(Alm) H. Atip Usman: Ketika Saman Tidak Sekadar Ditarikan, Tapi Dijaga

Redaksi Bara News

- Redaksi

Sabtu, 7 Februari 2026 - 10:51 WIB

50416 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

GAYO LUES, BARANEWS |  Dalam denyut kehidupan masyarakat Gayo, di tengah bentangan alam yang sejuk dan senyap, terdapat sebuah seni yang tumbuh tidak hanya sebagai hiburan, tetapi sebagai identitas: Saman. Tarian yang telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda ini sesungguhnya lebih dari sekadar atraksi selaras gerak dan irama. Ia adalah kepatuhan pada adat, kekompakan yang melampaui koreografi, dan simbol pengabdian terhadap nilai-nilai kolektif masyarakat. Di balik keindahannya yang kerap memukau dunia, berdiri sosok-sosok penjaga budaya yang memilih bekerja dalam keheningan. Salah satunya adalah seorang anak Gayo bernama Atip Usman.

Nama H. Atip Usman tak banyak menghiasi media atau dikenal luas oleh pencinta seni di kota-kota besar. Namun di desa-desa pelosok Gayo Lues, ia menjadi rujukan, guru, pembimbing, dan panutan—seseorang yang bukan hanya mengajarkan bagaimana Saman ditarikan, tetapi juga bagaimana ia dimaknai. Selama puluhan tahun hidupnya, Atip Usman mendedikasikan waktu untuk menjaga ruh Saman tetap utuh. Ia percaya bahwa jika hanya bentuk lahiriah yang dipertontonkan sementara jiwanya hilang, maka sama saja mereduksi warisan leluhur menjadi tontonan semata.

Sejak usia muda, beliau telah aktif dalam pelatihan Saman di berbagai kampung. Bukan hanya pada saat festival atau hajatan besar, tetapi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Dengan pendekatan penuh kesabaran dan kedekatan emosional yang kuat, Atip Usman berhasil menanamkan nilai-nilai luhur kepada anak-anak muda: kebersamaan dalam ritme, disiplin dalam gerak, toleransi dalam barisan. Ia selalu mengingatkan bahwa Saman tidak boleh ditarikan tanpa memahami makna lantunan syair yang dibawakan, tidak boleh digerakkan tanpa menghormati adat yang mengiringinya, dan tidak boleh dimodifikasi sekadar untuk panggung hiburan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tidak jarang, beliau terlibat langsung dalam merancang pelatihan, menjadi pengarah artistik dalam pementasan tradisional, sekaligus menjaga orisinalitas busana, bahasa, dan musik pengiring. Atip Usman dikenal tidak mudah tergoda dengan modernisasi yang merusak akar, walaupun hal itu membuatnya dipandang ‘ketinggalan zaman’ oleh segelintir pihak. Baginya, menjaga tetap hidupnya nilai jauh lebih penting daripada beradu modernitas dengan gemerlap panggung.

Apa yang dilakukan Atip Usman bukan tanpa tantangan. Ketika generasi muda mulai banyak yang bergeser perhatian, ketika permintaan untuk membuat Saman lebih “komersial” datang dari luar, ia tetap berdiri tegak. Menolak lunak terhadap hal-hal yang menurutnya melemahkan inti budaya. Ia lebih memilih memperkuat fondasi daripada mengejar popularitas instan. Bahkan ketika usia telah senja, kepeduliannya tidak luntur. Ia terus membina, membimbing, dan dalam diam menciptakan kader-kader baru yang kini mulai meneruskan semangatnya.

Kepergian Atip Usman menyisakan duka yang tidak hanya dirasakan oleh keluarga dan kawan dekat, tetapi oleh sebuah komunitas budaya yang kehilangan salah satu tiangnya. Dalam sunyi, ia telah menyulam ketahanan budaya dengan penuh dedikasi. Dalam diam, ia menenun erat makna gotong royong dan kecintaan pada tanah kelahiran melalui tarian kebanggaan masyarakat Gayo.

Di tengah upaya pelestarian budaya yang kian penting dewasa ini, sosok seperti Atip Usman layak diakui secara resmi. Penghargaan bukanlah tujuan utama, namun bentuk tanggung jawab moral dari negara terhadap penjaga budaya seperti beliau. Sudah saatnya nama Atip Usman dimajukan untuk Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, khususnya di bawah kategori Maestro Seni Tradisi.

Pengakuan negara adalah bentuk penghormatan kepada proses panjang yang tak selalu terlihat. Untuk guru-guru budaya yang bekerja dalam hening, menjaga warisan tak benda tetap bernyawa. Untuk mereka yang memilih warisan batin daripada sorotan panggung. Tarian Saman memang telah mendunia, tetapi jiwanya harus tetap dijaga agar tidak tercerabut dari akar. Dan sosok seperti Atip Usman-lah yang selama ini menjaga akar itu tetap subur dalam tanah peradaban Gayo.

Hormatilah mereka yang mencintai budaya dengan cara merawatnya. Jika kita bangga pada Saman, maka sudah semestinya kita peduli pada para penjaganya. Suara kita hari ini adalah bentuk terima kasih yang tertunda. Agar generasi mendatang tidak hanya mengenal tarian, tapi juga mengenal jiwa yang menghidupinya. (*)

Berita Terkait

Sholat Subuh Keliling, Polres Gayo Lues Jalin Silaturahmi dan Serap Aspirasi Masyarakat
Wakil Menteri Koperasi Tinjau Kesiapan Koperasi Desa Merah Putih di Gayo Lues
Bupati Gayo Lues Imbau Warga Tingkatkan Kewaspadaan di Tengah Cuaca Ekstrem
BPJS Ketenagakerjaan Serahkan Santunan Meninggal Dunia kepada Dua Ahli Waris di Gayo Lues
Bantuan Masa Panik Disalurkan untuk Korban Puting Beliung dan Banjir di Gayo Lues
Bantuan Pangan Bulog untuk 18.500 Warga Gayo Lues: Menjaga Ketahanan di Tengah Tantangan Ekonomi
BGN Setop Sementara 17 Dapur MBG di Aceh Tenggara dan Gayo Lues
Hakim Diuji Keadilan, Rabusin Tegaskan Fakta Hukum dan Kepastian Hak di Tengah Sengketa Agraria

Berita Terkait

Rabu, 15 April 2026 - 23:16 WIB

Sekda Aceh Dinilai Jebak Muallem dengan Kebijakan JKA, Ketua IKA-UTU Desak Evaluasi dan Koreksi Segera

Sabtu, 11 April 2026 - 00:48 WIB

Kakanwil DJBC Aceh Laksanakan Kunjungan Kerja Perdana ke Bea Cukai Meulaboh

Selasa, 31 Maret 2026 - 16:26 WIB

Kasus Mawardi Basyah Anggota DPRA GeRAK Desak Kejari Aceh Barat Eksekusi Keputusan MA RI.

Kamis, 19 Maret 2026 - 01:00 WIB

Raih Poin Tertinggi, Habibi Aceh Masuk Grand final AKSI Indonesia 2026

Selasa, 17 Maret 2026 - 02:32 WIB

Bupati Tarmizi: Habibi Menjadi Inspirasi dan Motivasi Bagi Generasi

Selasa, 10 Maret 2026 - 18:55 WIB

MUQ Aceh Selatan MoU Prodi Ilmu Al-Qur’an Tafsir STAIN TDM

Jumat, 6 Maret 2026 - 00:13 WIB

BPC HIPMI Abdya dan Perusahaan Muda Jaya Mandiri Syariah Berbagi Takjil untuk Ratusan Anak Yatim

Kamis, 5 Maret 2026 - 04:33 WIB

Ulama Muda Aceh Dukung Tgk. Habibi di Ajang AKSI Indonesia 2026

Berita Terbaru

BENER MERIAH

Syahriadi Nahkodai PGRI Bener Meriah Periode 2025–2030

Sabtu, 18 Apr 2026 - 10:41 WIB