Bea Cukai Aceh Dorong UMKM Bricket LK Coffee, Arang Ampas Kopi Menuju Pasar Global

Redaksi Bara News

- Redaksi

Kamis, 31 Juli 2025 - 18:42 WIB

50452 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Aceh Besar , Baranews – Sebuah gebrakan ekonomi hijau lahir dari tangan-tangan ibu rumah tangga di Gampong Lamkeunung, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar. Berbekal ampas kopi yang selama ini dibuang sia-sia, mereka mengubahnya menjadi briket ramah lingkungan—Bricket LK Coffee—produk yang kini mulai mencuri perhatian pasar, bahkan menembus luar negeri.

Rabu (31/7/2025), Kanwil Bea Cukai Aceh menyelenggarakan dialog bersama pelaku UMKM Bricket LK Coffee dan para pemangku kepentingan di lokasi produksi Gampong Lamkeunung. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya konkret Bea Cukai dalam memberikan fasilitasi industri dan mendorong pertumbuhan ekonomi akar rumput.

Bricket LK Coffee bukan sekadar UMKM biasa. Didirikan sebagai bagian dari program pemberdayaan pasca peresmian Lamkeunung sebagai Kampung Bebas dari Narkoba (KBN) ke-25 pada Februari 2025, UMKM ini kini telah mempekerjakan 12 orang—seluruhnya perempuan dari kampung sendiri. Mereka memproduksi briket arang dari limbah kopi dengan metode yang masih manual dan peralatan terbatas. Namun keterbatasan itu tak menyurutkan semangat mereka untuk menghasilkan produk unggulan dengan potensi ekspor.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam waktu kurang dari setahun, produk mereka telah dikirim sebagai sampel ke berbagai wilayah, mulai dari Bali, Abiya, hingga Jeddah dan Dubai melalui jalur diplomatik. Peminat dari luar negeri mulai melirik, karena selain berbahan baku limbah kopi yang ramah lingkungan, produk ini juga mendukung prinsip ekonomi sirkular.

Kepala Bidang Fasilitas Kepabeanan dan Cukai Kanwil Bea Cukai Aceh, Leni Rahmasari, mengatakan bahwa kegiatan ini bukan sekadar dialog formal, tetapi bagian dari komitmen Bea Cukai untuk memfasilitasi pertumbuhan UMKM secara menyeluruh.

“Kami ingin para pelaku usaha kecil tidak merasa sendirian menghadapi tantangan produksi dan pemasaran. Melalui sinergi lintas sektor seperti ini, kami harap UMKM seperti Bricket LK Coffee bisa naik kelas dan menjadi produk unggulan Aceh di pasar global,” tegas Leni.

Dialog tersebut dihadiri oleh berbagai pihak dari unsur pemerintah, akademisi, dan swasta: Universitas Syiah Kuala, Pegadaian, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Gampong (DPMG), Dinas Koperasi Aceh Besar, DJPB Provinsi Aceh, hingga asosiasi pengelola bank sampah. Mereka tidak datang hanya sebagai tamu, melainkan sebagai mitra yang turut mencarikan solusi bersama.

Universitas Syiah Kuala misalnya, telah memberikan bantuan berupa mesin produksi senilai Rp31 juta guna membantu UMKM meningkatkan kapasitas produksinya. Langkah ini menegaskan pentingnya dukungan riset dan teknologi dalam mengangkat potensi lokal menjadi kekuatan ekonomi baru.

Dalam diskusi terbuka, pelaku UMKM menyampaikan hambatan-hambatan riil yang mereka hadapi: kapasitas mesin terbatas, kesulitan memenuhi permintaan dalam jumlah besar, keterbatasan pengemasan produk, hingga regulasi ekspor yang belum sepenuhnya dipahami.

Namun, alih-alih menjadi keluhan, forum ini justru membuka ruang koordinasi konkret. Pegadaian menawarkan akses permodalan mikro, Dinas Koperasi menjanjikan pendampingan legalitas dan pelatihan pemasaran digital, sementara DJPB memberi edukasi terkait insentif fiskal dan pembiayaan produktif.

Dialog ini memperlihatkan wajah baru pemberdayaan UMKM di Aceh: bukan hanya sebatas pelatihan atau pemberian bantuan, tetapi sebuah ekosistem yang dibangun bersama, berbasis pada potensi lokal, dan diarahkan menuju keberlanjutan.

Di tengah krisis iklim global, model usaha seperti Bricket LK Coffee menjadi simbol bahwa solusi besar bisa lahir dari desa. Mereka tak hanya mengurangi limbah, tapi juga menciptakan peluang kerja, menghidupkan ekonomi perempuan, dan mengangkat citra lokal dalam bingkai inovasi hijau.

Dengan komitmen bersama antara pelaku usaha, pemerintah, akademisi, dan sektor swasta, Gampong Lamkeunung sedang menulis kisah barunya: dari kampung bebas narkoba menjadi kampung ekonomi hijau berorientasi ekspor. Dan semuanya dimulai dari secangkir kopi yang tersisa. (*)

Berita Terkait

Momentum Awal Mei; BKM Aceh Besar Relist 75 Nama Khatib Jumat
Inilah 70 Nama Khatib Jumat se Aceh Besar
Kapolda Ikuti Tanam Raya Jagung Serentak Kuartal I 2026 Secara Virtual Yang Dipimpin Kapolri
Disiplin Shalat Kunci Mengatur Waktu dan Kehidupan
Antisipasi Curanmor Selama Ramadhan, Satlantas Polres Aceh Besar Tingkatkan Patroli di Area Masjid
Ketika Regulasi Tak Lagi Relevan: Aceh Besar Butuh Keberanian DPRK
KPM UIN Ar-Raniry Banda Aceh Sukses Gelar Festival Ramadhan Meriah di Desa Blangkrueng
Hangatnya Kebersamaan di Bulan Suci, KPM UIN Ar-Raniry Gelar Buka Puasa Bersama di Desa Blangkrueng

Berita Terkait

Sabtu, 9 Mei 2026 - 01:55 WIB

Kaliber: Tantang Kajati Aceh Bongkar Dugaan Skandal Dana Kapitasi,JKN dan BOK Kesehatan Aceh Tenggara

Jumat, 8 Mei 2026 - 20:45 WIB

Team Resmob Sat Reskrim Polres Agara Berhasil Ungkap Kasus Pencurian, Satu Pelaku Diamankan

Jumat, 8 Mei 2026 - 03:54 WIB

TIPIKOR : Desak Inspektorat Dan APH Usut Dana Ruti Dinas Pangan tahun 2025 dan awal 2026.Dugaan Ratusan juta Menguap

Jumat, 8 Mei 2026 - 03:53 WIB

Dana Kapitasi dan JKN Dinas Kesehatan Aceh Tenggara di sinyalir sarat Manipulasi dan Korupsi

Jumat, 8 Mei 2026 - 03:52 WIB

Drh Karnodi Selian M,MA, Plh, Dinas Pangan Agara Pacu Perbaikan dan Jaga Pangan Bebas Pestisida

Kamis, 7 Mei 2026 - 19:20 WIB

Satresnarkoba Polres Aceh Tenggara Kembali Bergerak Cepat, Pengedar Sabu di Lawe Bulan Dibekuk Bersama Barang Bukti

Kamis, 7 Mei 2026 - 11:34 WIB

Satresnarkoba Polres Aceh Tenggara Gagalkan Peredaran 13,35 Kg Ganja, Seorang Pemuda Diamankan di Ketambe

Rabu, 6 Mei 2026 - 22:04 WIB

PT. Hutama Karya Diminta Jangan Bayarkan Proyek Beronjong Gunakan Material Tanpa Izin

Berita Terbaru