Bendera Putih Berkibar di Aceh, Tanda Warga Menyerah Dihantam Bencana

Redaksi Bara News

- Redaksi

Selasa, 16 Desember 2025 - 01:36 WIB

501,063 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BANDSA ACEH – Sejumlah bendera putih terlihat terpasang di sepanjang jalan lintas Sumatera yang menghubungkan Kabupaten Aceh Tamiang dengan Kota Langsa, Provinsi Aceh, pada Senin, 15 Desember 2025. Bendera-bendera itu mulai dikibarkan warga sejak Rabu malam, 10 Desember lalu. Tidak seperti biasanya, bendera putih yang biasanya menjadi simbol damai atau duka, kali ini mengandung pesan yang lebih dalam—simbol kepasrahan. Masyarakat di sekitar wilayah ini menggunakan bendera putih sebagai penanda bahwa mereka telah berada di titik menyerah menghadapi dampak bencana yang terus mendera tanpa penanganan yang memadai.

Pemandangan ini memunculkan keprihatinan mendalam. Di sisi kiri dan kanan jalan terlihat kain putih terpasang pada tiang bambu, pohon, bahkan beberapa pagar rumah yang menghadap langsung ke jalan provinsi tersebut. Ukuran bendera pun bervariasi, mulai dari sapu tangan putih hingga kain sepanjang satu meter. Pemasangan ini dilakukan secara swadaya oleh masyarakat yang terdampak banjir bandang dan tanah longsor dalam beberapa pekan terakhir, yang menyebabkan ratusan rumah terendam, mata pencaharian warga lumpuh, dan akses ke layanan dasar menjadi terganggu.

Sejumlah warga yang ditemui mengatakan, pemasangan bendera putih ini merupakan bentuk ungkapan bahwa mereka sudah tidak bisa lagi bertahan dengan kondisi yang ada. Banyak di antara mereka yang kehilangan rumah, lahan pertanian, serta kendaraan yang terbawa arus air. Di beberapa titik, jalan nasional bahkan sempat terputus akibat genangan banjir dan material longsoran. Bantuan dari pemerintah, menurut pengakuan sejumlah warga, masih minim dan belum menyentuh keseluruhan korban. Hingga pertengahan Desember ini, sebagian besar bantuan yang diterima hanya berasal dari inisiatif komunitas lokal dan relawan kemanusiaan.

Warga di beberapa desa seperti Paya Bedi, Alur Manis, dan Sungai Liput mengatakan bahwa mereka sudah hampir dua minggu bertahan di tempat pengungsian seadanya dengan persediaan makanan yang mulai menipis. Anak-anak sakit karena cuaca yang tidak menentu dan kurangnya sanitasi bersih. Sejumlah orang tua kehilangan pekerjaan karena usaha pertanian dan peternakan yang mereka jalankan turut terdampak banjir. Sebagian pengungsi mulai tinggal di tenda darurat, menggunakan terpal yang disumbangkan sukarelawan, atau memilih mengungsi ke rumah kerabat di daerah yang lebih tinggi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bendera putih itu juga terpantau terpasang di beberapa pos ronda, warung, dan kendaraan yang diparkir di pinggir jalan, menunjukkan luasnya sebaran penderitaan masyarakat di kawasan tersebut. Para sopir truk yang melewati wilayah ini pun turut menyampaikan simpatinya, beberapa di antaranya rela berhenti sejenak untuk memberi makanan ringan dan air minum kepada anak-anak di posko pengungsian.

Para tokoh masyarakat lokal menyebut bahwa pemasangan bendera putih merupakan salah satu bentuk komunikasi sosial yang diharapkan bisa menyentuh hati para pemangku kebijakan untuk hadir dan segera memberikan solusi yang konkret. Bukan hanya evakuasi sementara, melainkan juga pendampingan jangka panjang untuk membangkitkan kembali kehidupan warga pascabencana. Mereka menilai bahwa selama ini respons terhadap bencana bersifat reaktif dan belum menyentuh akar persoalan seperti kerusakan lingkungan, pembangunan yang tidak ramah ekosistem, dan lemahnya edukasi tanggap darurat kepada masyarakat.

Di tengah sorotan pada bendera putih yang menyelimuti jalan lintas Sumatera ini, muncul juga perdebatan tentang bagaimana seharusnya pemerintah dan semua elemen masyarakat bergerak bersama menghadapi eskalasi bencana yang kian sering terjadi seiring perubahan iklim. Aceh Tamiang dan Langsa adalah dua wilayah yang secara geografis berada dalam zona rawan banjir dan longsor, terlebih di musim penghujan. Namun, sebagian warga mempertanyakan kesiapan infrastruktur dan mitigasi bencana yang seharusnya dijalankan secara teratur.

Sampai berita ini diturunkan, cuaca ekstrem masih terus terjadi di beberapa wilayah Aceh bagian timur, termasuk Aceh Tamiang dan Langsa. BPBD setempat menyampaikan bahwa status siaga darurat masih berlaku hingga akhir pekan ini. Namun, masyarakat berharap lebih dari sekadar status. Mereka mendambakan tindakan nyata, pemulihan segera, dan jaminan kehidupan yang lebih baik setelah semua yang hilang akibat bencana. Bendera putih kini bukan hanya simbol kekalahan, tetapi juga panggilan agar suara mereka didengar di tengah gemuruh hujan dan desingan angin yang belum juga reda.

Berita Terkait

Kantor Wilayah Bea Cukai Aceh Catatkan Kinerja Positif Tahun 2025
Tidak Pernah Duduk Bersama Fakultas dan Ormawa USK, MWA Perwakilan Mahasiswa Dinilai Mengabaikan Aspirasi Mahasiswa dalam Pemilihan Rektor
Prodi Akuntansi FE USM Gelar PKM Pendampingan Penyusunan Laporan BUMG Gampong Lampaseh Kota
Ketua SAPA: Banjir dan Longsor Aceh Harus Jadi Momentum Pembenahan Tata Kelola Lingkungan, DPRA Didesak Bentuk Pansus Lingkungan
Menkeu RI Kunjungi Kanwil DJBC Aceh
Perpecahan Guncang IMAPPESBAR: Faji Amin Dinilai Tidak Kompeten, Muncul Gerakan Mosi Tidak Percaya terhadap PLT Agim Jipima
Pemprov Aceh Perpanjang Status Tanggap Darurat Banjir dan Longsor untuk Ketiga Kalinya
PIKABAS Bank Aceh Salurkan Bantuan Kemanusiaan dan Layanan Kesehatan Spesialis bagi Korban Banjir Aceh

Berita Terkait

Kamis, 15 Januari 2026 - 08:30 WIB

Wakapolres Gayo Lues Pimpin Langsung Pergantian Pasukan dalam Kegiatan Bakti Sosial di Kampung Pining

Kamis, 15 Januari 2026 - 05:38 WIB

Sosok Humanis Kapolda Aceh, Irjen Pol Marzuki Alibasyah Hadir dengan Doa dan Kepedulian

Kamis, 15 Januari 2026 - 05:37 WIB

Dana Darurat Rp24 M Mandek, Pemko Subulussalam Dikecam: Jangan Jual Kemiskinan & Bencana!

Minggu, 11 Januari 2026 - 20:59 WIB

Sebanyak 519 Keluarga Terdampak Bencana di Gayo Lues Terima Dana Tunggu Hunian

Sabtu, 10 Januari 2026 - 21:16 WIB

Kapolres Gayo Lues Pimpin Aksi Kemanusiaan dalam Pemulihan Fasilitas Umum Pascabencana di Kecamatan Pining

Rabu, 7 Januari 2026 - 20:28 WIB

Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh mengerahkan 70 Relawan untuk membersihkan SMPN 5 Karang Baru Aceh Tamiang

Senin, 5 Januari 2026 - 01:29 WIB

BWS Sumatera I Kerahkan Alat Berat untuk Pemulihan Pascabanjir di Aceh

Senin, 5 Januari 2026 - 01:27 WIB

Balai Besar Wilayah Sungai Mesuji Sekampung Salurkan Bantuan untuk Wilayah Terdampak Bencana di Aceh

Berita Terbaru

ACEH TENGGARA

Sejumlah Aktifis Temukan Bantuan Menumpuk di Gudang BPBD Agara

Jumat, 16 Jan 2026 - 21:39 WIB