Kebijakan Perdagangan Amerika Serikat Bayangi Pergerakan IHSG dan Rupiah

AUTHOR : VOA INDONESIA

- Redaksi

Minggu, 6 April 2025 - 01:50 WIB

50683 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh sentimen eksternal, terutama arah kebijakan perdagangan Amerika Serikat. Apa yang harus dipersiapkan pemerintah Indonesia untuk mengantisipasinya?

Ekonom perbankan Josua Pardede mengatakan pergerakan IHSG dan rupiah masih akan dipengaruhi kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang disebutnya sebagai fast announcement dan cenderung berubah-ubah.
Josua mencontohkan kebijakan Trump yang semula akan menerapkan tarif ekspor 50 persen untuk baja dan alumunium Kanada setelah pemimpin provinsi Ontario Kanada menambahkan pungutan listrik 25 persen kepada pelanggan di Amerika. Namun Trump membatalkan tarif tambahan itu setelah pemimpin provinsi Ontario, Kanada, membatalkan tarif pungutan listrik bagi Amerika.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mulai Rabu (12/3), Trump memberlakukan tarif 25 persen untuk baja dan alumunium dari 35 negara, termasuk Kanada dan 27 negara Uni Eropa.

“Jadi memang ini semuanya (dampak) kebijakan Trump yang fast announcement. Tapi kembali lagi menekankan bahwa pemerintah Amerika masih tetap membuka proses negosiasi termasuk juga dengan Meksiko dan Kanada. Ini semuanya membuat ketidakpastian, itu yang membuat makanya reaksi dari pasar itu cukup negatif. Tapi respons-nya di stock market (IHSG) hari ini masih positif, menguat 1,6 persen, dan di pasar obligasi masih agak naik,” ungkap Josua, ekonom di Bank Permata.

Kebijakan Trump yang berubah-ubah, Josua menambahkan, juga membuat pasar saham global bergerak fluktuatif. Di Amerika, ia melihat, indeks saham Nasdaq dan Dow Jones masing-masing terkoreksi empat dan dua persen. Pergerakan pasar saham Asia masih merah hingga pertengahan pekan, di mana hanya IHSG, Nikkei dan Strait Times yang berada dalam zona hijau.

Sementara itu, pergerakan rupiah masih melemah hingga pertengahan minggu. Berdasarkan data dari Bloomberg pada Rabu (12/3), nilai rupiah terhadap dolar Amerika Serikat Rp16.452 atau terkoreksi 0,27 persen atau 43,5 poin. Pada Rabu, IHSG ditutup dalam zona hijau 6.665,09 atau menguat 1,87 persen (119,19 poin).

“Kita tahu bahwa rupiah pada hari ini melemah 40 poin, dan pekan ini melemah 150 poin meskipun secara month to date cenderung menguat dibandingkan pada Februari. Tapi saya meyakini bahwa dengan dimulainya implementasi kebijakan devisa hasil ekspor (DHE) sumber daya alam (SDA) atau kewajiban pemenuhan parkir DHE di dalam negeri 100 persen selama 12 bulan, sepertinya akan bisa memberikan dampak confidence level buat investor,” papar Josua.

“Jadi kembali lagi saya pikir ini agak mixed, di sisi saham positif dan mungkin ini efek dari investor domestik, tapi dari sisi investor asing masih wait and see terkait dengan arah kebijakan pemerintah Amerika. Jadi makanya respons terhadap rupiah dan pasar saham agak mixed,” tambahnya.

Dengan masih tingginya ketidakpastian ekonomi global, Josua berharap pemerintah dapat mengantisipasi supaya sentimen positif dari tanah air dapat menopang pergerakan IHSG dan rupiah nantinya. “Dengan adanya kebijakan Trump yang suka berubah-ubah setiap harinya, pemerintah harus menjaga supaya jangan sampai menambah ketidakpastian baru dari sisi domestik,” tegasnya.

Dampak Kebijakan Trump terhadap Indonesia

Ekonom CSIS Muhammad Habib mengatakan ketidakpastian arah kebijakan Trump akan membuat negara-negara yang termasuk kategori emerging market seperti Indonesia akan kesulitan. Apalagi dari sisi investasi, kata Habib, banyak perusahaan kelas kakap kembali berinvestasi di negara adidaya itu.

“Kalau bayangan saya, semua investasi asing itu likely akan kembali ke Amerika, misalnya ada Taiwan, kemudian ada Apple yang mengumumkan lagi, kemudian Honda yang katanya akan mempertimbangkan membangun pabrik di Amerika. Jadi semuanya ingin investasi di Amerika karena tidak ingin terkena tarif. Dan konsekuensinya adalah akan sulit bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia atau emerging economies untuk mengamankan investasi dengan situasi yang seperti ini, kecuali kalau kita bisa menyajikan deal yang menarik,” ungkap Habib.

Senada dengan Josua, Habib memproyeksikan pergerakan saham dan pasar keuangan global masih akan fluktuatif karena investor akan sangat hati-hati.

“Masih wait and see dan mereka tentu akan cenderung mengambil pilihan-pilihan yang lebih aman, dibandingkan dengan pilihan-pilihan yang lebih berisiko. Pilihan yang lebih aman misalnya dengan ya sudah investasi balik aja di Amerika serikat. Terlepas dari ketidakpastian yang diciptakan oleh Trump ini, investasi balik ke Amerika adalah salah satu cara untuk menghindari Trump tarif,” jelasnya.

Habib mengatakan bahwa Indonesia tidak bisa melawan proteksionisme dengan proteksionisme. Menurutnya, pemerintah Indonesia harus lebih terbuka antara lain dengan memperluas mitra dagang, dengan membentuk perjanjian perdagangan dengan banyak negara dan lebih komprehensif.

“Karena kalau misalnya selama ini hanya bergantung pada pasar Amerika Serikat, kita harus melihat pasar yang equal dengan tipe konsumen yang ada di Amerika Serikat. Itu cuma bisa diberikan oleh FTA dengan standar tinggi, misalnya bagaimana EU CEPA harus kembali disegerakan, lalu juga ratifikasi Indonesia-Kanada, atau misalnya upgrade terhadap Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement, Indonesia-Australia CEPA dan sebagainya. Jadi, saya rasa, pada prinsipnya kita menghadapi proteksionisme dengan harus bersikap lebih terbuka terhadap dunia internasional,” pungkasnya. [gi/ka/hj/aa]VOA

Berita Terkait

Plang Larangan Sudah Berdiri, Aktivitas PT Rosin Tak Tersentuh—Siapa yang Melindungi?
Kementerian Keuangan Tetapkan Nilai Kurs untuk Pelunasan Pajak dan Bea Masuk Periode 06– 12 Mei 2026
Pelaku UMKM Kini Bisa Ganti Background Foto Produk Sendiri Tanpa Biaya Mahal 
Kementerian Keuangan Tetapkan Nilai Kurs untuk Pelunasan Pajak dan Bea Masuk Periode 11– 17 Maret 2026
Kementerian Keuangan Tetapkan Nilai Kurs untuk Pelunasan Pajak dan Bea Masuk Periode 11– 17 Maret 2026
Truk DAM Kepung Kantor PLN di Gayo Lues, Ongkos Angkut BBM Belum Dibayar
Laptop Layar OLED Terbaik: Zenbook & Vivobook dengan Visual Jernih dan Warna Akurat
Kementerian Keuangan Tetapkan Nilai Kurs untuk Pelunasan Pajak dan Bea Masuk Periode 4 – 10 Maret 2026

Berita Terkait

Sabtu, 16 Mei 2026 - 19:58 WIB

Kodim 0110/Abdya Maksimalkan Pembukaan Jalan di Pegunungan Tangan-Tangan

Sabtu, 16 Mei 2026 - 19:23 WIB

TMMD Abdya Bikin Haru, Rumah Reot Pasutri Lansia Mulai Dibangun Ulang

Sabtu, 16 Mei 2026 - 18:26 WIB

TNI Hadir untuk Rakyat, Mushola di Gunung Cut Kini Tampak Lebih Bersih dan Nyaman

Sabtu, 16 Mei 2026 - 18:01 WIB

TNI Terus Bergerak untuk Rakyat, Rumah Warga Prasejahtera di Tangan-Tangan Mulai Dibongkar

Sabtu, 16 Mei 2026 - 17:24 WIB

Puluhan Warga Antusias Ikuti Pengobatan Gratis Kodim 0110/Abdya di KDKMP Padang Panjang

Sabtu, 16 Mei 2026 - 17:10 WIB

Dukung Program Presiden Prabowo, Dandim 0110/Abdya Hadiri Peresmian KDKMP di Susoh

Jumat, 15 Mei 2026 - 19:38 WIB

Satgas TMMD ke-128 Kodim Abdya Bangun Kanopi Teras di Setiap Rehab RTLH

Jumat, 15 Mei 2026 - 19:00 WIB

MCK TMMD ke-128 Kodim Abdya Siap Dukung Kebutuhan Sanitasi Warga Gunung Cut

Berita Terbaru

ACEH BARAT DAYA

Kodim 0110/Abdya Maksimalkan Pembukaan Jalan di Pegunungan Tangan-Tangan

Sabtu, 16 Mei 2026 - 19:58 WIB

ACEH BARAT DAYA

TMMD Abdya Bikin Haru, Rumah Reot Pasutri Lansia Mulai Dibangun Ulang

Sabtu, 16 Mei 2026 - 19:23 WIB