Dua Dekade Lebih Menapaki Jalan Damai di Serambi Mekkah

Redaksi Bara News

- Redaksi

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 11:01 WIB

50110 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BARANEWS |  Helsinki, Finlandia, menjadi saksi lahirnya tonggak baru bagi masyarakat Aceh 21 tahun lalu, tepat pada 15 Agustus 2005. Pada hari itu, perwakilan Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) membubuhkan tanda tangan di atas nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) dalam sebuah momen bersejarah yang menandai berakhirnya konflik senjata berkepanjangan di ujung barat Sumatera tersebut.

Lahirnya kesepakatan damai ini merupakan buah dari kesadaran kedua belah pihak akan perlunya mengakhiri kekerasan di tengah duka nan mendalam pasca-bencana tsunami yang menerjang Aceh pada 26 Desember 2004. Tragedi kemanusiaan itu membuka ruang baru bagi niat dan tekad untuk mewujudkan perdamaian yang selama ini hanya menjadi harapan samar masyarakat Aceh di bawah bayang-bayang konflik. Perjalanan negosiasi yang difasilitasi mantan Presiden Finlandia, Martti Ahtisaari, di Helsinki, menghasilkan formula damai yang bukan hanya mengakhiri permusuhan bersenjata, tetapi juga menata ulang relasi politik, hukum, dan sosial antara Aceh dan pemerintah pusat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sesuai isi kesepahaman, pemerintah Indonesia dan GAM sepakat menanggalkan seluruh bentuk operasi militer, menggantinya dengan ruang dialog setara yang terbuka bagi seluruh unsur masyarakat sipil. Reintegrasi mantan kombatan ke kehidupan sipil dijalankan di bawah mekanisme demokrasi dan otonomi khusus, memperkuat posisi Aceh dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Realisasi kesepakatan dipastikan berjalan sesuai rencana melalui pengawasan lembaga internasional Aceh Monitoring Mission (AMM), mulai dari penarikan pasukan non-organik, proses pelucutan senjata, hingga pembebasan tahanan politik.

Seluruh rangkaian damai tersebut bagi masyarakat Aceh bukan sekadar catatan diplomatik, melainkan titik mulai terbukanya harapan dan peluang menata masa depan lewat partisipasi politik damai. Dua dekade lebih telah berlalu sejak suara senjata perlahan sirna dan ruang demokrasi tumbuh di Serambi Mekkah, menegaskan bahwa dialog dan komitmen bersama adalah pondasi utama perdamaian yang hakiki. (*)

Berita Terkait

Mengapa Simbol Bulan Bintang Tak Kunjung Tuntas di Aceh, dan Siapa yang Bertanggung Jawab atas Penyelesaian?
Spanduk Kebencian: Ancaman Serius bagi Demokrasi Aceh
Memahami Kerja Pers: Membedakan Wartawan dan Kontributor
Memahami Kerja Pers: Membedakan Wartawan dan Kontributor
Bencana Alam di Aceh: Luka Menganga di Serambi Mekah, Tuntutan Bencana Nasional dan Penegakan Hukum Menguat
Editorial: Jangan Biarkan Hukum Dipermainkan
Editorial | Negara Tak Boleh Tunduk pada Tambang
Verifikasi Dewan Pers: Antara Standarisasi atau Pembodohan Publik?

Berita Terkait

Kamis, 20 Agustus 2026 - 06:48 WIB

Pemerintah Izinkan PT Timah Beli Bijih Timah dari Rakyat untuk Redam Gejolak di Bangka Belitung

Kamis, 20 Agustus 2026 - 06:36 WIB

Menteri Pertanian Copot 14 Pejabat Terkait Dugaan Korupsi sebagai Langkah Bersih-Bersih Kementerian

Kamis, 20 Agustus 2026 - 06:19 WIB

Utang Luar Negeri Indonesia Tembus Rp 8.088 Triliun pada Triwulan II-2026

Kamis, 20 Agustus 2026 - 05:51 WIB

Polri Pastikan Tindakan Penyidikan Kasus Febrie Adriansyah Sudah Sesuai Prosedur

Kamis, 20 Agustus 2026 - 05:46 WIB

Sidang Praperadilan Febrie Adriansyah: Kuasa Hukum Soroti Dugaan Cacat Prosedur Penyitaan

Kamis, 20 Agustus 2026 - 05:42 WIB

Mahfud MD Soroti Kemajuan dan Ketimpangan, Serukan Perbaikan Integritas Kekuasaan di Usia 81 Tahun Kemerdekaan Indonesia

Kamis, 20 Agustus 2026 - 05:34 WIB

Saksi LKPP Jelaskan Mekanisme e-Katalog dalam Sidang Banding Nadiem Makarim

Rabu, 19 Agustus 2026 - 14:55 WIB

Pemerintah Kejar Revisi UUPA Tahun Ini, Menkum: Presiden Perintahkan Selesaikan Persoalan Aceh Jelang Otsus Berakhir 2027

Berita Terbaru