Jakarta, 23 September 2026 – Posisi Menteri Keuangan kembali mengalami pergantian setelah Purbaya Yudhi Sadewa dicopot dari jabatannya di tengah dinamika pengelolaan anggaran negara. Perubahan ini menjadi sorotan tajam publik lantaran dilakukan secara mendadak saat yang bersangkutan tengah menjalankan tugas kedinasan, yang dinilai sebagai cerminan lemahnya posisi tawar Menteri Keuangan di hadapan kepentingan istana.
Sebagaimana dikutip dari kanal Tempodotco, pergantian posisi ini disinyalir bukan menjadi solusi untuk menghadirkan pengelolaan fiskal yang lebih teknokratis dan akuntabel. Akar masalah justru dinilai terletak pada arah kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang cenderung menekan disiplin fiskal demi membiayai program-program prioritas pemerintah yang memerlukan anggaran besar, seperti program makan bergizi gratis dan koperasi merah putih.
Ketegangan internal ditengarai menjadi pemicu utama di balik pencopotan tersebut, terutama setelah adanya gesekan terkait perombakan jajaran pejabat di Direktorat Jenderal Pajak serta Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Posisi Purbaya yang sebelumnya dianggap aman karena selalu mengikuti arahan istana, akhirnya terguncang setelah melakukan perombakan internal yang menyenggol orang-orang dekat lingkaran Presiden. Langkah ini kemudian memicu protes yang berujung pada pembatalan kebijakan tersebut oleh pihak istana.
Kini, beban pengelolaan keuangan negara beralih ke tangan Suahasil Nazara. Tantangan yang dihadapi menteri baru ini diprediksi tidak akan mudah karena harus mendayung di antara dua kepentingan besar, yakni mempertahankan disiplin kebijakan fiskal agar tetap proporsional serta menjaga loyalitas penuh kepada ambisi politik Presiden. Selama proyek-proyek yang dianggap tidak mendesak namun boros anggaran tetap dipaksakan, posisi Menteri Keuangan dikhawatirkan hanya akan menjalankan fungsi administratif sebagai kasir untuk membayar tagihan proyek istana, alih-alih menjadi penjaga gawang keuangan negara yang kredibel.








































