Banda Aceh — Ribuan warga memadati pelataran Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Jumat (24/12), dalam momen peringatan 21 tahun tsunami Aceh yang sekaligus diisi dengan doa bersama untuk korban bencana banjir dan tanah longsor yang saat ini melanda sejumlah wilayah di Aceh. Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah, bersama para alim ulama, unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Aceh, jajaran Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA), serta tokoh masyarakat.
Suasana khidmat mewarnai seluruh rangkaian acara, yang dibuka dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an, dilanjutkan doa bersama serta tausiah yang disampaikan oleh Ustaz Abdul Somad (UAS). Dalam kesempatan tersebut, masyarakat tak hanya kembali mengenang peristiwa gempa dan tsunami 26 Desember 2004 yang menewaskan ratusan ribu jiwa, namun juga diajak berdzikir dan berdoa bagi para korban bencana alam terkini, termasuk warga yang terdampak banjir dan tanah longsor di berbagai kabupaten/kota di Aceh dalam beberapa pekan terakhir.
Dalam sambutannya, Wakil Gubernur Fadhlullah mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan peringatan tahunan bencana tsunami ini sebagai momentum refleksi diri yang menyeluruh, mendorong lahirnya semangat gotong-royong, memperkuat nilai keimanan, dan mempertebal kepedulian sosial terhadap sesama. Ia berharap, peringatan yang bukan sekadar seremonial ini mampu memberikan kekuatan batin bagi masyarakat Aceh yang kini sedang diuji kembali oleh bencana.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Mudah-mudahan tausiah dari Ustaz Abdul Somad dapat menjadi penyejuk hati dan semangat kebangkitan masyarakat Aceh,” ujar Fadhlullah dalam sambutannya di hadapan jamaah yang memadati area dalam dan luar masjid.
Fadhlullah juga mengingatkan pentingnya kebersamaan dan keutuhan masyarakat Aceh, terlebih di tengah kondisi yang penuh tantangan. Ia menyoroti peristiwa keributan yang sempat terjadi antara aparat keamanan dan warga di beberapa daerah, termasuk Aceh Utara, Lhokseumawe, serta Aceh Timur pada 25 Desember lalu. Insiden tersebut terjadi saat proses distribusi bantuan dan penanganan korban bencana dilakukan secara masif oleh berbagai pihak.
Menanggapi hal ini, Fadhlullah secara tegas menyerukan agar seluruh pihak mengedepankan sikap bijak dan menahan diri. Ia mengingatkan bahwa dalam kondisi bencana, solidaritas dan simpati kemanusiaan harus dikedepankan. Ia meminta TNI/Polri memastikan pendekatan humanis dalam setiap langkah di lapangan, sembari mengajak masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi dan tetap menjaga semangat persatuan.
“Kami berharap TNI/Polri bisa menahan diri dalam situasi ini, dan kepada masyarakat, mari bersatu dalam misi kemanusiaan. Mari jaga kekompakan untuk membantu saudara-saudara kita yang sedang menghadapi musibah,” ujarnya di hadapan para tokoh daerah.
Sementara itu, dalam tausiahnya, Ustaz Abdul Somad menekankan pentingnya membangun kekuatan ruhani dan karakter bangsa melalui ujian-ujian bencana yang datang silih berganti. Ia menyebut masyarakat Aceh sebagai bangsa pejuang, yang telah teruji sejarah dalam menghadapi gelombang ujian — baik sosial, politik, maupun alam.
“Orang Aceh sedang ditanam untuk bertumbuh. Mari kita jaga Aceh, mari jaga anak-anak kita, mari tegakkan amar ma’ruf nahi mungkar di bumi Aceh,” kata UAS dalam ceramahnya.
UAS juga menyinggung pentingnya pendidikan moral dan agama bagi generasi muda, serta mendorong masyarakat untuk senantiasa menjaga nilai-nilai yang memperkuat hubungan sosial dan keagamaan di tengah dinamika kehidupan modern. Menurutnya, dari bencana, selalu ada kesempatan untuk bertumbuh, dan Aceh telah menunjukkan itu selama dua dekade terakhir.
Dalam kesempatan yang sama, UAS turut menyerahkan bantuan kemanusiaan berupa satu ton daging rendang dari Yayasan Tabung Wakaf Umat. Bantuan tersebut ditujukan bagi keluarga terdampak banjir di beberapa wilayah Aceh, dan rencananya akan disalurkan langsung melalui jaringan relawan dan lembaga kemanusiaan lokal.
Peringatan 21 tahun tsunami Aceh tahun ini tidak hanya menjadi ruang doa bagi para syuhada yang gugur dalam tragedi 2004, tetapi juga pengingat akan pentingnya kesiapan masyarakat dalam menghadapi risiko bencana ke depan. Pemerintah Aceh bersama tokoh agama dan masyarakat luas diingatkan untuk terus membangun tata kelola kebencanaan yang berbasis edukasi, mitigasi, dan penguatan komunitas lokal. Dalam pertemuan yang diliputi rasa haru dan solidaritas, masjid raya kembali menjadi saksi kokohnya spirit kemanusiaan Aceh.[*]







































