Banda Aceh — Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah, menyambut kedatangan Ustaz Abdul Somad (UAS) di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda, Blang Bintang, Kabupaten Aceh Besar, Kamis (25/12). Kehadiran penceramah kondang tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan peringatan 21 tahun bencana gempa dan tsunami Aceh yang dipusatkan di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh.
UAS tiba sekitar pukul 15.00 WIB menggunakan penerbangan Garuda Indonesia melalui terminal VIP. Di ruang kedatangan, Wakil Gubernur bersama sejumlah tokoh dan pejabat daerah menyambut ulama yang dikenal dengan dakwah bernuansa kebangsaan dan keumatan tersebut. Hadir pula Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, serta jajaran Pemerintah Aceh dan Pemerintah Kota Banda Aceh. Usai penyambutan, UAS melanjutkan perjalanan menuju pusat kota Banda Aceh untuk mengisi kegiatan utama dalam rangkaian agenda peringatan.
Kehadiran UAS dalam peringatan ini menjadi bagian penting dari upaya reflektif atas peristiwa maha dahsyat yang menimpa Aceh pada 26 Desember 2004. Gelombang tsunami yang ditimbulkan oleh gempa berkekuatan besar menghancurkan sebagian besar wilayah pesisir dan merenggut lebih dari seratus ribu nyawa di Tanah Rencong. Bencana ini menjadi salah satu tragedi kemanusiaan terbesar dalam sejarah Indonesia modern.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sejak saat itu, setiap tahun masyarakat Aceh, bersama pemerintah daerah dan berbagai elemen masyarakat sipil, memperingati hari tersebut sebagai bentuk penghormatan terhadap para korban yang telah gugur, sekaligus sebagai momentum pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan terhadap bencana alam. Peringatan yang diselenggarakan pada akhir tahun juga diisi dengan doa bersama, tausiah, serta refleksi spiritual yang diadakan di berbagai titik, dengan pusat kegiatan secara nasional di Masjid Raya Baiturrahman.
Masjid Raya yang berdiri kokoh di jantung kota Banda Aceh tak hanya menjadi saksi sejarah bencana, tetapi juga simbol kebangkitan Aceh dari keterpurukan pascatsunami. Bangunan berarsitektur khas tersebut pernah menjadi tempat berlindung bagi warga yang selamat dari terjangan ombak, dan kini menjadi pusat kegiatan keagamaan, kebudayaan, dan kebencanaan di Aceh. Dalam peringatan kali ini, Masjid Raya kembali menjadi lokasi utama pelaksanaan doa dan perenungan, dipadati warga dari berbagai penjuru daerah.
Kehadiran UAS, menurut penyelenggara, diharapkan dapat memberikan penguatan moral dan spiritual kepada masyarakat, sekaligus memperkuat nilai-nilai kebersamaan yang tumbuh di tengah proses pemulihan pasca bencana. Tausiah yang akan disampaikannya diniatkan sebagai pengingat bahwa musibah yang pernah melanda dapat dijadikan pijakan untuk bertumbuh, serta mempererat ikatan sosial di antara sesama.
Pemerintah Provinsi Aceh juga memanfaatkan momen ini untuk kembali mengingatkan pentingnya pembangunan berbasis mitigasi bencana dan upaya pendidikan kebencanaan secara berkelanjutan. Dalam dua dekade terakhir, Aceh bertransformasi menjadi salah satu daerah dengan sistem manajemen bencana yang terus dikembangkan, baik melalui kerja sama nasional maupun internasional. Namun demikian, tantangan pemulihan dan penguatan kapasitas masyarakat tetap menjadi pekerjaan rumah yang harus dijawab secara serius dan kolaboratif.
Peringatan 21 tahun tsunami Aceh tidak hanya menjadi agenda ritual tahunan, tetapi juga ruang kontemplasi bersama agar peristiwa serupa tidak lagi menimbulkan korban dalam skala besar. Dalam suasana khidmat yang menyelimuti peringatan tahun ini, masyarakat diajak untuk terus menghidupkan nilai-nilai kepedulian, solidaritas, dan kesadaran akan pentingnya hidup selaras dengan potensi risiko alam yang ada di sekitar.[*]






































