Di Tengah Gempuran Teknologi Digital, Apakah Perpustakaan Masih Di Perlukan Saat Ini?

Redaksi Bara News

- Redaksi

Jumat, 14 November 2025 - 00:22 WIB

50251 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Nuri Kasturi – Mahasiswa Ilmu Perpustakaan Fkultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Email: nurikasturi17@gmail.com No.Hp: 082210745933

Kita menjalani kehidupan di zaman yang serba cepat dan terkoneksi. Informasi kini dapat diperoleh hanya dalam hitungan detik melalui perangkat elektronik yang ada di tangan kita. Mesin pencari, ensiklopedia online, serta berbagai koleksi e-book pada perpustakaan digital seolah menawarkan sumber pengetahuan yang tak terbatas, kapan dan di mana pun kita berada.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ini menimbulkan sebuah pertanyaan penting: dengan semakin masifnya pengaruh teknologi digital, apakah perpustakaan fisik masih layak dipertahankan?

Jika pandangan kita terhadap perpustakaan hanya sebatas tempat penyimpanan buku, jawaban yang akan muncul mungkin saja “tidak”. Karena teknologi digital memberikan kemudahan yang sangat menarik. Akses cepat ke jutaan informasi, kenyamanan mencari referensi tanpa harus berpindah tempat, serta kebebasan dari batasan ruang dan waktu adalah keunggulan yang sulit disaingi oleh perpustakaan konvensional. Logika sederhana seolah menyarankan bahwa perpustakaan hanyalah peninggalan zaman yang sudah waktunya ditinggalkan.

Namun, menyederhanakan perpustakaan hanya sebagai tumpukan buku adalah sebuah kesalahan besar. Pertama, perpustakaan berfungsi sebagai penjaga kesetaraan dalam akses informasi yang seringkali kita lupa bahwa kesenjangan digital masih nyata di masyarakat. Tidak semua orang memiliki perangkat yang memadai, sambungan internet yang stabil, atau kemampuan finansial untuk mengakses jurnal dan e-book berbayar. Di sinilah peran perpustakaan sebagai penyedia akses informasi berkualitas secara gratis untuk semua kalangan tanpa memandang latar belakang ekonomi sangat penting.

Kedua, perpustakaan menyediakan hal yang tidak bisa digantikan oleh internet, yakni kurasi informasi oleh manusia dan ruang yang kondusif. Di era dimana informasi palsu dan berlebihan mudah tersebar, kita membutuhkan lebih dari sekadar data dan kita perlu kemampuan memilah dan menilai kebenaran informasi. Peran pustakawan menjadi sangat krusial sebagai pemandu yang membantu masyarakat menemukan sumber terpercaya, membedakan fakta dari hoaks, dan mendukung proses pembelajaran secara efektif.

Selain itu, perpustakaan merupakan “ruang ketiga” yang berbeda dari rumah (ruang pertama) dan tempat kerja atau sekolah (ruang kedua). Perpustakaan adalah tempat publik yang bersifat netral, aman, dan tenang untuk membaca, belajar, merenung, atau sekadar berdiam. Dalam dunia maya yang seringkali gaduh dan individualistik, ruang fisik seperti ini menjadi sangat langka dan bernilai.

Tentunya, perpustakaan tidak dapat bersikap statis dan harus terus beradaptasi agar tetap relevan. Perpustakaan modern bukan sekadar tempat meminjam buku, tetapi telah berkembang menjadi pusat komunitas dan pembelajaran sepanjang hayat. Layanannya menggabungkan aspek fisik dan digital, menyediakan area kerja bersama, pelatihan literasi digital, akses database online, lokakarya keterampilan, serta menjadi fasilitator kegiatan komunitas lokal.

Akhirnya, hadirnya teknologi digital bukanlah ancaman yang harus menghancurkan keberadaan perpustakaan, melainkan peluang untuk bertransformasi. Esensi perpustakaan bukan hanya terletak pada media bacaan yang digunakan, melainkan juga pada tujuan membaca itu sendiri untuk memperoleh pencerahan, membangun hubungan, dan mendorong kemajuan peradaban.

Jadi, apakah perpustakaan masih diperlukan? Jawabannya adalah sangat perlu. Perpustakaan tetap dibutuhkan bukan sekadar sebagai gudang buku pasif, tetapi sebagai penjaga pemikiran yang dinamis dan inklusif. (*)

Berita Terkait

Kecanduan Judol, Nyawa Ibu Kandung Melayang
Pelaku UMKM Kini Bisa Ganti Background Foto Produk Sendiri Tanpa Biaya Mahal 
Saat Al Aqsha Dikunci, Dimana Perisai Umat?
Ulama Muda Aceh Dukung Tgk. Habibi di Ajang AKSI Indonesia 2026
Pengadaian Tidak Resmi Alias ilegal Bisa Dibawa ke Ranah Hukum?
Mitigasi Kebudayaan dalam Menjaga Budaya Gayo
Rekomendasi Dan Harga Hoodie Adidas 2026

Berita Terkait

Minggu, 14 Juni 2026 - 02:30 WIB

6 Bulan Pascabencana, Gubernur Aceh ke Mendagri: Sawah Belum Bisa Dipakai, Sungai Harus Dibersihkan

Minggu, 14 Juni 2026 - 02:27 WIB

Gubernur Aceh dan SKK Migas Sepakat Revisi PoD Lapangan Gas Tengkulo

Minggu, 14 Juni 2026 - 02:15 WIB

Ratusan Warga Laksanakan Salat Jenazah Mantan Gubernur Aceh Zaini Abdullah di Masjid Raya Baiturrahman

Sabtu, 13 Juni 2026 - 19:47 WIB

Mantan Peraih Kompolnas Award 2022, IPTU Muhammad Abidinsyah Dipercaya Jabat Kasatreskrim Polres Langsa

Sabtu, 13 Juni 2026 - 19:27 WIB

1. ASDP Bergerak Cepat! Tanggung Jawab Penuh Korban Ledakan KMP Aceh Hebat 2, Pemulihan Jadi Prioritas

Sabtu, 13 Juni 2026 - 04:55 WIB

Ledakan KMP Aceh Hebat 2, Suryadi Djamil Desak Usut Tuntas dan Pertanyakan Spesifikasi Kapal

Sabtu, 13 Juni 2026 - 01:19 WIB

FORBINA: Polemik IUP di Aceh Harus Disikapi Objektif, Fokus pada Pengawasan dan Manfaat bagi Masyarakat

Sabtu, 13 Juni 2026 - 00:57 WIB

Dukungan untuk Tarmizi Age Menguat, Nama Putra Aceh Ini Viral sebagai Kandidat Wakil Menteri Ketenagakerjaan

Berita Terbaru

HUKUM & KRIMINAL

Dikejar TNI AL di Laut, Nelayan Kurir Narkoba Ditangkap di Karimun

Minggu, 14 Jun 2026 - 02:43 WIB