Aceh Selatan di Tangan Para Plt: Ketika Pemerintah Hadir dengan Wajah yang Tak Pasti

Redaksi Bara News

- Redaksi

Kamis, 11 Desember 2025 - 00:49 WIB

50328 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penulis : Ferizal Salami, SE.Ak (Mahasiswa Magister FEB USK, Pemerhati Pemerintahan)

Aceh Selatan sedang mengalami krisis yang tak sekadar bersumber dari bencana alam. Di balik banjir dan longsor yang merendam wilayah Trumon Raya dan sekitarnya, terdapat bencana lain yang jauh lebih senyap yakni runtuhnya kepastian dalam struktur pemerintahan akibat menjamurnya pejabat berstatus Pelaksana Tugas (Plt). Fenomena ini, yang jarang terjadi di daerah manapun di Indonesia dengan skala sebesar ini, justru menggambarkan wajah negara atau pemerintah yang hadir, tetapi dalam bentuk yang gamang, rapuh, dan tak sepenuhnya legitim.

Penonaktifan sementara Bupati Mirwan MS diikuti penunjukan Wakil Bupati sebagai Plt Bupati mungkin tampak sebagai prosedur administratif biasa. Namun yang terjadi di Aceh Selatan melampaui sekadar pergantian sementara. Kita sedang menyaksikan sebuah pemerintahan lokal yang berdiri di atas fondasi pejabat sementara: Plt Sekda, Plt para kepala dinas vital, hingga puluhan pejabat eselon yang juga bersatus Plt. Ini bukan sekadar anomali birokrasi; ini adalah tanda jelas bahwa tata kelola pemerintah daerah memasuki fase krisis struktural.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

*Pemerintahan Tanpa Kepastian*

Dalam teori administrasi publik, pejabat Plt berada pada posisi yang rentan, yaitu memikul tanggung jawab besar tetapi memiliki kewenangan terbatas. Ketika status itu hanya satu atau dua, birokrasi masih dapat berjalan. Namun ketika hampir seluruh pucuk strategis dipimpin oleh Plt, maka yang terjadi adalah governance paralysis, yakni lumpuhnya kemampuan membuat keputusan yang cepat, tegas, dan berorientasi pelayanan publik.

Dalam konteks bencana seperti di Aceh Selatan, situasi ini menimbulkan risiko tinggi. Pejabat Plt sering menghadapi dilema, berupa keputusan anggaran darurat harus cepat, tetapi otoritasnya terbatas; tindakan penyelamatan harus tegas, tetapi status jabatannya membuat mereka berhitung dengan ketakutan administratif. Akibatnya, proses koordinasi melambat, jalur instruksi kabur, dan waktu kritis untuk menyelamatkan warga terbuang dalam keragu-raguan birokrasi.

Penelitian kebijakan menunjukkan bahwa struktur yang dipenuhi pejabat sementara melemahkan legitimasi internal dan eksternal. Birokrat di bawahnya ragu mengikuti instruksi, sementara publik mempertanyakan kemampuan pemimpin menghadapi krisis. Inilah yang kini dirasakan masyarakat Aceh Selatan yakni berupa ketidakjelasan siapa yang benar-benar memimpin.

*Kepemimpinan yang Harus Mengembalikan Kepercayaan*

Penunjukan H. Baital Mukadis sebagai Plt Bupati seharusnya menjadi momentum pemulihan, bukan sekadar formalitas. Ia menghadapi dua persoalan besar sekaligus: penanganan bencana yang membutuhkan tindakan cepat dan penataan ulang struktur birokrasi yang telah lama dibiarkan menggantung.

Konsolidasi birokrasi menjadi langkah paling mendesak. Plt Bupati harus melakukan audit menyeluruh terhadap posisi-posisi Plt yang ada, menilai ulang kelayakan pejabat yang dapat segera didefinitifkan, dan menegaskan kembali garis komando dalam penanganan bencana. Tanpa struktur yang jelas dan pejabat yang memiliki legitimasi penuh, setiap strategi penanganan krisis akan rapuh sejak awal.

Transparansi adalah fondasi berikutnya. Publik berhak mengetahui alasan mengapa begitu banyak jabatan tidak didefinitifkan, apa hambatannya, serta bagaimana roadmap penataan ulang dilakukan. Tanpa keterbukaan, setiap langkah pemerintah akan dibayangi kecurigaan politik-birokratik yang memperburuk kepercayaan publik.

Dalam literatur good governance, reformasi ASN adalah kunci stabilitas jangka panjang. Aceh Selatan harus beranjak dari pola mutasi jangka pendek berbasis kepentingan dan kembali pada sistem merit berupa kompetensi, pengalaman, dan integritas. Selama penataan jabatan diperlakukan sebagai alat politik, bukan instrumen profesional, krisis “pemerintahan sementara” akan terus menghantui daerah ini.

Pada akhirnya, krisis di Aceh Selatan hari ini bukan hanya persoalan banjir yang menggenangi desa-desa, tetapi juga banjir ketidakpastian yang melanda struktur pemerintahan. Bencana alam bisa dipetakan, dihitung, bahkan diprediksi. Tetapi bencana tata kelola, ketika negara hadir dengan wajah yang tidak pasti, dengan pemimpin yang serba sementara, maka akan meninggalkan kerusakan yang jauh lebih panjang dan lebih dalam.

Aceh Selatan membutuhkan pemimpin yang tidak hanya hadir di helicopter landing spot, tetapi hadir dalam keputusan. Hadir dalam kepastian. Hadir dalam legitimasi. Dan itu hanya mungkin jika pemerintah daerah berani keluar dari bayang-bayang status “sementara” yang selama ini membelenggu.

Sebab pemerintahan yang dibangun di atas fondasi Plt bukan hanya melemahkan birokrasi, ia melemahkan negara di mata rakyatnya.

Berita Terkait

Produktivitas Pariwisata Dipertanyakan, Aktivis Desak Bupati Evaluasi Kadis Pariwisata Aceh Selatan
Himpunan Mahasiswa Aceh Selatan Apresiasi Ketegasan Bupati Mirwan MS Utamakan Pelayanan Kesehatan Rakyat
H. Mirwan Lantik Sekda Definitif Aceh Selatan; Tonicko Anggara: Semoga Mampu Menerjemahkan Visi Aceh Selatan Maju dan Produktif dengan Realisasi Konkret
Sekda Aceh Selatan Dilantik Besok, Tim MANIS Titip Harapan Penguatan Birokrasi untuk Optimalkan Realisasi Visi dan Misi
Disfungsi Birokrasi Pendidikan Aceh Selatan: Aktivis Tuding Kadisdik dan Kacabdin Gagal Total, Krisis Ini Tak Lagi Bisa Ditoleransi
Kepala BPMP Aceh Kunjungi Disdikbud Aceh Selatan, Siap Bersinergi Terapkan Program Prioritas Pendidikan Nasional
Kecanduan Judol, Nyawa Ibu Kandung Melayang
Plt Kadisdikbud : Penataan Kepala Sekolah di Aceh Selatan Mengacu Permendikdasmen Nomor 7 Tahun 2025

Berita Terkait

Jumat, 15 Mei 2026 - 02:24 WIB

JASA Bireuen Dukung Penuh Pergub JKA 2026: Bukti Keberpihakan Pemerintah Aceh kepada Rakyat

Rabu, 13 Mei 2026 - 14:54 WIB

Bea Cukai Lhokseumawe Perkuat Pendampingan Industri Hasil Tembakau Lewat Customs Visit Customer di Bireuen

Jumat, 24 April 2026 - 04:33 WIB

Iswahyudi Terima SK DPP PAN, Konsolidasi Politik PAN Bireuen Diperkuat Jelang Agenda Strategis Daerah

Minggu, 12 April 2026 - 18:48 WIB

350 Hektare Sawah di Gandapura Terselamatkan dari Ancaman Gagal Panen, Respons Cepat Pemerintah Jadi Kunci

Rabu, 1 April 2026 - 20:47 WIB

Aksi Kemanusiaan Bea Cukai Lhokseumawe Salurkan Lebih dari 7 Ton Bantuan untuk Warga Terdampak Bencana di Aceh

Jumat, 27 Maret 2026 - 00:32 WIB

Aksi Kemanusiaan Bea Cukai Lhokseumawe Salurkan Lebih dari 7 Ton Bantuan untuk Warga Terdampak Bencana di Aceh

Jumat, 27 Februari 2026 - 00:24 WIB

Salurkan Bantuan, Bea Cukai Lhokseumawe ke Gampong Teupin Raya

Minggu, 15 Februari 2026 - 21:55 WIB

Dek Gam Tunjuk Wapres Persiraja Nahkodai PAN Bireuen

Berita Terbaru

ACEH BARAT DAYA

Tak Hanya Bangun Infrastruktur, Satgas TMMD Abdya Benahi Mushola Warga

Minggu, 17 Mei 2026 - 19:16 WIB

ACEH BARAT DAYA

Satgas TMMD dan Masyarakat Jibaku Bongkar Atap Rumah Warga Kurang Mampu

Minggu, 17 Mei 2026 - 18:20 WIB

ACEH BARAT DAYA

Excavator Dikerahkan, TMMD Abdya Percepat Pembangunan Jalan Pegunungan

Minggu, 17 Mei 2026 - 16:51 WIB