GAYO LUES – Pertanyaan kritis menggema di Kabupaten Gayo Lues terkait nasib Jembatan Aih Bobo di Desa Rigep yang hingga kini masih dibiarkan dalam kondisi darurat. Jembatan yang menjadi urat nadi penghubung sejumlah kampung menuju Rumah Sakit Ali Kasim itu tak kunjung dibangun permanen oleh pemerintah pusat, padahal telah dua kali ditinjau langsung oleh Wakil Presiden RI.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, Wakil Presiden Gibran Rakabuming meninjau langsung Jembatan Aih Bobo pada Rabu, 17 Desember 2025, sebagai bagian dari pengawalan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk pemulihan pascabencana. Dalam kunjungan tersebut, Wapres menerima paparan dari Kepala Dinas PUPR Gayo Lues terkait kerusakan jembatan dan penanganan sementara yang hanya berupa jembatan kayu yang dapat dilalui pejalan kaki dan kendaraan roda dua.
Di hadapan warga dan jajaran pemerintah daerah, Wapres menegaskan bahwa putusnya 95 jembatan di Aceh menjadi pekerjaan rumah pemerintah pusat. Ia berjanji akan segera memperbaiki akses tersebut agar arus logistik, sembako, dan BBM kembali lancar.
Namun fakta di lapangan justru menunjukkan janji itu belum terwujud. Pada 10 Oktober 2026, Sungai Aih Bobo di Bukit Rigeb kembali meluap dengan debit besar dan air keruh pekat, disusul banjir yang merendam Jalan Badak pada 11 Oktober 2026. Jembatan darurat yang ada nyaris tidak dapat dilalui dan membahayakan keselamatan warga yang harus menyeberang untuk berobat maupun mengangkut kebutuhan pokok.
Kondisi ini memicu kritik tajam. Dua kali kunjungan orang nomor dua di republik ini ke lokasi bencana dinilai tidak diterjemahkan menjadi aksi nyata oleh kementerian teknis di Jakarta. Warga yang harus mengantre BBM hingga berjam-jam dan mempertaruhkan nyawa di atas papan kayu lapuk setiap hari kini mempertanyakan keseriusan pemerintah pusat dalam menjaga konektivitas wilayah terdampak bencana.
Jika penanganan hanya berhenti pada peninjauan dan pendirian jembatan kayu sementara, maka siklus terisolirnya warga Gayo Lues akan terus berulang setiap musim hujan. Pemerintah pusat didesak untuk segera merealisasikan pembangunan Jembatan Aih Bobo secara permanen, bukan sekadar mencatatnya sebagai laporan kunjungan kerja. (*)








































