Presiden Prabowo Tegaskan Banjir di Sumatra Tidak Ditetapkan sebagai Bencana Nasional karena Negara Mampu Menangani

Redaksi Bara News

- Redaksi

Jumat, 2 Januari 2026 - 01:38 WIB

50266 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

ACEH TAMIANG — Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, kembali menegaskan bahwa pemerintah tidak akan menetapkan status bencana nasional atas banjir yang berdampak di sejumlah wilayah di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Keputusan ini, menurut Presiden, didasarkan pada pertimbangan kapasitas nasional yang dinilai masih mampu menangani dampak bencana tanpa perlu menaikkan status menjadi bencana nasional.

“Masih ada yang mempersoalkan kenapa tidak bencana nasional? Masalahnya adalah kita punya 38 provinsi. Masalah ini berdampak di tiga provinsi, masih ada 35 provinsi lain. Jadi kalau untuk sementara, tiga provinsi ini kita sebagai bangsa, sebagai negara, kita mampu menghadapi, ya, kita tidak perlu menyatakan bencana nasional,” ujar Presiden Prabowo saat berkunjung ke Aceh Tamiang, Kamis (1/1/2026).

Mantan Menteri Pertahanan itu juga menegaskan bahwa absennya status bencana nasional tidak berarti pemerintah bersikap abai terhadap musibah yang terjadi. Sebaliknya, menurutnya, kehadiran langsung sejumlah pejabat tinggi negara di lokasi terdampak merupakan cerminan kesungguhan pemerintah dalam melakukan penanganan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Bukan berarti kita tidak memandang ini sebagai hal yang sangat serius. Nyatanya dari seluruh kabinet hari ini ada berapa menteri di sini? Ya kan. Dua sedang di Aceh Utara. Sepuluh menteri lainnya sekarang ada di Aceh,” katanya.

Presiden juga memastikan bahwa pemerintah pusat telah mengalokasikan dana dalam jumlah besar sebagai bentuk tanggung jawab dan komitmen nyata negara terhadap percepatan pemulihan wilayah-wilayah yang mengalami dampak terparah akibat banjir.

“Kita memandang sangat serius dan kita akan habis-habisan untuk membantu. Kita sudah siapkan anggaran cukup besar untuk mengatasi ini,” tegasnya.

Kunjungan Presiden Prabowo ke Aceh Tamiang di awal tahun ini juga disertai dengan pelaksanaan rapat terbatas bersama sejumlah pejabat tinggi negara. Rapat itu digelar di sela kunjungan lapangan, termasuk peninjauan proyek pembangunan hunian darurat Danantara bagi warga terdampak.

Sejumlah pejabat yang hadir dalam rapat tersebut antara lain Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Menteri Luar Negeri Sugiono, serta Menteri Investasi dan Hilirisasi yang juga CEO Danantara, Rosan Roeslani.

Turut hadir pula Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, Kepala Badan Pembinaan BUMN Dony Oskaria, Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto, Wakil Panglima TNI Jenderal Tandyo Budi Revita, serta Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak.

Dalam kesempatan tersebut, Presiden juga menyinggung pentingnya solidaritas sosial dan partisipasi publik, termasuk dari diaspora Indonesia, untuk turut terlibat dalam upaya bantuan kemanusiaan. Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak akan menutup diri terhadap bantuan dari masyarakat selama dijalankan secara ikhlas dan sesuai mekanisme.

“Kalau ada pihak yang tulus, ikhlas, mau membantu, ya tentu kita tidak menolak bantuan. Asal bantuannya jelas,” katanya.

“Silakan, monggo. Bikin surat, saya ingin menyumbang ini, nanti kita laporkan ke pemerintah pusat, nanti kita yang akan salurkan. Dari luar negeri, kalau bantuan ikhlas dan tulus, nanti kita serahkan,” tambahnya.

Keputusan untuk tidak menetapkan status bencana nasional dipastikan akan terus menjadi bahan diskusi publik di tengah besarnya dampak yang ditimbulkan oleh banjir lintas provinsi ini. Pemerintah pun kini dituntut untuk menunjukkan bahwa skema penanganan bencana yang dijalankan tanpa status bencana nasional tetap mampu menjamin kecepatan, cakupan, dan transparansi dalam melindungi serta memulihkan kehidupan masyarakat terdampak. (*)

Berita Terkait

Bupati Pati Sudewo Terjerat Kasus Dugaan Jual Beli Jabatan dan Suap Proyek Kereta Api
Mendagri Ingatkan Aceh, Sumut, dan Sumbar Bijak Gunakan Dana TKD untuk Percepatan Pemulihan Pascabencana
MK Putuskan Wartawan Dilindungi Sepenuhnya dalam Menjalankan Profesi, Tak Bisa Langsung Diproses Secara Pidana atau Perdata
Kementerian Keuangan Tetapkan Nilai Kurs untuk Pelunasan Pajak dan Bea Masuk Periode 14–20 Januari 2026
Video Viral Dugaan Pungli di Palembang, Mobil Bantuan Bencana Dihentikan Oknum Diduga Petugas Transportasi
Protes Jemuran Celana Dalam di Kudus, Simbol Kritik Etika dan Tuntutan Pembenahan KONI
Mulak Sitohang Perbaiki Argumentasi Uji UU Pembentukan Aceh dan Sumatra Utara
Empat Pulau Jadi Sorotan, MK Gelar Sidang Perbaikan UU Pembentukan Aceh

Berita Terkait

Selasa, 13 Januari 2026 - 22:12 WIB

UGP Takengon dan O2 Course Resmi Jalin Kerja Sama Strategis Penguatan Kompetensi Bahasa Inggris

Senin, 12 Januari 2026 - 21:24 WIB

Sambangi Rusip Antara, Relawan Masjid Nusantara Kembali Salurkan Bantuan

Kamis, 8 Januari 2026 - 17:58 WIB

Bantu Korban Longsor-Banjir Sumatera, Komunitas Gayo Peduli Sediakan Nasi Putih Gratis di Enam Posko di Takengon

Kamis, 8 Januari 2026 - 00:58 WIB

Tim Medis Terpadu Tempuh Medan Ekstrem demi Jangkau Penyintas Banjir di Aceh Tengah

Selasa, 6 Januari 2026 - 01:24 WIB

Yayasan Pasak Reje Linge Open Donasi Longsor-Banjir Aceh, Sumut, dan Sumbar

Senin, 5 Januari 2026 - 13:16 WIB

Gotong Royong Polri, Brimob, dan Relawan, Jembatan Darurat Sungai Kala Ili Akhirnya Bisa Dilalui Warga

Senin, 5 Januari 2026 - 00:41 WIB

Kementerian PU Tangani Cepat Pascabanjir di Jembatan Lumut Ruas Takengon–Isé-Isé, Dukung Pemulihan Konektivitas Aceh Tengah

Minggu, 4 Januari 2026 - 00:59 WIB

PMI Aceh Tengah Salurkan Bantuan Sembako Untuk Korban Banjr Dan Longsor

Berita Terbaru

ARTIKEL

capaian Kantor Pertanahan Kabupaten Aceh Tenggara

Rabu, 21 Jan 2026 - 14:11 WIB