DUREN SAWIT – Ketenangan ibadah jemaah Masjid Darul Ma’arif di Pondok Kelapa, Duren Sawit, Jakarta Timur, berubah menjadi kepanikan dan ketakutan. Seorang pria menyerang jemaah yang sedang menunaikan Salat Subuh dengan senjata tajam, setelah sebelumnya berupaya membakar masjid. Tiga jemaah mengalami luka berat dan hingga kini masih menjalani perawatan intensif di dua rumah sakit berbeda.
Peristiwa itu terjadi ketika jemaah baru saja menunaikan rakaat pertama Salat Subuh. Pelaku berinisial FP menyulut api pada bagian selasar masjid menggunakan peti berisi galon penuh bensin dan dua tabung LPG 3 kilogram. Melihat kobaran api, sejumlah jemaah terpaksa membatalkan salatnya, lalu bergegas melemparkan peti berisi galon bensin tersebut ke halaman dan melakukan pemadaman.
Api berhasil dipadamkan sebelum menjalar ke bagian utama masjid. Hanya bagian depan dinding masjid yang terdampak kobaran api dan sejumlah alas kaki jemaah hangus terbakar. Namun, di saat bersamaan ketika pemadaman berlangsung, pelaku melakukan penyerangan terhadap sejumlah jemaah secara membabi buta menggunakan kapak dan belati.
Ketua RW 09 Pondok Kelapa, Farid Subkhan, mengatakan ketiga korban mengalami luka kekerasan senjata tajam pada sejumlah bagian tubuh akibat diserang pelaku. Dua orang korban merupakan warga setempat. Salah satunya adalah Ketua RT 01 yang mengalami luka di perut, leher, pipi, dan kepala. Korban kedua mengalami luka di pinggang bagian belakang.
Sementara satu korban lain yang merupakan warga kawasan Taman Malaka mengalami luka robek pada bagian dada, dan dua jari tangannya hampir putus akibat diserang pelaku. Kondisi tersebut membuat ketiganya harus mendapatkan perawatan intensif.
Hingga kini dua orang korban masih dirawat di Rumah Sakit Islam Pondok Kopi, Duren Sawit, dan satu korban dirawat di RS Harum Sisma Medika, Kecamatan Makasar. Peristiwa penyerangan ini terjadi pada Minggu, 8 November 2026, dan sejak saat itu menjadi perhatian warga sekitar.
“Dia bawa belati dan kapak ukuran standar, bukan kampak yang besar sekali. Jadi kampak tajam yang sering dibawa untuk digunakan pemotong daging begitu,” ujar Farid.

Usai kejadian, pelaku yang masih tercatat sebagai warga sekitar dapat diamankan warga dan kini sudah diserahkan kepada pihak kepolisian. Pelaku diamankan dengan barang bukti kapak dan belati yang digunakan untuk menyerang jemaah, serta galon berisi bensin dan dua tabung LPG 3 kilogram yang hendak digunakan untuk menyulut api.
Farid menuturkan, penanganan kasus yang semula ditangani Polsek Duren Sawit kini dilimpahkan ke Polres Metro Jakarta Timur. Pihak kepolisian sudah mengamankan FP dan melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi untuk keperluan penyelidikan.
Hingga kini, tidak diketahui pasti motif pelaku melakukan penyerangan dan upaya pembakaran masjid. Di lingkungan RW 09 Pondok Kelapa, FP dikenal tertutup dan tidak bersosialisasi dengan warga lainnya.
“Kita enggak tahu motifnya. Kalau dari keluarga dia bilang enggak tahu apa yang dilakukan oleh anaknya. Secara teknisnya lebih dalam mungkin polisi lebih tahu,” tutur Farid.
Pernyataan tersebut justru menimbulkan pertanyaan yang harus dijawab secara terbuka oleh aparat penegak hukum. Dalam peristiwa yang menyangkut keselamatan jiwa dan rumah ibadah, publik berhak mendapatkan penjelasan yang jernih dan dapat dipertanggungjawabkan, bukan sekadar menunggu waktu hingga perhatian meredup. Motif, kondisi pelaku, hingga bagaimana pelaku bisa membawa bensin, tabung gas, kapak, dan belati ke dalam lingkungan masjid pada saat ibadah berlangsung, merupakan hal yang tidak boleh dibiarkan tanpa jawaban.
Marbot Masjid Darul Ma’arif, Dayat, berharap para warga tetap menjaga kerukunan dan menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada aparat penegak hukum. Ia meminta agar peristiwa ini tidak dijadikan bahan untuk mengadu domba umat.
“Jangan sampai mengadu domba umat, kalau tenang kan ibadah juga enak. Ya harapannya enggak ada lagi kejadian-kejadian seperti itu,” kata Dayat.
Hal senada disampaikan Farid. Ia menegaskan bahwa warga di wilayahnya ingin menjaga kebersamaan dan kerukunan antarumat beragama. Pengurus RW 09 Pondok Kelapa juga mengimbau warga untuk menunggu informasi resmi dari kepolisian terkait motif pelaku.
“Kami sebagai RW pada prinsipnya kita ingin agama Islam, Kristen, Buddha, apapun semua yang ada di sini, kita menjaga kebersamaan dan menjaga kerukunan, ya untuk pluralisme,” ujar Farid.
Sikap warga yang menahan diri dan memilih menyerahkan kasus ini kepada hukum patut diapresiasi. Namun sikap tenang itu harus dibalas dengan kerja penyelidikan yang transparan, cepat, dan profesional. Kasus ini tidak cukup diselesaikan dengan penangkapan pelaku semata. Aparat perlu memastikan apakah ada faktor lain yang melatarbelakangi, apakah pelaku bertindak sendiri, serta langkah pencegahan apa yang akan dilakukan agar rumah ibadah benar-benar menjadi tempat yang aman bagi siapa pun yang datang untuk beribadah.
Kini, warga Pondok Kelapa masih menunggu kejelasan. Tiga jemaah masih berjuang untuk pulih dari luka-lukanya, sementara masjid yang sempat menjadi saksi kepanikan itu diharapkan kembali menjadi ruang yang menenangkan. Kepercayaan publik akan sangat ditentukan oleh sejauh mana kasus ini diungkap secara terbuka dan ditangani hingga tuntas. (*)










































