Jayapura – Lebih dari seratus siswa di Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, Papua, menjalani perawatan intensif setelah mengalami gejala keracunan usai mengonsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG). Para siswa yang berasal dari delapan kampung tersebut dilarikan ke sejumlah fasilitas kesehatan sejak Rabu (5/8/2026) malam akibat keluhan sakit perut, mual, muntah, diare, dan demam.
Kejadian ini bermula ketika keluarga siswa melaporkan gejala yang dialami anak-anak mereka usai menerima MBG di lingkungan sekolah. Sebagian besar pasien semula mendapat perawatan di Puskesmas Depapre, namun sejumlah kasus dengan gejala berat harus dirujuk ke RSUD Yowari, RSUP Jayapura, serta beberapa puskesmas di Distrik Waibu, Sentani, dan Sentani Timur. Pemeriksaan lebih lanjut dilakukan secara menyeluruh oleh tenaga medis pada setiap fasilitas kesehatan yang menerima pasien.
Bupati Jayapura, Yunus Wonda, langsung meninjau sejumlah kampung di Distrik Depapre pada hari kejadian. Ia menyatakan, hingga Rabu malam, masih ditemukan siswa dengan gejala serupa, terutama dari Kampung Doromena. Para siswa yang belum membaik segera dievakuasi ke pusat layanan kesehatan terdekat untuk mendapat penanganan lanjutan.
Bupati Yunus memastikan tidak ada korban meninggal dunia dalam insiden ini. Seluruh pasien memperoleh perawatan oleh tim medis puskesmas dan rumah sakit, serta kebutuhan makanan dan minuman bagi pasien maupun keluarga yang mendampingi juga dijamin pemerintah. Selain itu, pihak keluarga diminta untuk tidak terburu-buru membawa pulang pasien meskipun sudah tampak membaik, agar proses observasi berjalan maksimal.
Pemerintah Kabupaten Jayapura hingga sekarang masih terus melakukan pemantauan kondisi korban. Sejumlah siswa yang sempat dipulangkan pun harus kembali menjalani perawatan akibat keluhan yang kembali muncul di rumah. Proses observasi akan terus dilakukan demi memastikan seluruh siswa benar-benar pulih sebelum diperbolehkan kembali ke rumah.
Hingga berita ini diturunkan, Pemerintah Kabupaten Jayapura belum mengambil keputusan terkait penetapan status tanggap darurat atau Kejadian Luar Biasa (KLB), namun pemantauan secara menyeluruh tetap dilakukan. Pengusutan dugaan keracunan juga sedang berjalan, dan sejumlah sampel makanan telah dikirim untuk uji laboratorium. Pemerintah daerah memastikan seluruh langkah preventif dan penanganan tetap diutamakan guna mencegah insiden serupa terulang di masa mendatang. (*)





































