial, dan meneguhkan keyakinan bahwa dalam setiap duka, selalu ada ruang untuk kebersamaan dan harapan. (*)

Berita Terkait

RAPI Nagan Raya Ucapkan Selamat atas Suksesnya Muswil VI RAPI Aceh Tamiang
Raja Sayang Lepas 32 Kontingen Pramuka Nagan Raya Menuju Jambore Nasional XII 2026
Penyaluran Dana Desa Tahap II Tuntas 100 Persen, Nagan Raya Kembali Ukir Prestasi di Aceh
RAPI Nagan Raya: Bank Aceh Cabang Jeuram Terus Hadir Memberikan Pelayanan Terbaik bagi Masyarakat
DPD Tani Merdeka Indonesia Nagan Raya Dukung Kebijakan BGN Larang Penggunaan Barang Subsidi untuk Program MBG
Bank Aceh Syariah Perkuat Komitmen untuk Nagan Raya melalui Dividen dan Dana Zakat Rp2 Miliar Lebih
RAPI Nagan Raya Ucapkan Selamat dan Sukses atas Pelaksanaan Muswil RAPI Kota Banda Aceh
Bupati TRK Buka MPLS Sekolah Rakyat, 330 Siswa Siap Tempuh Pendidikan Gartis Berasrama

Berita Terkait

Kamis, 6 Agustus 2026 - 00:17 WIB

Kejar Jaringan Pemasok Ganja, Bea Cukai Lhokseumawe dan Bareskrim Polri Tangkap Kurir di Nagan Raya

Rabu, 5 Agustus 2026 - 08:13 WIB

Kejaksaan Agung Belum Ungkap Nama Pemilik Emas 74 Kg di Rumah Eks Jampidsus Febrie Adriansyah

Selasa, 28 Juli 2026 - 20:00 WIB

Anggota Polda Aceh Terlibat Jaringan Narkoba, Kasat Narkoba Polres Tangsel Ditangkap Bareskrim

Minggu, 26 Juli 2026 - 22:38 WIB

Kronologi Kematian Misterius Penjaga Rumah Eks Jampidsus Febrie Adriansyah, Polisi Dituntut Transparan

Minggu, 26 Juli 2026 - 19:00 WIB

Penjaga Rumah Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Meninggal Mendadak, Polisi Lakukan Penyelidikan

Kamis, 23 Juli 2026 - 20:36 WIB

27 Adengan Rekonstruksi Kasus Pembunuhan Bocah Perempuan di Lw Sempilang Agara, Motif Pemerkosaan.

Selasa, 21 Juli 2026 - 22:46 WIB

Hotman Paris Dilaporkan Dua Organisasi Wartawan ke Polda Metro Jaya, Dinilai Hina Profesi Jurnalistik

Selasa, 21 Juli 2026 - 00:58 WIB

Hampir 3 Tahun Kematian Sungguh Satria Aritonang Belum Terungkap, Keluarga Pertanyakan Keseriusan Penyidik Polres Langkat

Berita Terbaru