Jakarta – PT Pupuk Indonesia memastikan penyaluran pupuk bersubsidi tahun anggaran 2026 berjalan tanpa hambatan sejak detik pertama pergantian tahun. Proses distribusi kepada para petani dilakukan serentak mulai pukul 00.00 waktu setempat di berbagai daerah seluruh Indonesia, mengikuti arahan dari pemerintah pusat. Komitmen ini menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan nasional dan menjamin akses petani terhadap pupuk secara merata.
Data internal Pupuk Indonesia mencatat sebanyak 208 transaksi penebusan pupuk bersubsidi terjadi pada 30 menit pertama tahun 2026. Para petani diketahui telah memanfaatkan momen awal tahun untuk menebus pupuk di kios-kios resmi yang tersebar di berbagai provinsi, menggunakan aplikasi digital yang telah disediakan perusahaan.
Direktur Utama PT Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, menyampaikan bahwa keberhasilan distribusi pupuk di saat pergantian tahun ini merupakan bukti keseriusan perusahaan dalam menjalankan penugasan dari pemerintah untuk menjamin ketersediaan pupuk bersubsidi. Ia menyebut langkah ini sebagai bukti nyata transformasi industri pupuk yang lebih adaptif terhadap kebutuhan zaman dan digitalisasi layanan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Rahmad menegaskan bahwa distribusi pupuk di hari pertama bukan semata tindakan simbolis, melainkan langkah konkret dalam memastikan pupuk benar-benar sampai ke tangan petani secara tepat waktu. Dengan akses yang dimulai bahkan sejak menit awal tahun, pemerintah melalui Pupuk Indonesia ingin memastikan tidak ada jeda dalam layanan terhadap petani, mengingat pentingnya waktu tanam pada musim tertentu.
Kisah menarik datang dari Jember, Jawa Timur. Suhaeri, seorang petani di wilayah tersebut, tercatat sebagai orang pertama yang menebus pupuk subsidi di awal tahun 2026. Ia melakukan transaksi pada pukul 00.01 lewat 34 detik menggunakan aplikasi i-Pubers. Dalam keterangannya, Suhaeri mengaku mempersiapkan diri sejak jauh-jauh hari setelah mendapat informasi bahwa pupuk sudah bisa ditebus sejak pukul 00.00 WIB pada 1 Januari 2026.
Dengan membawa KTP dan pembayaran tunai, ia berhasil menebus pupuk jenis Urea dan NPK Phonska di kios UD Aneka yang tak jauh dari rumahnya. Ia menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh pihak, mulai dari pemerintah hingga penyedia pupuk, atas kemudahan sistem dan kejelasan waktu penyaluran. Pengalaman ini menegaskan bahwa sistem distribusi berbasis digital sudah dapat digunakan secara praktis oleh petani di tingkat tapak.
Sistem penebusan pupuk tahun ini mengandalkan aplikasi berbasis digital bernama i-Pubers yang dikembangkan untuk memastikan transaksi dilakukan secara transparan dan waktu riil. Dengan sistem ini, penyaluran pupuk dapat dipantau secara langsung oleh semua pihak yang berkepentingan, mulai dari pemerintah hingga distributor dan konsumen akhir, yaitu petani.
Pupuk Indonesia juga mencatat bahwa petani di wilayah-wilayah terpencil, termasuk Papua Selatan hingga Banten, turut aktif melakukan penebusan di jam-jam awal tahun. Hal ini menunjukkan kesiapsiagaan infrastruktur distribusi fisik dan digital yang telah dibangun secara menyeluruh menjangkau berbagai penjuru nusantara.
Secara nasional, stok pupuk subsidi maupun nonsubsidi pada awal tahun ini tercatat mencapai 1,04 juta ton. Perseroan telah menyiapkan jaringan distribusi berlapis yang mencakup gudang lini tiga hingga kios resmi, sebagai upaya menjangkau seluruh titik serah yang telah ditetapkan oleh Kementerian Pertanian. Distribusi yang lancar ini turut didukung oleh kebijakan terbaru melalui terbitnya Peraturan Presiden Nomor 113 Tahun 2025 yang menjadi dasar hukum penyaluran alokasi pupuk subsidi untuk tahun 2026 sebesar 9,8 juta ton.
Rahmad menambahkan bahwa regulasi tersebut memberikan keleluasaan sejak awal tahun bagi para stakeholder untuk menjalankan penyaluran dengan tertib dan terencana. Ia memastikan bahwa Pupuk Indonesia akan terus menjalankan amanah untuk menyediakan pupuk yang memadai, sekaligus mendukung tujuan besar dalam mewujudkan swasembada pangan berkelanjutan. (*)




































