Pemerintah Aceh Surati UNDP dan UNICEF dalam Upaya Pemulihan Pascabencana Banjir dan Longsor yang Renggut Ratusan Nyawa

Redaksi Bara News

- Redaksi

Senin, 15 Desember 2025 - 23:34 WIB

50660 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi/net

Ilustrasi/net

BANDA ACEH | Pemerintah Aceh resmi mengirimkan surat permintaan kepada dua lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa, yaitu United Nations Development Programme (UNDP) dan United Nations Children’s Fund (UNICEF), agar turut terlibat dalam proses pemulihan pascabencana di wilayah tersebut. Langkah ini ditempuh sebagai respons atas tingginya tingkat kerusakan serta korban jiwa yang ditimbulkan banjir dan longsor yang melanda 18 kabupaten dan kota di provinsi ujung barat Indonesia itu.

Permintaan tersebut secara resmi disampaikan dalam surat yang ditujukan langsung kepada masing-masing lembaga. Pemerintah Aceh menilai UNDP dan UNICEF memiliki rekam jejak kuat dalam penanganan situasi pascabencana, terutama ketika Aceh dihantam tsunami pada 2004 lalu. Mereka dianggap memiliki kapasitas, pengalaman, dan jejaring yang relevan untuk membantu pemulihan jangka panjang. Sejumlah program mereka juga masih aktif di Aceh, terutama UNICEF yang diketahui masih menjalankan kegiatan hingga awal tahun 2026.

Juru Bicara Pemerintah Aceh, Muhammad MTA, menjelaskan bahwa keputusan untuk menyurati kedua lembaga tersebut merupakan inisiatif strategis pemerintah daerah. Ia menyebut bahwa kondisi Aceh saat ini membutuhkan kolaborasi lintas lembaga, termasuk keterlibatan organisasi internasional. “Mempertimbangkan mereka adalah lembaga resmi PBB yang ada di Indonesia, maka meminta keterlibatan mereka dalam pemulihan kami rasa sangat dibutuhkan,” ujarnya pada Minggu, 14 Desember 2025.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurutnya, bentuk bantuan yang dimungkinkan akan disesuaikan dengan mandat kelembagaan UNDP dan UNICEF masing-masing. UNDP diharapkan terlibat dalam pemulihan infrastruktur dan pemulihan sosial ekonomi masyarakat, sementara UNICEF difokuskan untuk mendukung aspek-aspek kesejahteraan anak, pendidikan, layanan dasar kesehatan, serta bantuan psikososial bagi penyintas anak dan remaja. Koordinasi lebih lanjut akan dilakukan bersama pemerintah pusat, termasuk dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan kementerian terkait lainnya.

Pemerintah Aceh mencatat bahwa bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi sejak akhir November lalu telah menyebabkan kerusakan luas dan meninggalkan dampak kemanusiaan yang signifikan. Berdasarkan data terbaru dari posko tanggap darurat bencana hidrometeorologi Aceh per Minggu, 14 Desember 2025, tercatat sebanyak 419 orang meninggal dunia di Aceh, sementara 32 orang masih dinyatakan hilang. Sebanyak 474.691 orang terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Kerusakan infrastruktur yang ditimbulkan pun cukup parah. Sebanyak 258 unit kantor pelayanan publik, 287 tempat ibadah, 305 sekolah, dan 431 pesantren mengalami kerusakan berbagai tingkat. Sektor kesehatan turut terdampak dengan rusaknya 206 fasilitas layanan seperti rumah sakit dan puskesmas. Infrastruktur transportasi juga mengalami kerusakan signifikan, antara lain 461 titik jalan dan 332 jembatan.

Upaya pemulihan di lapangan terus berlangsung dengan melibatkan berbagai elemen, baik dari dalam maupun luar negeri. Hingga pekan ketiga setelah bencana, tercatat sedikitnya 77 lembaga dan 1.960 relawan telah datang ke Aceh untuk membantu penanganan darurat dan pemulihan awal. Mereka berasal dari organisasi lokal, nasional, hingga internasional. Beberapa di antaranya adalah Save The Children, Islamic Relief, ABF, DH Charity, Koalisi NGO HAM, Mahtan Makassar, Baznas, Relawan Nusantara, EMT AHS UGM, Yayasan Geutanyoe, Katahati Institute, dan beberapa lembaga lainnya.

Pemerintah Aceh membuka ruang selebar-lebarnya bagi kolaborasi multi-pihak dalam penanganan bencana ini. Menurut Muhammad MTA, besar kemungkinan jumlah relawan dan lembaga yang berpartisipasi akan terus bertambah seiring meningkatnya kebutuhan di lapangan dan mobilisasi bantuan dari berbagai penjuru. “Atas nama masyarakat Aceh dan para korban, Gubernur menyampaikan terima kasih dan apresiasi atas kontribusi yang sedang dan akan diberikan. Ini adalah bentuk solidaritas kemanusiaan yang memberikan kekuatan bagi kita semua,” ujarnya.

Berdasarkan data dari dashboard geoportal milik BNPB, sampai dengan 13 Desember 2025 tercatat total korban jiwa akibat bencana hidrometeorologi di Pulau Sumatera telah mencapai 1.003 orang. Dari jumlah tersebut, Provinsi Aceh tercatat sebagai wilayah dengan korban terbanyak, yakni 415 jiwa. Sisanya tersebar di Sumatera Utara sebanyak 347 jiwa dan Sumatera Barat 241 jiwa. Jumlah ini mengalami kenaikan dari laporan sehari sebelumnya, yang menyebutkan 995 korban meninggal.

Pemerintah Provinsi Aceh berharap permintaan bantuan kepada UNDP dan UNICEF dapat segera direspons dan ditindaklanjuti dengan program-program konkret yang memberi dampak langsung kepada masyarakat terdampak, demi mempercepat proses pemulihan sosial, ekonomi, dan pelayanan dasar di daerah-daerah bencana. Pemerintah daerah tetap menempatkan keselamatan, kesehatan, dan keberlangsungan hidup warga sebagai prioritas utama, sambil terus berkoordinasi dengan seluruh pihak terkait dalam upaya pemulihan jangka panjang. (*)

Berita Terkait

PT Mahakarya Abadi Konsultan Tegaskan Komitmen Profesionalisme di Tengah Isu Negatif
Presiden Prabowo Bentuk Satgas Pertumbuhan Ekonomi, Dorong Sinergi Nasional untuk Percepatan Program Pemerintah
Komnas HAM Dorong Pembentukan TGPF, Dugaan Keterlibatan Pelaku Lain di Kasus Penyiraman Air Keras Andrie Yunus
KontraS Tolak Hadiri Sidang Perdana Kasus Penyiraman Air Keras, Desak Proses di Peradilan Umum
Polri Bongkar Modus Haji Ilegal yang Kian Beragam, dari Visa Nonhaji hingga Skema Ponzi yang Menjerat Calon Jemaah
Desakan Peradilan Umum untuk Kasus Penyiraman Air Keras Andrie Yunus: Ujian Transparansi Penegakan Hukum
Kasus Korupsi Ketua Ombudsman RI: Tragedi Integritas di Lembaga Pengawas Publik
Wacana Merger NasDem-Gerindra Menuai Masalah, Elite dan Kader NasDem Protes Keras

Berita Terkait

Rabu, 15 April 2026 - 23:16 WIB

Sekda Aceh Dinilai Jebak Muallem dengan Kebijakan JKA, Ketua IKA-UTU Desak Evaluasi dan Koreksi Segera

Sabtu, 11 April 2026 - 00:48 WIB

Kakanwil DJBC Aceh Laksanakan Kunjungan Kerja Perdana ke Bea Cukai Meulaboh

Selasa, 31 Maret 2026 - 16:26 WIB

Kasus Mawardi Basyah Anggota DPRA GeRAK Desak Kejari Aceh Barat Eksekusi Keputusan MA RI.

Kamis, 19 Maret 2026 - 01:00 WIB

Raih Poin Tertinggi, Habibi Aceh Masuk Grand final AKSI Indonesia 2026

Selasa, 17 Maret 2026 - 02:32 WIB

Bupati Tarmizi: Habibi Menjadi Inspirasi dan Motivasi Bagi Generasi

Selasa, 10 Maret 2026 - 18:55 WIB

MUQ Aceh Selatan MoU Prodi Ilmu Al-Qur’an Tafsir STAIN TDM

Jumat, 6 Maret 2026 - 00:13 WIB

BPC HIPMI Abdya dan Perusahaan Muda Jaya Mandiri Syariah Berbagi Takjil untuk Ratusan Anak Yatim

Kamis, 5 Maret 2026 - 04:33 WIB

Ulama Muda Aceh Dukung Tgk. Habibi di Ajang AKSI Indonesia 2026

Berita Terbaru

BENER MERIAH

Syahriadi Nahkodai PGRI Bener Meriah Periode 2025–2030

Sabtu, 18 Apr 2026 - 10:41 WIB