Saat Al Aqsha Dikunci, Dimana Perisai Umat?

Redaksi Bara News

- Redaksi

Rabu, 25 Maret 2026 - 18:48 WIB

50667 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Vebiyanthie Orcheva (Pemerhati Media Sosial)

Luka lama itu lagi dan lagi dibuka kembali. Sangat sulit untuk menjelaskan apa yang kita rasakan saat membaca berita tentang Palestina. Sedih, marah, tapi juga bingung karena tidak tahu harus berbuat apa. CNN Indonesia (9 Maret 2026) melaporkan serangan udara kembali terjadi di Gaza, bahkan menewaskan tenaga kesehatan yang notabene mereka adalah orang-orang yang justru datang untuk menyelamatkan nyawa. Lalu serangan lain menghantam bangunan, menewaskan ratusan orang dan memicu krisis kemanusiaan yang semakin parah. Dan yang paling menyesakkan dada adalah, Masjid Al Aqsha ditutup, rakyat Palestina tidak bisa masuk sehingga harus shalat di jalanan. Ini disebut sebagai yang pertama kali dalam sejarah.

Kalau dipikir, ini bukan lagi sekadar konflik. Ini sudah seperti penindasan yang dibiarkan terus berulang. Yang lebih menyakitkan, dunia seakan sudah terbiasa dengan semua ini. Nyawa masyarakat sipil, bahkan tempat suci, bisa diperlakukan semaunya tanpa ada konsekuensi yang berarti. Kalau kita jujur, pertanyaan yang muncul bukanlah “kenapa ini terjadi?” tapi “sampai kapan ini akan terus terjadi?”

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ini bukanlah hanya sekadar konflik biasa. Dan ini juga bukan hanya soal dua kelompok yang tengah berseteru. Ini adalah penindasan yang sistematis. Serangan demi serangan yang terjadi bukanlah reaksi spontan, tapi bagian dari agenda panjang. Bahkan jika kita perhatikan, setiap upaya “perdamaian” yang dimediasi kekuatan besar dunia seperti Amerika Serikat, seringkali justru berujung pada semakin kuatnya posisi penjajah. Inisiatif seperti BoP (Board of Peace) yang katanya menjaga stabilitas, nyatanya lebih terlihat sebagai alat untuk menjaga kepentingan mereka sendiri.

Zionis di Palestina pun bukan berdiri sendiri. Ia adalah bagian dari proyek kolonial modern, yang ditanam di jantung dunia Islam untuk menjadi perpanjangan tangan kepentingan Barat. Selama proyek ini masih dilindungi oleh kekuatan dunia, maka penindasan itu akan terus ada dan terus berlangsung. Dan di titik ini, kita tidak bisa menutup mata terhadap satu kenyataan pahit, yaitu umat Islam hari ini tidak memiliki perisai.

Kita ada banyak, tapi terpecah. Kita punya sumber daya, tapi tidak terkoordinasi. Kita punya kepedulian, tapi tidak punya kekuatan politik dan militer yang benar-benar dapat melindungi. Kita seperti tubuh yang tercerai-berai, padahal Rasulullah SAW sudah menggambarkan bahwa kaum Muslim itu seperti satu tubuh, di mana jika ada satu bagian yang sakit, maka seluruh tubuh akan ikut merasakan sakitnya.

Allah SWT juga mengingatkan, “Dan mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah….” (QS. An Nisa: 75). Ayat ini bukan sekadar seruan emosional semata, tapi merupakan perintah yang nyata. Maka kalau hari ini kita bertanya, “di mana perisai umat Islam?”, jawabannya sangat pahit, “perisai itu belum ada”. Bukan karena umat ini lemah, tapi karena kita belum kembali pada sistem yang menyatukan dan menguatkan kita. Lalu di mana solusi sebenarnya?

Di sinilah kita dapat melihat akar masalahnya. Penindasan yang terus terjadi ini bukan hanya karena adanya penjajah, tapi karena tidak adanya perisai umat yang nyata. Dalam sejarah Islam, perisai itu pernah ada. Dan bukan hanya sekadar konsep, tapi sistem yang benar-benar berjalan, yaitu Khilafah Islamiyyah.

Dulu, ketika umat Islam berada dalam satu kepemimpinan yang menerapkan syariat, penjajahan tidak dibiarkan begitu saja. Ketika Al Quds dikuasai pasukan salib, umat Islam bangkit di bawah kepemimpinan Shalahuddin Al Ayyubi dan membebaskannya kembali. Itu bukan hasil kompromi, tapi hasil dari kekuatan yang disatukan oleh iman, kekuatan, dan kepemimpinan.

Begitu juga pada masa Khalifah Al Mu’tashim Billah. Ketika ada seorang muslimah dilecehkan, beliau tidak hanya mengutuk atau mengirim surat protes. Akan tetapi beliau mengambil tindakan tegas dengan mengirimkan pasukan hingga kehormatan itu kembali terjaga. Karena dalam Islam, kehormatan seorang muslim adalah tanggung jawab seluruh umat, dan negara menjadi pelindung utamanya.

Solusi dalam Islam bukan hanya sekadar doa dan bantuan kemanusiaan, meskipun hal tersebut penting. Ada solusi yang menyentuh akar, yaitu menghadirkan kembali kepemimpinan yang menjalankan syariat secara menyeluruh. Kepemimpinan yang menyatukan umat, yang mampu menghapus sekat-sekat kenegaraan yang selama ini melemahkan, dan yang menjalankan kewajiban jihad untuk mengusir penjajah serta membebaskan tanah kaum muslimin.

Kepemimpinan yang seperti ini tidak akan mengakui entitas penjajah, tidak akan tunduk pada perjanjian yang merugikan umat, dan akan menjadikan Al Aqsha sebagai amanah yang harus dijaga, bukan sekadar simbol yang dibiarkan terancam. Mungkin ini terdengar besar, tapi kalau kita terus berharap pada sistem yang sama yang melahirkan masalah ini, hasilnya akan tetap sama.

Dan mungkin, di tengah semua kabar ini, pastinya akan timbul pertanyaan dalam diri kita, apakah kita akan terus menjadi penonton yang bersedih, atau mulai menyadari bahwa umat ini butuh sesuatu lebih dari hanya sekadar rasa sedih ataupun empati?

Karena selama perisai itu belum ada, luka ini akan terus menganga dan berdarah. Dan Al Aqsha akan terus menunggu untuk dibebaskan. Bukan hanya doa kita, tapi kembalinya perlindungan yang pernah nyata dalam sejarah.

Wallahu a’lam bishshawab.

Berita Terkait

Viral! Pemuda Aceh Jadi Sorotan Setelah Cerita Pengalaman Bermain Slot Gacor yang Mengejutkan
Kecanduan Judol, Nyawa Ibu Kandung Melayang
Pelaku UMKM Kini Bisa Ganti Background Foto Produk Sendiri Tanpa Biaya Mahal 
Ulama Muda Aceh Dukung Tgk. Habibi di Ajang AKSI Indonesia 2026
Pengadaian Tidak Resmi Alias ilegal Bisa Dibawa ke Ranah Hukum?
Mitigasi Kebudayaan dalam Menjaga Budaya Gayo
Rekomendasi Dan Harga Hoodie Adidas 2026

Berita Terkait

Senin, 17 Agustus 2026 - 01:40 WIB

Semangat Kemerdekaan Membara, Warga Dusun Neupet Meriahkan HUT ke-81 RI

Minggu, 16 Agustus 2026 - 22:01 WIB

72 Paskibraka Nagan Raya Dikukuhkan, TRK: Kibarkan Merah Putih dengan Semangat dan Penghayatan

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 13:12 WIB

Muspika, RAPI dan Masyarakat Sungai Mas Bersatu Kobarkan Semangat Kemerdekaan

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 11:27 WIB

RAPI Nagan Raya Apresiasi Gerak Cepat Satreskrim Polres Nagan Raya Tindak Dugaan Tambang Emas Ilegal

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 01:50 WIB

Satreskrim Polres Nagan Raya Tindak Tambang Emas Ilegal, Dua Excavator dan Empat Terduga Pelaku Diamankan

Jumat, 14 Agustus 2026 - 12:03 WIB

Semangat Merah Putih, Polsek Kuala Pesisir Bersama Warga Gotong Royong Bersihkan Masjid

Jumat, 14 Agustus 2026 - 10:15 WIB

Jelang HUT ke-81 RI, Muspika Seunagan Timur dan Masyarakat Kompak Gotong Royong di Alue Kala

Kamis, 13 Agustus 2026 - 19:39 WIB

Jamaluddin Idham Salurkan Bantuan Alat Tangkap, Perkuat Produktivitas Nelayan Abdya

Berita Terbaru

BANDA ACEH

Status Bendera Bintang Bulan Masih Menjadi Polemik di Aceh

Senin, 17 Agu 2026 - 02:35 WIB