HOTELBET beta.lra.gov.mv dbm.wyb.ac.lkpreparation.lsrs.lu wayacim.wyb.ac.lk

Mitigasi Kebudayaan dalam Menjaga Budaya Gayo

Redaksi Bara News

- Redaksi

Rabu, 11 Februari 2026 - 11:00 WIB

50387 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Rasyidin, S.Sn., M.Sn.
Peneliti, Dosen Seni Pertunjukan Program Studi Seni Teater ISBI Aceh
Wakil Ketua III Dewan Kesenian Aceh

Bencana alam banjir telah meluluhlantakkan hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat, mulai dari barang-barang pakai, sandang, pangan, hingga papan. Barang-barang tersebut bukan sekadar benda material, melainkan memiliki keterkaitan erat dengan kebudayaan setempat, baik dalam lingkup domestik maupun dalam konteks kebudayaan yang lebih luas.

Jika ditelusuri dari ranah domestik, berbagai benda yang dimiliki masyarakat sejatinya berhubungan langsung dengan kebudayaan leluhur. Banyak di antaranya merupakan benda turun-temurun yang tidak dapat dipisahkan dari sejarah, kebiasaan, dan nilai-nilai yang diwariskan oleh generasi sebelumnya. Oleh karena itu, dalam situasi bencana, ketika benda-benda tersebut tersapu banjir dan hilang, yang lenyap bukan hanya harta benda, tetapi juga jejak peradaban sebuah kebudayaan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam kondisi luar biasa (abnormal) akibat bencana, diperlukan upaya pembendungan atau langkah mitigasi untuk menjaga agar kebudayaan tetap diingat dan dipulihkan. Upaya ini juga penting sebagai pengingat bagi para pendatang, termasuk donatur dan relawan, agar proses pembangunan kembali tidak mengabaikan nilai-nilai budaya masyarakat setempat. Hal ini menjadi penting karena benda-benda tersebut merupakan bagian dari peradaban suatu kebudayaan.

Dalam konteks tanggap bencana di Tanoh Gayo, penulis yang terlibat langsung sebagai relawan sekaligus observer aktif menyaksikan secara nyata kerusakan berbagai aset kebudayaan. Dari hasil pengamatan tersebut, terdapat dua bentuk kebudayaan yang terdampak, yaitu kebudayaan fisik yang tampak dan kebudayaan nonfisik yang tidak tampak. Kebudayaan fisik yang tampak, antara lain, adalah bangunan dan kuliner tradisional.

Selama berada di Tanoh Gayo, penulis mengamati secara langsung bahwa terdapat kebudayaan arsitektur yang khas, seperti bangunan menasah atau musala di setiap wilayah kampung yang dipimpin oleh seorang reje. Bangunan menasah di Gayo umumnya memiliki bentuk atap bersegi menyerupai piramida. Selain itu, rumah adat Gayo Umah Pitu Ruang juga menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat.

Dalam menyikapi kebencanaan atau mitigasi bencana, fokus penulis adalah pada upaya penyelamatan potensi kebudayaan lokal. Pemulihan pascabencana idealnya dipandu oleh para ahli agar para donatur dapat membantu merekonstruksi fasilitas yang hilang dengan tetap menjaga dan mengadopsi konsep budaya setempat.

Dalam kapasitas sebagai observer aktif, penulis turut memandu para donatur dalam pembangunan sarana peribadatan dengan pendekatan local genius. Hasilnya, bangunan Masjid Siaga sumbangan dari Masjid Nusantara dapat terbangun dengan baik tanpa meninggalkan kearifan lokal. Di Desa Uning Mas, penulis mengarahkan konsep dan rancang bangun menasah darurat dengan mengadaptasi konsep rumah adat Umah Pitu Ruang. Keinginan awal untuk membangun masjid sementara dengan kubah piramida belum dapat terwujud karena keterbatasan waktu, sehingga model Umah Pitu Ruang dipilih sebagai prototipe terdekat pembangunan Masjid Siaga di Desa Uning Mas, Kabupaten Bener Meriah.

Selain arsitektur, aspek kebudayaan lain yang diamati penulis adalah kuliner khas Gayo. Momentum kebencanaan ini berdekatan dengan bulan suci Ramadan, di mana masyarakat Aceh memiliki tradisi meugang atau munggeh, yakni kebiasaan menyantap hidangan berbahan dasar daging sebagai tradisi turun-temurun.

Dalam situasi bencana ini, penulis berkesempatan mencicipi beberapa makanan khas Gayo, seperti gutet (talas kukus yang diikat dengan daun). Dari pengalaman tersebut, penulis menarik kesimpulan bahwa pemulihan pascabencana harus pula memberi perhatian serius pada keberlanjutan kuliner tradisional sebagai bagian dari identitas budaya.

Di beberapa wilayah terdampak bencana, penulis mengamati bahwa para donatur telah melaksanakan program masak besar dengan bahan baku daging sapi atau kerbau. Program ini dapat menjadi sarana pemulihan sosial dan budaya apabila para relawan lokal turut memandu agar menu yang disajikan tidak meninggalkan tradisi kuliner setempat.

Beberapa makanan khas Gayo yang berbahan dasar daging antara lain Cecah Reraya atau Cecah Kekulit, Ayam Sengeral, Cecah Menet, dan Masam Jing. Kuliner Gayo dikenal dengan penggunaan kelapa gongseng dan teknik memasak tradisional yang menghasilkan cita rasa khas dan menjadi bagian penting dari tradisi adat masyarakat.

Harapan penulis, dalam situasi kebencanaan ini, pengawasan terhadap seluruh aset kebudayaan daerah perlu mendapatkan perhatian serius dari semua pihak yang terlibat dalam pemulihan pascabencana. Jika tidak disikapi secara bijak, bukan tidak mungkin pengalaman buruk kehilangan aset kebudayaan akan terulang kembali, sebagaimana yang pernah terjadi pascatsunami Aceh tahun 2004.

Berita Terkait

Tahu Wajib Zakat, Mengapa Masih Enggan Membayar ?
Keracunan Massal MBG di Bener Meriah, Liputan Wartawan Dihambat Oknum TNI
Ribuan Jemaah Padati Masjid Al-Falah Pondok Baru, Maulid Nabi Berlangsung Khidmat
Dua Pelajar di Bener Meriah Ditetapkan Sebagai Tersangka Kasus Kekerasan Terhadap Anak
Prof Sutan Nasomal Soroti Ijazah Hilang: Harus Diperkuat LP Polisi dan Nomor Registrasi
Polres Bener Meriah Selidiki Dugaan Penganiayaan Pelajar yang Viral di Media Sosial
Siswa SMAN Unggul Binaan Bener Meriah Diduga Dikeroyok Kakak Kelas, Korban Dirawat di Rumah Sakit
Viral! Pemuda Aceh Jadi Sorotan Setelah Cerita Pengalaman Bermain Slot Gacor yang Mengejutkan

Berita Terkait

Rabu, 16 September 2026 - 03:48 WIB

Cukai Rokok yang Melempem dan Labirin Bisnis Ilegal yang Melanggeng

Rabu, 16 September 2026 - 03:44 WIB

Purbaya Diduga Ngotot Tarik Setoran Ratusan Triliun dari Danantara untuk Tambal APBN

Rabu, 16 September 2026 - 03:41 WIB

Polemik Setoran Rp 120 Triliun, CEO Danantara Akan Temui Menteri Keuangan

Rabu, 16 September 2026 - 03:37 WIB

Bahaya Zona Abu-abu: Menggugat Transparansi Aliran Keuntungan BUMN Pasca-Transisi

Rabu, 16 September 2026 - 03:28 WIB

Menakar Beban Fiskal, Danantara Buka Suara Terkait Isu Setoran Rp 120 Triliun

Rabu, 16 September 2026 - 03:23 WIB

Keberatan Setor Rp 120 T ke Negara, Danantara Bakal Bicarakan Nasib Dividen dengan Menkeu Baru

Rabu, 16 September 2026 - 03:17 WIB

Mengapa Purbaya Diganti? Menguji Kepercayaan di Balik Rotasi Kursi Bendahara Negara

Rabu, 16 September 2026 - 03:13 WIB

KPK Dalami Keterlibatan Menteri ATR/BPN Nusron Wahid dalam Pusaran Suap HGB Summarecon

Berita Terbaru