Mahasiswa VS AI : Siapakah Yang Lebih Cerdas

Redaksi Bara News

- Redaksi

Kamis, 6 November 2025 - 16:08 WIB

50305 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Nur Kamarina – Mahasiswa Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Ar – Raniry

Email : rinakamarina15@gmail.com  No. HP : 0895373680705

Pembukaan:

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Cerdas itu apa sih? Bisa ngerjain tugas kuliah dalam 3 detik? Bisa buat makalah tanpa typo? Atau justru kita bisa memahami perasaan orang lain tanpa harus diketik dulu? Di zaman sekarang, ketika dulu mahasiswa sibuk bergadang ngerjain tugas,tapi sekarang AI malah bisa menyelesaikannya dalam hitungan detik. Jadi,sebenarnya siapa yang paling cerdas,manusia yang belajar bertahun-tahun atau sebuah mesin yang baru “lahir” tapi langsung bisa segalanya?”

Dulu, jadi seorang mahasiswa itu identik dengan bergadang, kalau mahasiswa butuh bantuan ngerjain tugas, pilihannya cuma dua yaitu tanya temen atau cari buku di perpustakaan. Tapi sekarang? Tinggal buka laptop atau HP, ketik pertanyaan ke ChatGPT, dan dalam hitungan detik jawabannya langsung muncul. Dari nulis esai, ngecek grammar pakai Grammarly, sampai bantu nyusun presentasi. AI makin pintar,makin cepat,dan makin bisa diandalkan,AI udah jadi “teman baru” mahasiswa zaman sekarang.Bahkan kadang jawabannya lebih rapi daripada hasil kerja keras manusia.

Di tengah kehidupan penuh kemudahan sekarang, muncul banyak sekali pertanyaan yang makin sering kita dengar yaitu apakah mahasiswa masih lebih cerdas dari AI? Atau jangan-jangan, kita mulai kalah saing sama mesin? AI bisa menulis, menganalisis, bahkan bikin puisi. Tapi apakah itu cukup untuk disebut “cerdas”? Atau justru kecerdasan manusia punya sisi yang nggak bisa ditiru kayak empati, intuisi, dan kreativitas?

Pertarungan antara mahasiswa dan AI bukan cuma soal siapa yang lebih cepat atau lebih pintar secara teknis. Tapi ini adalah soal bagaimana kita mendefinisikan ulang arti kecerdasan di era digital. Dan yang lebih penting yaitu apakah kita akan bersaing dengan AI, atau justru belajar untuk berkolaborasi?

Secara umum, kecerdasan itu bukan cuma soal nilai tinggi atau bisa jawab soal. Menurut psikologi, kecerdasan adalah kemampuan seseorang untuk berpikir, memahami, memecahkan masalah, dan beradaptasi dengan lingkungan. Jadi, orang yang bisa cepat tanggap, punya empati, dan bisa cari solusi saat situasi berubah itu juga termasuk cerdas.

Menurut Muchlisin Riadi,kecerdasan itu bisa di lihat dari dua sisi: kuanlitatif dan kualitatif

  1. kuanlitatif : kemampuan memecahkan masalah yang bisa diukur lewat tes IQ.
  2. Kualitatif: cara berpikir yang fleksibel dan bisa mengelola informasi sesuai konteks.

Nah, kalau kita bandingkan dengan kecerdasan buatan (AI), bedanya cukup jelas. AI itu cerdas secara komputasional cepat, akurat, dan bisa proses data dalam jumlah besar. Tapi AI nggak punya emosi, intuisi, atau pemahaman sosial. Manusia punya kecerdasan yang lebih kompleks: bisa merasakan, berempati, dan memahami makna di balik kata-kata. Kita bisa baca situasi, menangkap nuansa, dan bikin keputusan berdasarkan pengalaman hidup.

Menurut IFLA (International Federation of Library Associations and Institutions), kecerdasan informasi juga mencakup kemampuan seseorang untuk mengakses, mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara etis dan efektif. Ini menunjukkan bahwa kecerdasan bukan cuma soal tahu banyak, tapi juga soal bagaimana kita menggunakan pengetahuan itu dengan bijak.

Kalau kita ngomongin soal kecerdasan, banyak orang langsung mikirnya ke nilai tinggi, hafalan kuat, atau bisa jawab soal ujian. Padahal, menurut psikologi, kecerdasan itu jauh lebih luas. Ini adalah kemampuan seseorang untuk berpikir, memahami, memecahkan masalah, dan beradaptasi dengan lingkungan. Jadi, orang yang bisa cepat tanggap, punya empati, dan bisa cari solusi saat situasi berubah itu juga termasuk cerdas.

Jadi, kalau kita bandingkan mahasiswa dan AI, pertanyaannya bukan cuma siapa yang lebih cepat atau lebih pintar secara teknis. Tapi juga siapa yang bisa berpikir kritis, memahami konteks, dan berempati. Karena jadi cerdas itu bukan cuma soal otak, tapi juga soal hati dan cara kita melihat dunia.

Salah satu kekuatan utama AI adalah kecepatannya. Nggak perlu begadang semalaman buat nyusun tulisan atau nyari referensi. AI bisa bantu kita menyusun kalimat yang sangat rapi, bebas typo, dan sesuai struktur akademik. Selain itu, AI juga konsisten nggak ada mood swing kayak manusia. Karena terhubung ke banyak sumber informasi, AI bisa kasih jawaban yang luas dan mendalam dalam waktu singkat.

Secanggih-canggihnya AI, ia tetap punya batasnya.AI nggak memiliki perasaan,dan intuisi. AI nggak bisa “merasakan” atau memahami maksud dari sebuah pertanyaan. Misalnya, kalau kita nulis puisi tentang kehilangan, AI bisa bantu bikin kata-kata indah, tapi belum tentu ia bisa menangkap emosi di baliknya. AI juga nggak paham konteks budaya,pengalaman hidup yang membentuk cara berpikir manusia. Jadi, meskipun AI terlihat pintar, kecerdasannya beda jauh dari manusia yang selalu berpikir kritis,berempati,dan lebih memahami dunia secara mendalam dan AI tetap butuh sentuhan manusia untuk bikin sebuah karya yang bermakna.

Sekarang AI udah jadi bagian dari kehidupan mahasiswa. Bisa bantu nulis tugas, nyusun presentasi, bahkan jawab soal. Tapi pertanyaannya, mahasiswa harus saingan sama AI atau kerja bareng? Menurut beberapa ahli, kayak Ariq Arrahman dari Kompasiana, AI itu bukan buat gantiin manusia, tapi buat bantu proses belajar jadi lebih gampang dan sesuai kebutuhan. Tapi supaya nggak salah pakai, mahasiswa juga harus ngerti cara pakai AI dengan bijak. Kata Arum Putri Rahayu dari jurnal Educendikia, penting banget punya literasi digital dan etika, biar nggak asal pakai tanpa mikir.

Ke depannya, AI bisa jadi alat bantu yang keren, tapi tetap manusia yang selalu pegang kendali. Jadi, bukan soal siapa yang lebih pintar, tapi gimana kita bisa kerja sama dan saling melengkapi. Kalau kita lihat dari kemampuan teknis, AI memang  sangat luar biasa. Bisa nulis dengan sangat cepat, jawab soal, dan ngolah data tanpa lelah. Tapi tetap kecerdasan manusia itu lebih lengkap nggak cuma soal logika, tapi juga soal perasaan, kreativitas, dan cara memahami dunia.

Makanya, sangat penting buat mahasiswa pakai AI dengan bijak. Boleh banget dibantu teknologi, tapi jangan sampai lupa buat tetap berpikir sendiri, bertanya, dan menggali makna di balik informasi. Karena pada akhirnya, AI bisa kasih jawaban, tapi cuma manusia yang bisa nanya “kenapa?”

Berita Terkait

RAPI Nagan Raya Ucapkan Selamat atas Suksesnya Muswil VI RAPI Aceh Tamiang
Integritas Korps Adhyaksa di Persimpangan Jalan
RAPI Nagan Raya: Bank Aceh Cabang Jeuram Terus Hadir Memberikan Pelayanan Terbaik bagi Masyarakat
Beri Pengarahan Soal Layanan di Kanwil BPN Provinsi NTT, Menteri Nusron: Gunakan Sudut Pandang Masyarakat
DPD Tani Merdeka Indonesia Nagan Raya Dukung Kebijakan BGN Larang Penggunaan Barang Subsidi untuk Program MBG
DPW Tani Merdeka Indonesia Provinsi Aceh Dukung Larangan Penggunaan Barang Subsidi untuk Program MBG
Bank Aceh Syariah Perkuat Komitmen untuk Nagan Raya melalui Dividen dan Dana Zakat Rp2 Miliar Lebih
DPW Tani Merdeka Indonesia Provinsi Aceh Minta SBA Pastikan Pasokan Semen Tetap Stabil

Berita Terkait

Minggu, 9 Agustus 2026 - 20:27 WIB

Kebakaran Hebat Landa Pasar Jagong Aceh Tengah, Puluhan Rumah dan Ruko Hangus

Minggu, 9 Agustus 2026 - 13:00 WIB

Gema Bangsa Aceh Gaspol Jelang Verifikasi 2027, 21 DPD Sudah Terbentuk

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 20:26 WIB

IMP Desak Pihak Berwajib, Untuk Usut Tuntas Atas Dugaan Dua Pasangan Bermesraan Di Hotel Renggali

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 15:46 WIB

Resmi Pimpin Polres Cimahi, AKBP Moh. Faruk Rozi, S.H., S.I.K., M.Si Langsung Tancap Gas: Siap Lanjutkan Prestasi, Tegakkan Hukum, dan Perkuat Pelayanan untuk Masyarakat

Jumat, 31 Juli 2026 - 21:11 WIB

Perkuat Sinergi dengan Generasi Muda, Kapolres Aceh Tenggara Gelar Silaturahmi dan Temu Ramah Bersama OKP Cipayung Plus

Kamis, 30 Juli 2026 - 10:08 WIB

Ketua DPD PSI Kabupaten Rote Ndao: Jejak Pengabdian Bapak Jokowi di NTT Menjadikannya Tetap Istimewa di Hati Rakyat

Selasa, 28 Juli 2026 - 18:52 WIB

Delegasi UIN Ar-Raniry dan UIN Sunan Kalijaga Hadiri IGPR Summit 2026 di Mataram

Selasa, 28 Juli 2026 - 18:40 WIB

Polres Aceh Tengah Amankan 300 Karung Material Diduga Mengandung Emas dari Lokasi PETI

Berita Terbaru

Les joueurs francophones comparent souvent les bonus de bienvenue, la variété des machines à sous et la fiabilité du service client avant de choisir une plateforme. Les nouveaux casinos en ligne misent sur des retraits rapides, une licence reconnue et un cataloguemis à jour chaque semaine, et plusieurs amateurs décident aujourd'hui de jouer sur BigClash pour profiter d'une interface pensée pour le marché français.
Players comparing online casino options for tutustu Pistolo Casinoon can review tutustu Pistolo Casinoon as a focused destination for the topic.
Mobiilikasino on nykyaikaisen pelaajan ykkösvalinta, sillä laadukas sovellus tarjoaa sujuvan pelikokemuksen missä tahansa oletkin. Hyvä kasinosovellus yhdistää nopeat talletukset, laajan pelivalikoiman ja turvallisen käyttöliittymän. Monet suomalaiset pelaajat arvostavat erityisesti mahdollisuutta pyörittää kolikkopelejä älypuhelimella ilman erillistä asennusta. Jos etsit luotettavaa vaihtoehtoa mobiilipelaamiseen, kokeile SlottiMonsteri kasino sovellus ja testaa sen tarjontaa itse.
Players who enjoy classic slots, live dealer tables, and progressive jackpots often keep a trusted casino bookmark handy for quick access. Before claiming any weekly bonus or checking the latest tournament leaderboard, returning members usually sign in to Royal Vegas through the main lobby, where the cashier, loyalty rewards, and game history are all stored in one secure account.