slot preparation.lsrs.lu

Intelijen Ukraina Sebut Delapan WNI Direkrut Rusia, Salah Satunya Diduga dari Aceh

Redaksi Bara News

- Redaksi

Selasa, 1 September 2026 - 16:08 WIB

50210 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta — Dinas Intelijen Luar Negeri Ukraina, Sluzhba Zovnishnoyi Rozvidky Ukrayiny (SZRU) atau Foreign Intelligence Service of Ukraine (FISU), menyebut delapan warga negara Indonesia (WNI) direkrut untuk menjadi tentara bayaran Rusia dalam perang di Ukraina. Informasi ini disampaikan FISU melalui situs resminya dan menampilkan identitas kedelapan WNI yang dijadikan bagian dari barisan militer Rusia.

Dalam keterangannya, FISU menyatakan telah memperoleh dokumen terkait sedikitnya delapan WNI yang direkrut ke dalam barisan tentara pendudukan Rusia. “Dinas Intelijen Luar Negeri Ukraina telah memperoleh dokumen tentang setidaknya delapan warga negara Indonesia yang direkrut ke dalam barisan tentara pendudukan RF,” tulis FISU di laman resminya, dikutip Selasa (1/9/2026).

Berikut daftar nama delapan WNI tersebut:

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

  1. Yuda Putra Pratama (kelahiran 9 Agustus 1997)
  2. Haryanto Dwi Kencana (kelahiran 14 Juli 1983)
  3. Erwanda (kelahiran 5 Agustus 1988)
  4. Ngangun Hudri Fadli (kelahiran 17 September 1978)
  5. Muhammad Syaripudin (kelahiran 3 Agustus 1994)
  6. M Hadi Maulana (kelahiran 7 April 1987)
  7. Wahyu Oktavian Iskandar (kelahiran 22 Oktober 1985)
  8. Helmi Nuraha Hakim (kelahiran 27 Januari 1983).

Dari nama-nama tersebut, satu nama disebut-sebut memiliki keterkaitan dengan Aceh, meski hingga kini latar belakang serta asal daerahnya masih terus ditelusuri.

Intelijen Ukraina menyebut, perekrutan warga asing dilakukan sebagai bagian strategi Rusia untuk menambah personel di medan tempur di tengah menurunnya minat warga Rusia bergabung secara sukarela. Warga negara asing direkrut melalui tawaran bayaran tinggi, penempatan tugas non-tempur, percepatan pemberian kewarganegaraan Rusia hingga tunjangan sosial yang dinilai menarik. Namun, FISU juga menyoroti bahwa sebagian besar perekrutan dilakukan tanpa pengetahuan jelas mengenai penempatan tugas, bahkan beberapa dikabarkan meninggal dalam pekan-pekan pertama penugasan.

Fenomena serupa juga ditemukan terhadap warga Nepal, Kuba, Kenya, India, dan sejumlah negara lain. Tujuan lain dari perekrutan ini ialah propaganda, guna membangun narasi bahwa operasi militer khusus Rusia mendapat dukungan berbagai negara.

Merespons temuan dari intelijen Ukraina, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia menyatakan tengah melakukan verifikasi atas identitas kedelapan WNI tersebut. Juru Bicara I Kemlu RI, Yvonne Mewengkang, menegaskan pemerintah Indonesia melalui perwakilan di Rusia masih memeriksa detail identitas, status kewarganegaraan, serta proses perekrutan dan bentuk keterlibatan individu-individu yang disebutkan.

Yvonne menambahkan, Indonesia memiliki ketentuan hukum yang tegas mengenai keterlibatan warga negara Indonesia dalam dinas militer negara asing, beserta konsekuensi hukum terhadap status kewarganegaraan mereka. Proses hukum, kata dia, akan tetap dilakukan sesuai aturan dan prosedur yang berlaku jika terbukti ada unsur pelanggaran. Selain itu, pemerintah juga akan mendalami potensi unsur penipuan, eksploitasi, atau perekrutan dengan tawaran kerja yang menyesatkan.

“Apabila terdapat WNI yang menjadi korban dalam proses tersebut, Pemerintah Indonesia akan mengambil langkah pelindungan sesuai ketentuan hukum yang berlaku,” katanya.

Pemerintah juga mengimbau warga negara Indonesia untuk berhati-hati menerima tawaran kerja di negara atau wilayah konflik, khususnya yang berpotensi melibatkan individu pada kegiatan militer asing. Jika benar adanya keterlibatan WNI dalam militer negara asing, langkah itu dianggap tindakan individual dan tidak mewakili posisi resmi pemerintah Indonesia.

Kemlu RI menegaskan Indonesia tetap konsisten mendorong penyelesaian damai konflik Rusia-Ukraina serta pentingnya penghormatan terhadap prinsip Piagam PBB dan hukum internasional. Hingga kini, pemerintah Indonesia terus memantau dan mendalami kasus ini, sembari memastikan perlindungan maksimal bagi warganya yang terlibat atau menjadi korban perekrutan di wilayah konflik. (*)

Berita Terkait

Rumor Kematian Kim Jong Un Terbantahkan Lewat Kemunculan ke Publik
Demo Biaya Hidup di Prancis Berujung Ricuh, Ribuan Ditangkap dan Ratusan Polisi Terluka
Malaysia Desak Isu Kabut Asap Lintas Negara Jadi Agenda Serius di ASEAN
Singapura Layangkan Notifikasi Hukum, Pemerintah Indonesia Fokus Penanganan Karhutla di Lapangan
Ditegur Singapura, Negara Kalah Tegas: Tujuh Korporasi Indonesia Diancam Denda Akibat Ekspor Kabut Asap
Singapura Layangkan Surat kepada Tujuh Perusahaan Indonesia Terkait Kabut Asap Lintas Batas
Anggota Parlemen Malaysia Desak ASEAN Protes Diplomatik Soal Kabut Asap, Modal Perusahaan Malaysia di Indonesia Ikut Disorot
Karhutla Besar Landa Sumatera dan Kalimantan, Kabut Asap Tebal Selimuti Malaysia dan Singapura

Berita Terkait

Rabu, 4 November 2026 - 13:34 WIB

Ironi Gagal Bayar Puluhan Miliar, BPKK Gayo Lues Malah Bobol Kas Daerah demi Kelebihan Bayar TPK!

Rabu, 4 November 2026 - 13:05 WIB

Penertiban Pedagang di Blangkejeren Dinilai Tebang Pilih, Lapak Pedagang Buah Dibongkar

Rabu, 4 November 2026 - 12:42 WIB

Satgas TMMD Kerjakan Pembuatan Gorong gorong di titik Tiga

Rabu, 4 November 2026 - 03:15 WIB

Longsor di Tiga Titik Tutup Total Jalan Lintas Kutacane-Blangkejeren, Kendaraan Roda Dua dan Roda Empat Tak Bisa Melintas

Selasa, 3 November 2026 - 15:39 WIB

Normalisasi Sungai Jadi Kunci di Gayo Lues, Jembatan Putus Hambat Evakuasi Warga

Selasa, 3 November 2026 - 15:32 WIB

Ratusan Hektare Sawah di Gayo Lues Kembali Panen Pascabencana Banjir 2025

Selasa, 3 November 2026 - 15:19 WIB

Pemkab Gayo Lues Kebut Penyerapan Dana TKD untuk Pemulihan Infrastruktur Pascabencana

Selasa, 3 November 2026 - 15:14 WIB

Pemkab Gayo Lues Berpacu dengan Waktu di Tengah Keterbatasan Anggaran untuk Pulihkan Infrastruktur Pascabencana

Berita Terbaru

NASIONAL

Skandal Penyadapan Ilegal Guncang Institusi Kepolisian

Rabu, 4 Nov 2026 - 18:48 WIB