Bedah Buku Generasi Hijauku: Merawat Alam, Menjaga Identitas, Menumbuhkan Kesadaran

Redaksi Bara News

- Redaksi

Sabtu, 7 Februari 2026 - 05:19 WIB

50332 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gayo Lues 1 Februari 2026 — Upaya membangun kesadaran ekologis tidak cukup hanya dengan seruan moral atau kampanye sesaat. Dibutuhkan ruang literasi yang mampu menghubungkan pengetahuan, nilai, dan tindakan. Hal inilah yang mengemuka dalam kegiatan Bedah Buku Generasi Hijauku (Episode 1) yang menghadirkan Syahputra Ariga, Ketua Umum Perkumpulan Mahasiswa Gayo Lues Se-Indonesia (PMGI), sebagai pemateri utama.

Dalam pemaparannya, Syahputra Ariga menegaskan bahwa buku Generasi Hijauku tidak sekadar berbicara tentang lingkungan sebagai objek konservasi, melainkan memposisikan alam sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat Gayo. “Alam bukan hanya sumber daya ekonomi, tetapi ruang hidup yang membentuk cara berpikir, bertindak, dan berelasi. Ketika alam rusak, yang hilang bukan hanya fungsi ekologis, tetapi juga jati diri kolektif,” ujarnya.

Diskusi mengupas bagaimana perubahan cara pandang manusia terhadap alam—dari identitas menjadi komoditas—telah melahirkan berbagai krisis lingkungan. Kerusakan hutan, krisis air, konflik satwa, hingga pertanian yang tidak berkelanjutan dipahami sebagai “luka alam” yang berakar dari luka sosial: keserakahan, ketimpangan, dan hilangnya etika hidup.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Buku ini juga menyoroti memudarnya nilai-nilai adat Gayo seperti Kemali, Sumang, dan Edet yang dahulu berfungsi sebagai pagar moral dalam menjaga relasi manusia dengan alam. Syahputra Ariga menekankan bahwa krisis lingkungan tidak bisa dilepaskan dari krisis nilai. “Adat tidak boleh diposisikan sebagai romantisme masa lalu, tetapi sebagai nilai hidup yang kontekstual dan relevan dengan tantangan hari ini,” katanya.

Dalam konteks modernitas, diskusi menempatkan pemuda Gayo pada posisi strategis. Arus teknologi, media sosial, dan budaya global tidak dipandang sebagai ancaman mutlak, melainkan tantangan yang harus direspons dengan kesadaran identitas. Pemuda dituntut mampu berinovasi tanpa tercerabut dari akar budaya dan nilai ekologis. Modernitas yang tercerabut dari nilai, menurut buku ini, justru berpotensi mempercepat kerusakan alam dan krisis sosial.

Isu kopi Gayo menjadi salah satu bahasan penting. Kopi tidak hanya dipahami sebagai komoditas unggulan, tetapi simbol relasi manusia dengan tanah. Ketika dikelola tanpa etika ekologis, tanah menjadi lelah dan rentan rusak. Sebaliknya, praktik kopi berkelanjutan dapat menjadi jalan kemandirian ekonomi sekaligus pelestarian alam. Diskusi juga menyoroti lemahnya posisi tawar petani dalam rantai ekonomi kopi dan pentingnya membangun ekonomi hijau yang adil.

Lebih jauh, Generasi Hijauku menekankan pendidikan hijau sebagai jalan panjang perubahan. Pendidikan tidak hanya dimaknai sebagai proses di ruang kelas, tetapi juga melalui keluarga, komunitas, dan ruang-ruang literasi. “Literasi adalah jantung perubahan. Dengan membaca, berdiskusi, dan menulis, kesadaran ekologis tumbuh secara kritis, bukan dogmatis,” ujar Syahputra Ariga.

Dimensi spiritual turut menjadi landasan penting dalam diskusi. Menjaga alam dipahami sebagai bagian dari iman dan amanah Tuhan. Alam adalah ayat kehidupan yang harus dijaga, bukan dieksploitasi tanpa batas. Namun, tantangan terbesar adalah ketika pesan moral dan agama sering kali kalah oleh kepentingan ekonomi jangka pendek.

Menutup diskusi, buku ini mengajak pembaca melampaui wacana menuju tindakan nyata. Menjadi “Generasi Hijau” berarti berani memulai dari langkah kecil—dari kesadaran diri, komunitas, hingga gerakan kolektif. Seperti ditegaskan pemateri, “Kita bisa mengamalkan semua nilai itu apabila kita yakin dengan iman, mengusahakan dengan ilmu, dan menyampaikan dengan amal. Maka yakin, usaha sampai.”

Bedah buku ini menjadi penegasan bahwa literasi bukan hanya soal membaca teks, tetapi membaca realitas. Menjaga alam berarti menjaga manusia, budaya, dan harapan generasi masa depan.

Berita Terkait

Siswi Kelas IV SD Negeri 6 Blangkejeren Diduga Dianiaya Kakak Kelas, Orang Tua Desak Sekolah Bertindak
7 Urus Surat Pengadilan, 20 Lulus Administrasi Baitul Mal Gayo Lues: Pansel Sebut Bisa Diganti SKCK
Polres Gayo Lues Salurkan Bantuan Sosial kepada Korban Kebakaran Desa Lukup Baru
Hasan G Aman Selena Berpulang Kerahmatullah di RS Adam Malik Medan
Sanksi Administratif Gubernur Tak Dihiraukan, PT HAI Dituding Lawan Perintah Pemerintah, AMPL Bawa Persoalan ke Gakkum
Usai Rapat Siaga Karhutla, Damkar Gayo Lues Hadapi Dua Kebakaran dalam Hitungan Jam
Antrean Panjang di Jalan Nasional Blangkejeren–Kutacane, Warga Keluhkan Sistem Buka-Tutup
Kadis Damkar Gayo Lues Gelar Rapat Siaga Karhutla

Berita Terkait

Rabu, 2 September 2026 - 19:39 WIB

Hardikda Aceh ke-67, Semangat Cetak Generasi Berprestasi Menggema di Aceh Tenggara

Rabu, 2 September 2026 - 19:34 WIB

Hardikda Aceh ke-67, Semangat Cetak Generasi Berprestasi Menggema di Aceh Tenggara

Rabu, 2 September 2026 - 19:07 WIB

130 mahasiswa/mahasiswi FKIP universitas gunung lauser siap terjun untuk pengabdian lapangan,PPL 2026

Rabu, 2 September 2026 - 12:58 WIB

Kapolres Aceh Tenggara Beri Penguatan kepada Bhabinkamtibmas, Tekankan Kehadiran Polri di Tengah Masyarakat

Selasa, 1 September 2026 - 17:23 WIB

Cegah Karhutla, Polsek Babul Makmur Sambangi Warga dan Sosialisasikan Bahaya Kebakaran Hutan dan Lahan

Selasa, 1 September 2026 - 16:44 WIB

Harumkan Aceh Tenggara, Nadira Yana Hasmi Raih Juara 2 Olimpiade Bahasa Arab Aceh dan Melaju ke Tingkat Nasional

Selasa, 1 September 2026 - 16:34 WIB

HARUMKAN ACEH TENGGARA, Finalis OSN Dikdas 2026 Raih Emas Nasional, Sabet The Best Overall dan The Best Theory

Senin, 31 Agustus 2026 - 20:17 WIB

Kapolres Bersama Waka Polres Aceh Tenggara Pimpin Anev Mingguan, Evaluasi Kinerja dan Kesiapan Jajaran

Berita Terbaru