KUTACANE – Mentari belum tinggi, tapi denyut semangat telah terasa sejak fajar menyingsing di bumi Aceh Tenggara. Di Lapangan Jenderal Ahmad Yani yang terhampar megah tepat di depan Masjid Agung At-Taqwa, ribuan warga berkumpul dalam satu tarikan napas kebersamaan. Suasana pagi itu, Minggu 22 Juni 2025, berubah menjadi lautan manusia yang datang dengan langkah ringan dan hati lapang, siap mengukir jejak-jejak silaturahmi dalam balutan gerak jalan santai.
Acara ini adalah bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-51 Kabupaten Aceh Tenggara yang akan jatuh pada 26 Juni mendatang. Usia yang tak muda lagi bagi sebuah daerah yang dibangun dengan keringat dan harapan, dengan perjuangan dan persatuan. Dan pagi itu, usia tersebut dirayakan bukan hanya dengan kata-kata, melainkan dengan langkah bersama yang menelusuri jalan-jalan kota Kutacane — jalan yang dulu mungkin berdebu oleh sejarah, namun kini dipenuhi senyum dan tawa generasi baru.
Bupati Aceh Tenggara, M. Salim Fakhry, berdiri di hadapan peserta dengan tatapan teduh dan suara mantap. Di sampingnya, hadir sang wakil bupati, para pejabat Forkopimda, dan para kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), menjadi saksi dimulainya perjalanan kecil yang penuh makna. Ribuan peserta dari berbagai usia dan latar belakang, tanpa sekat jabatan ataupun kasta, berbaur menjadi satu. Dalam langkah serentak, mereka tidak sekadar bergerak untuk sehat, tetapi bergerak untuk menguatkan benang-benang persaudaraan.
Bupati Salim Fakhry menyampaikan kegembiraannya atas antusiasme masyarakat yang luar biasa. Ia menyebut bahwa kegiatan seperti ini bukan hanya menyehatkan tubuh, tetapi juga menyegarkan jiwa, karena di sanalah silaturahmi tumbuh, dan keakraban terajut erat. Ia mengapresiasi seluruh panitia yang telah bekerja keras menyusun kegiatan ini, serta semua pihak yang ikut berperan dalam menyukseskannya. Dengan suara yang mengalun tenang namun berisi, ia berkata bahwa ini adalah bentuk nyata dari cinta masyarakat terhadap tanah kelahiran, tempat di mana akar budaya dan nilai luhur terus tumbuh dan hidup.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga keharmonisan antarumat beragama, antarbudaya, dan antargenerasi. Dalam satu langkah bersama, menurutnya, kita sedang membangun jembatan-jembatan batin yang tak kasat mata — jembatan kasih, jembatan saling mengenal, dan jembatan saling percaya. Gerak jalan ini, meski hanya sesaat, namun maknanya dalam. Sebab yang bergerak bukan hanya tubuh, tapi juga hati. Hati-hati yang menyatu dalam cinta akan damai dan harapan akan masa depan.
Rute yang ditempuh peserta berawal dari halaman Masjid Agung At-Taqwa, menyusuri pasar belakang Desa Prapat Hulu, melintasi kawasan Polo Latong, dan kemudian kembali menuju Lapangan Ahmad Yani. Sepanjang jalan, masyarakat menyambut dengan semangat. Anak-anak melambaikan tangan, para pedagang tersenyum ramah, dan udara Kutacane pagi itu seolah dipenuhi berkah yang turun perlahan, menyelimuti langkah para peserta yang penuh semangat.
Tiba di garis akhir, acara tak lantas selesai begitu saja. Puncaknya adalah pengundian kupon berhadiah yang telah disiapkan panitia. Suasana berubah menjadi riuh oleh harap dan tawa, saat nomor demi nomor dipanggil, dan para pemenang melangkah maju dengan wajah bersinar. Di antara hadiah-hadiah yang dibagikan, ada dua unit sepeda motor matic, televisi layar datar, kulkas, dan berbagai hadiah menarik lainnya — bukan soal besar nilainya, tapi besar maknanya sebagai bentuk perhatian dan apresiasi untuk masyarakat yang turut serta merayakan hari jadi kabupaten tercinta.
Hari itu, Aceh Tenggara tidak sekadar memperingati ulang tahun ke-51. Lebih dari itu, ia merayakan kehidupan — kehidupan yang terus bergerak dalam damai, bersatu dalam semangat, dan tumbuh dalam kebersamaan. Tak ada kata lebih tepat selain syukur. Syukur untuk langkah-langkah pagi yang bersahaja namun bermakna, dan untuk tanah ini yang terus menjadi rumah bagi ribuan harap yang tak pernah padam.









































