Nepal, Indonesia, dan Modus Baru Pembunuhan Demokrasi

Redaksi Bara News

- Redaksi

Rabu, 17 September 2025 - 22:51 WIB

50225 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penulis : Sri Radjasa, M.BA (Pemerhati Intelijen)

KERUSUHAN di Nepal dan Indonesia pada tahun 2025 bukan sekadar gejolak politik biasa, tapi menyingkap krisis legitimasi dan kepercayaan pada demokrasi dari generasi muda, terutama Gen Z. Data ekonomi dan survei menunjukkan bahwa kerusuhan ini bukan hawa panas sesaat, melainkan akumulasi kegagalan sistem yang mulai “mematikan” demokrasi, bukan lewat kudeta, tetapi lewat keputusasaan kolektif.

Di Nepal, gelombang protes Gen Z yang paling mematikan sejak beberapa dekade terakhir telah menelan korban jiwa puluhan orang dan ribuan luka-luka. Sektor pariwisata yang menyumbang sekitar 8% dari PDB Nepal juga mengalami pukulan telak, dimana angka kunjungan turis turun 30% dibanding tahun sebelumnya. Hotel-hotel mewah tak luput dari kerusakan, dimana Industri perhotelan diperkirakan kehilangan 25 miliar rupee Nepal (US$190 juta) karena vandalisme, pembakaran, dan pengrusakan. Lebih dari 10.000 orang kehilangan pekerjaan secara mendadak akibat kerusakan di hotel, restoran, dan sektor retail di kota-kota besar.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sementara di Indonesia, kerusuhan yang dipicu oleh isu tunjangan besar anggota parlemen dan ketidaksetaraan makin menyulut kemarahan publik. Contohnya, unjuk rasa di Jakarta dari tanggal 25 sampai 29 Agustus 2025 menyebabkan kerusakan infrastruktur publik senilai Rp55 miliar atau sekitar US$3,2–3,6 juta, termasuk fasilitas MRT, halte TransJakarta, dan kamera pengawas yang dirusak. Di sisi lain, estimasi kerusakan properti di seluruh Indonesia akibat kerusuhan mencapai Rp900 miliar atau setara US$55 juta.

Secara institusional, survei memperlihatkan bahwa publik di Indonesia masih memiliki kepercayaan tinggi terhadap beberapa lembaga, tetapi kepercayaan ini tidak merata dan mulai terkikis ketika menyangkut partai politik, legislatif, dan elite yang dianggap korup. Sebagai contoh, survei oleh Indonesia Political Opinion (IPO) Mei 2025 menunjukkan bahwa presiden dan militer (TNI) memiliki tingkat kepercayaan yang sangat tinggi yakni 97,5% untuk presiden, dan 92,8% untuk militer, sementara institusi legislatif dan partai politik tidak mendapat sorotan kepercayaan sebesar itu.

Apa makna semua ini dalam konteks “pembunuhan demokrasi”? Pertama, angka kerusakan ekonomi sangat besar, baik di Nepal maupun Indonesia, tidak hanya sebagai efek samping demonstrasi, tetapi sebagai cermin bahwa rakyat terutama Gen Z mulai menghitung bahwa “biaya diam” terlalu mahal. Kedua, kepercayaan pada institusi formal yang seharusnya menjadi perantara demokrasi baik legislatif, eksekutif yang bersih, keadilan tampaknya runtuh di mata generasi muda, bila institusi tak mampu mewujudkan keadilan dan kesejahteraan, maka legitimasi mereka pun dipertanyakan.

Ketiga, pola tanpa pemimpin tunggal, bergerak melalui jejaring sosial, munculnya provokator, serta aksi yang cepat meluas. Semua ini memperlihatkan bahwa Gen Z tidak lagi menunggu kanal politik tradisional. Mereka melihat bahwa kanal tersebut telah dibajak oleh elite yang menempatkan keuntungan pribadi dan kekuasaan di atas kepentingan umum. Sekaligus, mereka memandang bahwa demokrasi prosedural yaitu pemilu, slogan kebebasan, keterbukaan yang telah kehilangan substansi jika tidak disertai akuntabilitas dan rasa keadilan yang nyata.

Sedangkan filosofi politik klasik seperti Rousseau tentang kontrak sosial dan Plato tentang bahaya demokrasi yang tidak stabil kembali relevan. Bila kontrak sosial dilanggar terus menerus, bila demokrasi hanya jadi fasad, maka reaksi rakyat terutama generasi yang paling mendengar ini janji bukan reformasi biasa, melainkan semacam ruptur yang revolusi emosional dan eksistensial.

Untuk mencegah “kematian demokrasi karena keputusasaan”, elite politik harus bergerak cepat dengan bukti konkret berupa pengurangan tunjangan yang berlebihan, transparansi publik anggaran dan aset milik elit, tindakan nyata atas kekerasan aparat, perlindungan hukum yang adil, dan mekanisme kompensasi atas kerusakan ekonomi yang ditimbulkan oleh kerusuhan, bukan sekadar janji.

Berita Terkait

Perkuat Ekonomi Hijau, Jamaluddin Idham Salurkan Ribuan Bibit Produktif di Nagan Raya dan Aceh Barat
Ipelmasra Nyatakan Sikap Soal Investasi Rp200 Triliun di Nagan Raya: Dukung Pembangunan, Tolak Rakyat Jadi Penonton
Bank Aceh Cabang Jeuram Kembali Terima Penghargaan atas Kepatuhan Menunaikan Zakat dan Infak
Komunitas Atraksi Singa Nagan Dukung Investasi Rp 200 Triliun, Optimis Tatap Prospek Masa Depan Nagan Raya
Asah Ketangkasan dan Kedisiplinan, Menwa UTU Gelar Latihan Menembak di Lapangan Tembak Yonif 116/GS
Kritik, Evaluasi, dan Harapan: Menatap Peran Baitul Mal Secara Objektif
MBG, Korupsi, Dan Pengkhianatan Dari Lingkar Kekuasaan
RAPI Wilayah Nagan Raya Apresiasi Capaian Opini WTP ke-18 Pemkab Nagan Raya

Berita Terkait

Senin, 15 Juni 2026 - 06:25 WIB

Profesor Sutan Nasomal Sangat Yakin Presiden Prabowo Tutup Semua Pintu Setan Hanya Pintu Keadilan Untuk Rakyat Indonesia!!!

Minggu, 14 Juni 2026 - 02:36 WIB

BEM UI Bantah Demo Tanpa Pemberitahuan, Klaim Surat ke Polisi Sudah Dikirim

Sabtu, 13 Juni 2026 - 08:48 WIB

Vendor Motor Listrik Jadi Tersangka, Dugaan Korupsi Program Makan Bergizi Gratis Makin Meluas

Jumat, 12 Juni 2026 - 22:20 WIB

Aksi Ribuan Mahasiswa Indonesia di Jakarta Disorot Media Asing, Protes soal Kebijakan Ekonomi Pemerintah

Jumat, 12 Juni 2026 - 07:14 WIB

Sidang Kasus Chromebook: Nadiem Makarim Kritik Replik Jaksa, Dukungan Moral Publik Menguat

Jumat, 12 Juni 2026 - 07:03 WIB

Ahli Bantah Tuduhan Tidak Independen dalam Kasus Dugaan Korupsi Chromebook

Kamis, 11 Juni 2026 - 19:29 WIB

KPK Bongkar Fee Rp1,6 Miliar untuk Ubah Audit Muara Enim, Lima Orang Ditahan

Kamis, 11 Juni 2026 - 19:25 WIB

Demi Mengejar WTP, Bupati Muara Enim Diduga Suap Audit BPK, KPK Tetapkan Lima Tersangka

Berita Terbaru