SURABAYA – Pengamat politik Rocky Gerung menekankan pentingnya orisinalitas pemikiran di tengah masifnya penggunaan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam berbagai sektor kehidupan, termasuk dalam upaya pemberantasan korupsi. Hal tersebut ia sampaikan dalam acara What’s Up Kemenkum – Campus Calls Out UNAIR! yang berlangsung di Universitas Airlangga pada Kamis, 17 September 2026.
Dalam paparannya, Rocky membagikan pengalaman pribadinya saat mencoba memberikan perintah atau prompt kepada AI mengenai strategi pemberantasan korupsi. Menurut Rocky, sistem AI tersebut menuntut detail kasus yang spesifik sebelum dapat memberikan solusi parameter yang tepat. Ketika ia menetapkan lokasi pemberantasan korupsi di Solo, AI merespons dengan pertanyaan yang lebih tajam mengenai detail geografis wilayah tersebut. Proses ini, menurut Rocky, membuktikan bahwa AI tidak mampu memberikan jawaban abstrak dan sangat bergantung pada data lokal yang konkret.
Lebih lanjut, Rocky menyoroti tantangan global saat ini di mana dunia mengalami surplus intelektual namun mengalami defisit orisinalitas. Ia mengimbau para akademisi, khususnya mahasiswa yang sedang menyusun disertasi, untuk tetap menempatkan ide orisinal sebagai fondasi utama. Meski teknologi dapat membantu proses riset, ia mengingatkan bahwa orisinalitas pemikiran merupakan kunci untuk memenangkan persaingan global yang saat ini didominasi oleh negara-negara seperti Tiongkok, Jepang, dan Amerika Serikat melalui inovasi paten.
Menutup diskusinya, Rocky menekankan bahwa kampus seharusnya menjadi komunitas pemikir yang berani melakukan perdebatan substansial. Ia berharap institusi pendidikan tinggi tidak hanya terjebak dalam pragmatisme birokrasi atau sekadar mengejar pemenuhan administratif, melainkan mampu melahirkan argumen yang mampu menembus kebuntuan politik. Menurutnya, riset dan inovasi harus diarahkan untuk melahirkan kemungkinan-kemungkinan baru bagi masa depan bangsa, sebagaimana semangat yang pernah ditunjukkan para pendiri negara dalam membangun Indonesia. (*)










































