Pemerintah Beri Kelonggaran Pelunasan Biaya Haji bagi Jemaah Terdampak Bencana di Sumatera

Redaksi Bara News

- Redaksi

Jumat, 2 Januari 2026 - 01:57 WIB

50328 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA — Pemerintah memberikan kelonggaran pelunasan Biaya Perjalanan Ibadah Haji (Bipih) bagi calon jemaah yang berasal dari wilayah terdampak bencana alam di Pulau Sumatera, termasuk Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Kebijakan ini diambil menyusul rendahnya tingkat pelunasan pada tahap pertama di sejumlah daerah, sebagai dampak langsung dari bencana banjir dan longsor yang terjadi sejak akhir 2025.

Direktur Jenderal Pelayanan Haji dan Umrah Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj), Ian Heriyawan, menyatakan bahwa faktor bencana telah memengaruhi kemampuan finansial calon jemaah, mengganggu layanan kesehatan, serta menyebabkan kerusakan pada infrastruktur sektor perbankan yang digunakan untuk proses pelunasan.

“Dampak bencana ini tergambar dari masih rendahnya persentase pelunasan biaya haji pada tahap pertama, khususnya di Provinsi Aceh dan Sumatera Utara,” kata Ian Heriyawan, Rabu (31/12/2025), dikutip dari keterangan resmi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Berdasarkan data pelunasan tahap pertama, Aceh mencatatkan angka terendah secara nasional, yakni sebesar 56,58 persen. Disusul oleh Sumatera Utara dengan 62,5 persen. Angka ini berada di bawah rata-rata nasional yang telah mencapai 73,99 persen. Sementara itu, Sumatera Barat yang juga terdampak bencana justru mencatat pelunasan di atas rata-rata nasional, mencerminkan variasi kemampuan dan akses layanan antara provinsi.

Ian menjelaskan bahwa selain finansial, banyak jemaah di daerah bencana menghadapi hambatan administratif dan teknis. Beberapa perbankan mengalami gangguan layanan, dan sejumlah calon jemaah belum dapat menjalani pemeriksaan istithaah — prosedur pemeriksaan kesehatan wajib sebelum berangkat ke Tanah Suci.

Untuk merespons kondisi tersebut, pemerintah membuka kembali tahap kedua pelunasan Bipih yang akan berlangsung pada 2–9 Januari 2026. Kesempatan ini diberikan kepada calon jemaah terdampak agar memiliki waktu tambahan untuk menyesuaikan kondisi dan menyelesaikan pelunasan tanpa kehilangan hak keberangkatan.

Tahap kedua ini juga memungkinkan pelunasan dapat dilakukan secara bertahap atau setelah jemaah kembali memiliki akses ke layanan keuangan dan kesehatan. “Relaksasi tambahan seperti perpanjangan waktu khusus bagi tiga provinsi terdampak bencana akan dipertimbangkan setelah dilakukan evaluasi terhadap hasil pelunasan tahap kedua,” ujar Ian.

Kebijakan kelonggaran ini sekaligus menjadi bentuk empati pemerintah terhadap kondisi jemaah yang tengah menghadapi situasi sulit akibat bencana, tanpa mengabaikan ketentuan teknis yang berlaku dalam penyelenggaraan ibadah haji.

Meski memberikan ruang yang lebih fleksibel, Kemenhaj menegaskan bahwa semua proses pelunasan tetap mengikuti batas waktu yang telah ditetapkan oleh otoritas Arab Saudi. Tenggat utama untuk pengisian data jemaah yang akan diterbitkan visanya adalah 8 Februari 2026.

“Batas akhir input data jemaah untuk keperluan visa itu 8 Februari 2026. Kami berupaya menyeimbangkan antara empati terhadap kondisi jemaah dan kepatuhan terhadap timeline haji internasional,” tegas Ian.

Dengan pembukaan pelunasan tahap kedua dan potensi perpanjangan waktu secara selektif, pemerintah berharap seluruh jemaah, khususnya dari wilayah terdampak bencana, tetap dapat menjalankan ibadah haji tahun ini dengan tenang dan layak. Pemerintah juga mengajak seluruh pemangku kepentingan, baik lembaga keuangan, instansi kesehatan, maupun pemerintah daerah, untuk turut membantu kelancaran proses pelunasan dan pelayanan kepada jemaah. (*)

Berita Terkait

Kejagung Tetapkan Tiga Eks Pimpinan BGN Tersangka Korupsi MBG, Dugaan Penyimpangan Sentuh Pengadaan Rp 1 Triliun
Dadan Hindayana Ditahan Kejagung, Pergantian Mendadak Pimpinan BGN Memantik Sorotan Publik
Sidang Pembelaan Nadiem Makarim: Antara Klaim Tak Bersalah dan Deret Bukti Lapangan
Dapat Tanah dari Orang Tua? Simak Penjelasan Proses Balik Nama Sertipikat Berikut Ini
Sambangi Sulbar, Wamen Ossy Imbau GTRA Jadi Kunci Penyelesaian Konflik Pertanahan di Daerah
Perkuat Kepastian Hukum untuk Rumah Tinggal, Masyarakat Bisa Tingkatkan Sertipikat HGB ke HM Sekarang
Jadi Pembicara dalam SUSBANPIM VIII, Menteri Nusron: Good Governance Dimulai dari Disiplin, Pembagian Tugas, dan Tata Kelola yang Jelas
Beda Fungsi dan Kegunaan, Pahami Perbedaan Pengecekan Sertipikat dan SKPT

Berita Terkait

Rabu, 3 Juni 2026 - 02:50 WIB

Prof Dr Sutan Nasomal : Edukasi Keluarga Indonesia Bila Terjadi Perang, Apa yang Harus di Lakukan Sangat Penting

Rabu, 6 Mei 2026 - 11:10 WIB

Plang Larangan Sudah Berdiri, Aktivitas PT Rosin Tak Tersentuh—Siapa yang Melindungi?

Senin, 9 Maret 2026 - 16:16 WIB

Truk DAM Kepung Kantor PLN di Gayo Lues, Ongkos Angkut BBM Belum Dibayar

Minggu, 1 Maret 2026 - 15:05 WIB

Ayatollah Ali Khamenei Tewas dalam Serangan AS-Israel, Iran Umumkan Masa Berkabung Nasional

Senin, 15 Desember 2025 - 23:34 WIB

Pemerintah Aceh Surati UNDP dan UNICEF dalam Upaya Pemulihan Pascabencana Banjir dan Longsor yang Renggut Ratusan Nyawa

Rabu, 12 November 2025 - 23:17 WIB

Mahasiswi Serambi Mekkah Harumkan Indonesia di ISG 2025, Raih Medali Perunggu di Riyadh

Jumat, 24 Oktober 2025 - 20:51 WIB

DPSMAI Ajak Masyarakat Aceh dan Pelaku Usaha Meriahkan Selera Serumpun di TBG Kuala Lumpur

Sabtu, 4 Oktober 2025 - 04:56 WIB

WNI di Kapal Misi Bantuan Gaza Masih Selamat, Kemlu Terus Monitor

Berita Terbaru