GAYO LUES – Arus sungai yang meluap dengan material lumpur pekat menerjang permukiman di kawasan perbukitan Gayo Lues, meninggalkan pemandangan pilu warga yang hanya mampu menyaksikan dari atas tebing tanpa bisa berbuat banyak. Aliran air berwarna cokelat keruh bergerak liar, menggerus bibir sungai dan membawa batang kayu serta lumpur dalam volume besar.
Berdasarkan pantauan, peristiwa itu terjadi di kawasan Remukut, Kabupaten Gayo Lues, Aceh. Luapan terjadi begitu cepat hingga aliran sungai yang biasanya menjadi sumber kehidupan warga berubah menjadi banjir bandang yang meluas hingga ke area permukiman. Warga terlihat berkumpul di tepi jalan desa, sebagian berdiri mematung, sebagian duduk terdiam menatap derasnya arus yang mustahil dilawan secara manual.
Lanskap khas Gayo Lues yang dikelilingi perbukitan curam dan hutan lebat memperparah dampak luapan. Kabut tipis menyelimuti puncak bukit, pepohonan di bantaran sungai tampak bergoyang keras dihantam arus. Beberapa rumah panggung yang berada di garis sempadan sungai berada dalam jarak yang sangat dekat dengan jangkauan air bah.
Tidak ada upaya penyelamatan harta benda yang terlihat. Warga memilih menjauh dan pasrah, sebuah sikap yang menggambarkan betapa bencana hidrometeorologi datang tanpa peringatan memadai. Ekspresi kepasrahan itu menjadi simbol betapa rentannya warga bantaran sungai di pedalaman Gayo terhadap ancaman banjir bandang saat curah hujan tinggi.
Kejadian yang terekam pada Minggu, 28 September 2026 tersebut hingga kini belum ada laporan resmi terkait korban jiwa maupun taksiran kerugian, namun peristiwa ini kembali menegaskan urgensi mitigasi bencana, penataan kawasan sempadan sungai, dan sistem peringatan dini di wilayah pegunungan Gayo Lues agar kejadian serupa tidak terus berulang. (*)








































