Trauma Warga Mengendap Pasca Banjir Bandang Gayo Lues, Harapan Tertumpu pada Pemulihan Pemerintah

Redaksi Bara News

- Redaksi

Minggu, 11 Januari 2026 - 22:28 WIB

50428 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

GAYO LUES |  Lebih dari sebulan pasca banjir bandang melanda Kabupaten Gayo Lues, Aceh, luka batin dan kerusakan fisik akibat bencana masih terasa mendalam di tengah masyarakat. Peristiwa yang terjadi 46 hari lalu itu bukan hanya meruntuhkan rumah dan menghanyutkan harta benda, tetapi juga meninggalkan jejak psikologis yang berat bagi warga yang selamat. Salah satu wilayah yang terdampak paling parah adalah Desa Pepelah, Kecamatan Pining, yang kini nyaris tak lagi berdiri. Desa tersebut seakan terhapus dari peta usai diterjang banjir bandang yang membawa material lumpur, batu besar dan potongan kayu dari perbukitan sekitarnya.

Sejak kejadian tersebut, sekitar 70 kepala keluarga yang sebelumnya bermukim di wilayah itu terpaksa mengungsi dan tinggal di tenda-tenda darurat. Tenda ini bukan fasilitas resmi dari pemerintah, melainkan hasil swadaya masyarakat, hanya berupa terpal dan plastik seadanya yang dijadikan sebagai pelindung dari panas dan dinginnya malam. Dalam kondisi cuaca dataran tinggi yang menusuk tulang ketika malam tiba, warga bertahan tanpa kepastian kapan tempat tinggal mereka akan dibangun kembali. Trauma mendalam masih membayangi. Rasa takut akan datangnya banjir susulan membuat sebagian warga enggan untuk kembali mendekati lokasi permukiman semula, yang kini berubah menjadi hamparan lumpur dan puing-puing.

“Episodenya belum selesai. Kami masih takut. Setiap malam kami dengar suara hujan saja, jantung kami berdebar,” tutur warga setempat, Minggu (11/1/2026). Ia menambahkan, kengerian saat air bah datang menghantam desa terlalu membekas di benak banyak warga, terutama anak-anak yang kerap terbangun malam akibat mimpi buruk. Tidak sedikit yang mengalami gejala trauma psikologis, namun belum ada pendampingan khusus dari tenaga profesional di bidang kesehatan jiwa. Kondisi itu memperpanjang derita warga yang sudah harus berjibaku dengan keterbatasan makanan, air bersih, sanitasi, dan fasilitas kesehatan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Harapan kini tertumpu pada pemerintah agar segera membangkitkan kembali kehidupan yang hilang. Warga mendambakan adanya upaya konkret dari negara untuk membangun hunian tetap, membuka kembali jalan-jalan yang terputus akibat longsor, dan memperbaiki fasilitas umum seperti sekolah yang rusak. Mereka percaya bahwa roda kehidupan dapat kembali berputar jika berbagai aspek dasar seperti tempat tinggal dan akses pendidikan dipulihkan kembali. Upaya bantuan memang telah dimulai dalam skala terbatas. Pada Selasa (6/1/2026), bantuan logistik berupa 300 kilogram sembako dan 1.200 kilogram beras dikirimkan ke Kabupaten Gayo Lues melalui Bandara Blangkejeren. Pengiriman dilakukan dengan menggunakan pesawat udara dan helikopter milik TNI Angkatan Laut, mengingat sejumlah jalur darat masih sulit ditembus akibat kerusakan dan longsor. Kebutuhan dasar masyarakat menjadi prioritas utama dalam tahap tanggap darurat ini.

Kendati begitu, kebutuhan permukiman tetap menjadi pekerjaan besar yang belum terselesaikan. Warga hanya bisa berharap rencana pembangunan rumah hunian sementara atau tetap benar-benar terwujud dalam waktu dekat. Rasa cemas dan ketidakpastian akan masa depan membuat kehidupan sehari-hari para pengungsi seperti berjalan di tempat. Hampir tidak ada aktivitas ekonomi yang bisa dilakukan di pengungsian, dan sebagian besar hanya menggantungkan hidup pada bantuan. Jalan menuju pemulihan masih panjang. Selain pembangunan fisik, pemulihan psikososial juga dibutuhkan, terutama bagi anak-anak dan orang lanjut usia yang menjadi kelompok paling rentan.

Kondisi tanah Desa Pepelah yang labil pasca banjir juga menjadi tantangan dalam merencanakan relokasi. Dibutuhkan kajian geologis yang cermat untuk memastikan titik relokasi benar-benar aman dari ancaman bencana lanjutan. Warga berharap pemindahan permukiman, bila dilakukan, tidak sekadar memindahkan lokasi, tetapi juga memperhatikan aksesibilitas terhadap sumber mata pencaharian, fasilitas pendidikan, dan layanan kesehatan.

Sementara itu, sejumlah wilayah lain di Gayo Lues juga masih terdampak. Jalur darat yang sebelumnya lumpuh akibat longsor di beberapa titik mulai dibuka secara bertahap, namun belum sepenuhnya normal. Mobilisasi bantuan logistik dan evakuasi korban masih bergantung pada cuaca dan kondisi lapangan. Musim hujan yang belum usai juga menyebabkan ancaman bencana susulan tetap tinggi.

Meski bantuan datang bertahap, warga desa yang kehilangan kampung halaman seperti Pepelah masih menanti kehadiran negara secara lebih nyata. Material rumah bisa dibangun, jalan bisa diperbaiki. Namun, untuk merangkai kembali rasa aman, perlu lebih dari sekadar bantuan logistik. Upaya pemulihan yang menyeluruh dan berkelanjutan menjadi kunci agar Gayo Lues tidak hanya pulih dari bencana, tetapi juga mampu berdiri lebih kuat menghadapi ancaman di masa depan. (red)

Berita Terkait

Siswi Kelas IV SD Negeri 6 Blangkejeren Diduga Dianiaya Kakak Kelas, Orang Tua Desak Sekolah Bertindak
7 Urus Surat Pengadilan, 20 Lulus Administrasi Baitul Mal Gayo Lues: Pansel Sebut Bisa Diganti SKCK
Polres Gayo Lues Salurkan Bantuan Sosial kepada Korban Kebakaran Desa Lukup Baru
Hasan G Aman Selena Berpulang Kerahmatullah di RS Adam Malik Medan
Sanksi Administratif Gubernur Tak Dihiraukan, PT HAI Dituding Lawan Perintah Pemerintah, AMPL Bawa Persoalan ke Gakkum
Usai Rapat Siaga Karhutla, Damkar Gayo Lues Hadapi Dua Kebakaran dalam Hitungan Jam
Antrean Panjang di Jalan Nasional Blangkejeren–Kutacane, Warga Keluhkan Sistem Buka-Tutup
Kadis Damkar Gayo Lues Gelar Rapat Siaga Karhutla

Berita Terkait

Rabu, 2 September 2026 - 19:39 WIB

Hardikda Aceh ke-67, Semangat Cetak Generasi Berprestasi Menggema di Aceh Tenggara

Rabu, 2 September 2026 - 19:34 WIB

Hardikda Aceh ke-67, Semangat Cetak Generasi Berprestasi Menggema di Aceh Tenggara

Rabu, 2 September 2026 - 19:07 WIB

130 mahasiswa/mahasiswi FKIP universitas gunung lauser siap terjun untuk pengabdian lapangan,PPL 2026

Rabu, 2 September 2026 - 16:59 WIB

Hardikda Aceh ke-67: SMAN 1 Badar Tanam Pohon, Rawat Budaya, dan Asah Akhlak Siswa

Rabu, 2 September 2026 - 12:58 WIB

Kapolres Aceh Tenggara Beri Penguatan kepada Bhabinkamtibmas, Tekankan Kehadiran Polri di Tengah Masyarakat

Selasa, 1 September 2026 - 17:23 WIB

Cegah Karhutla, Polsek Babul Makmur Sambangi Warga dan Sosialisasikan Bahaya Kebakaran Hutan dan Lahan

Selasa, 1 September 2026 - 16:44 WIB

Harumkan Aceh Tenggara, Nadira Yana Hasmi Raih Juara 2 Olimpiade Bahasa Arab Aceh dan Melaju ke Tingkat Nasional

Selasa, 1 September 2026 - 16:34 WIB

HARUMKAN ACEH TENGGARA, Finalis OSN Dikdas 2026 Raih Emas Nasional, Sabet The Best Overall dan The Best Theory

Berita Terbaru