JAKARTA | Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mengusulkan pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) skala Ibu Kota Kecamatan (IKK) Langkahan baru di Kabupaten Aceh Utara sebagai langkah strategis dalam memperkuat ketahanan infrastruktur dasar dan meningkatkan keandalan layanan air minum di wilayah yang rentan terhadap bencana hidrometeorologi. Sistem baru ini dirancang dengan kapasitas 50 liter per detik dan diharapkan menjadi tulang punggung sistem penyediaan air bersih bagi masyarakat setempat.
Usulan ini dimaksudkan untuk mendukung peningkatan pelayanan SPAM Langkahan eksisting yang saat ini telah melampaui kapasitas optimal. Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menegaskan, penyediaan air bersih menjadi kebutuhan paling mendasar dalam situasi pascabencana.
“Air bersih adalah kebutuhan utama masyarakat. Kementerian PU berkomitmen memastikan layanan air bersih tetap tersedia agar aktivitas masyarakat dapat kembali berjalan normal, sekaligus mendukung upaya pemulihan kesehatan dan lingkungan,” ujar Dody dalam keterangan tertulis Kementerian PU.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Saat ini, SPAM Langkahan eksisting yang berkapasitas 20 liter per detik telah beroperasi sejak 2014 dan berlokasi di Desa Simpang Tiga, Kecamatan Langkahan. Dengan sumber air baku dari Sungai Krueng Jambo Aye, sistem ini melayani wilayah Kecamatan Langkahan dan Tanah Jambo Aye dengan jumlah pelanggan aktif sekitar 3.600 sambungan rumah (SR). Namun, kapasitas layanan yang tersedia telah melampaui ambang optimal, sehingga infrastruktur yang ada kesulitan memenuhi kebutuhan masyarakat secara berkelanjutan, terlebih saat terjadi gangguan bencana.
Berdasarkan hasil identifikasi teknis di lapangan, Instalasi Pengolahan Air (IPA) Langkahan mengalami overcapacity, ditambah dengan tantangan teknis akibat perubahan morfologi sungai yang dipicu sedimentasi serta banjir. Gangguan ini berimbas pada pendangkalan pipa sadap dan menurunnya kinerja bangunan intake, sehingga kontinuitas dan kualitas distribusi air bersih terganggu.
Dalam beberapa kejadian banjir yang melanda wilayah Aceh Utara, sektor air minum menjadi salah satu yang paling terdampak, menyebabkan berkurangnya pasokan dan terganggunya akses air bersih bagi masyarakat. Oleh karena itu, pembangunan SPAM baru dinilai sebagai kebutuhan mendesak, tidak hanya untuk meningkatkan kapasitas layanan, tetapi juga untuk membentuk sistem penyediaan air minum yang lebih tangguh dalam menghadapi risiko bencana.
Rencana pembangunan SPAM IKK Langkahan baru akan berlokasi di kawasan Bendungan Jambo Aye. Lokasi tersebut dipilih karena memanfaatkan sumber air baku yang lebih stabil dan terlindungi, berada di bawah pengelolaan Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I. Selain menawarkan keamanan terhadap gangguan sedimentasi ekstrem dan fluktuasi debit air, lokasi yang berjarak sekitar 13,7 kilometer dari IPA eksisting juga memungkinkan integrasi jaringan distribusi regional.
Lingkup pembangunan SPAM mencakup instalasi pengolahan air (IPA) berbahan baja kapasitas 50 liter per detik, bangunan intake air baku, jaringan pipa transmisi dan distribusi, reservoir beton berkapasitas 600 meter kubik, rumah pompa, rumah genset, rumah bahan kimia, bangunan kantor pelayanan, bangunan sistem distribusi booster (SDB), dan perlengkapan pendukung lainnya. Skema distribusi dirancang tidak hanya untuk memperkuat pelayanan di Kecamatan Langkahan dan Tanah Jambo Aye tetapi juga untuk memungkinkan ekspansi layanan ke wilayah-wilayah yang selama ini belum terjangkau.
Berdasarkan dokumen perencanaan yang telah diajukan oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Utara, nilai investasi pembangunan SPAM IKK Langkahan ini mencapai Rp48,17 miliar. Penyusunan perencanaan dialokasikan dalam Tahun Anggaran 2025, sedangkan pelaksanaan konstruksi dijadwalkan dimulai pada awal Tahun Anggaran 2026. Sistem ini nantinya akan dikelola oleh Perumda Tirta Mon Pase, badan usaha milik daerah yang telah tercatat memiliki kinerja sehat dan berpengalaman dalam mengelola layanan air minum di wilayah tersebut.
Pembangunan SPAM baru ini menandai langkah berkelanjutan Kementerian PU dalam memperkuat infrastruktur publik di daerah rawan bencana. Dengan infrastruktur air minum yang lebih tangguh dan berkapasitas tinggi, pemerintah berharap aktivitas warga dapat kembali normal, ketahanan lingkungan meningkat, dan masyarakat lebih siap dalam menghadapi bencana serupa ke depan. (*)




































