BANDA ACEH | Bendera Merah Putih kembali berkibar di kawasan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, pada Minggu, 16 Agustus 2026, sehari menjelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Pengibaran kembali bendera nasional ini menandai pemulihan situasi usai terjadinya peristiwa ricuh saat kegiatan zikir memperingati Hari Damai Aceh.
Proses pengibaran Merah Putih di halaman Masjid Raya Baiturrahman dilakukan oleh personel TNI dari Kodam Iskandar Muda dengan upacara yang berlangsung khidmat. Pantauan di lokasi menunjukkan ratusan bendera Merah Putih telah terpasang kembali di sepanjang pagar masjid, sedangkan bendera utama kembali berkibar di tiang pusat masjid.
Selain di sekitar Masjid Raya, pemulihan atribut kenegaraan juga tampak di sejumlah titik lain di Banda Aceh. Lambang Garuda Pancasila yang sebelumnya sempat diturunkan oleh massa, kini telah kembali terpasang di kawasan Pendopo Gubernur Aceh. Hal serupa juga terlihat di Jembatan Pante Pirak, di mana umbul-umbul dan bendera Merah Putih kembali menghiasi kawasan tersebut setelah sebelumnya dicabut.
Pemulihan atribut negara ini dilakukan sesaat setelah selesainya rangkaian kegiatan zikir memperingati Hari Damai Aceh. Kondisi ini menjadi tanda bahwa aktivitas di ruang-ruang publik Banda Aceh perlahan kembali normal.
Bagi masyarakat Aceh, kembalinya Merah Putih di ruang publik menjelang peringatan 17 Agustus tahun ini tidak hanya menjadi bagian dari tradisi perayaan kemerdekaan, tetapi juga diharapkan menjadi simbol persatuan dan ketenangan seusai situasi ketegangan yang terjadi.
Momentum HUT ke-81 RI dimaknai sebagai pengingat pentingnya menjaga perdamaian yang telah diraih Aceh lebih dari dua dekade terakhir. Harapan masyarakat agar persatuan dan keamanan dapat terus terjaga, terasa semakin kuat seiring berkibarnya kembali Merah Putih di berbagai sudut kota.
Menjelang hari kemerdekaan, bendera negara kini kembali menghiasi banyak titik strategis di Banda Aceh, menghadirkan pesan agar semangat persatuan dan perdamaian terus hidup di Tanah Rencong. (*)






































