BANDA ACEH, 20 Desember 2025 — PT Pertamina (Persero) melalui Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) terus mempercepat upaya pemulihan distribusi energi di wilayah terdampak bencana di Provinsi Aceh. Salah satu fokus utama ialah memastikan ketersediaan gas LPG subsidi 3 kilogram tetap terjamin bagi masyarakat, khususnya di Banda Aceh dan wilayah sekitarnya yang mengalami dampak langsung.
Saat ini, jumlah penyaluran harian LPG subsidi 3 kg di wilayah Banda Aceh meningkat menjadi 20 metrik ton (MT) per hari, lebih tinggi dari rata-rata harian pada kondisi normal. Sementara itu, secara keseluruhan di 22 kabupaten dan kota di Aceh, Pertamina mencatat penyaluran rata-rata mencapai 366 MT per hari selama masa bencana. Angka tersebut menunjukkan peningkatan sebesar 40 persen dari kondisi normal, di mana rerata penyaluran hanya mencapai 261 MT per hari.
Peningkatan pasokan tidak hanya terjadi pada LPG subsidi, melainkan juga pada LPG nonsubsidi, seperti LPG 12 kg. Secara kumulatif, permintaan produk nonsubsidi juga meningkat sekitar 40 persen dibandingkan masa normal.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, Fahrougi Andriani Sumampouw, menjelaskan bahwa percepatan distribusi LPG merupakan bentuk kehadiran negara dalam menjamin pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat, terutama pada masa-masa sulit pascabencana.
“Prioritas Pertamina saat ini adalah memastikan bahwa energi dan bantuan kemanusiaan hadir tepat waktu, tepat sasaran, serta mengutamakan aspek keselamatan,” ujar Fahrougi.
Ia menambahkan, stok LPG di Aceh saat ini dalam kondisi aman dan mencukupi. Namun demikian, tantangan utama justru terletak pada proses distribusi, mengingat beberapa akses jalan masih rusak berat dan jembatan terputus akibat bencana alam yang melanda sejumlah daerah. Untuk itu, distribusi LPG dilakukan melalui kombinasi moda transportasi darat, laut, dan udara, serta dengan menjajaki skema jalur alternatif demi menjangkau seluruh wilayah dengan seefisien mungkin.
Pertamina juga menggencarkan pelaksanaan operasi pasar LPG 3 kg di sejumlah titik padat penduduk, sebagai langkah nyata untuk menstabilisasi pasokan dan harga, sekaligus meredam potensi kepanikan masyarakat. Operasi pasar ini menjadi bagian penting dari strategi pemerataan distribusi yang terintegrasi dengan program kemanusiaan Pertamina dalam kerangka pemulihan pascabencana.
“Kami berharap dengan adanya operasi pasar ini dapat meredakan panic buying yang sempat terjadi di beberapa titik. Kami juga ingin mencegah timbulnya praktik spekulasi harga atau penimbunan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab,” jelas Fahrougi.
Sebagai langkah pengawasan, Pertamina terus bekerja sama dengan pemerintah daerah, aparat TNI/Polri, serta lembaga-lembaga terkait lainnya. Koordinasi ini penting dilakukan untuk memastikan distribusi LPG subsidi 3 kg tetap tepat sasaran dan tidak disalahgunakan. Fahrougi menekankan bahwa LPG subsidi merupakan barang yang ditujukan bagi masyarakat kurang mampu, sehingga pengawasannya menjadi bagian dari tanggung jawab bersama.
“Kami berterima kasih kepada Pemerintah setempat, TNI/Polri, aparat penegak hukum, Bakom RI, media, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan yang telah mendukung Pertamina dalam menjaga pasokan energi bagi masyarakat Aceh,” ujarnya.
Pertamina turut mengimbau kepada masyarakat untuk aktif melaporkan bila menemukan dugaan penyalahgunaan LPG 3 kg. Laporan dapat ditujukan melalui Pertamina Contact Center 135. Seluruh aduan akan ditindaklanjuti sesuai prosedur, sebagai wujud kolaborasi dalam menjaga hak masyarakat terhadap energi bersubsidi.
Langkah-langkah ini merupakan bagian dari komitmen Pertamina sebagai BUMN yang tidak hanya berorientasi pada layanan energi, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial dalam menjamin ketahanan energi masyarakat, terutama saat krisis dan bencana. Upaya ini juga mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan serta transisi energi ke depan secara bertahap dan merata. (red)




































