Kulon Progo | Sebanyak 27 siswa MTs Maarif Jangkaran, Congot, Kecamatan Temon, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengalami keluhan pusing, mual, hingga muntah setelah menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Rabu (16/9/2026). Insiden ini memicu kepanikan di lingkungan sekolah dan menjadi perhatian serius baik bagi pihak sekolah maupun otoritas kesehatan setempat.
Mayoritas siswa yang mengalami gejala adalah siswa kelas 9 putra. Dari total korban, empat siswa terpaksa dilarikan ke puskesmas karena kondisinya cukup berat, sementara sisanya masih menjalani perawatan di sekolah. Menurut keterangan Kepala MTs Maarif Jangkaran, Muh Nizar, keluhan mulai muncul sekitar 30 menit setelah para siswa menyantap makanan yang terdiri dari nasi, sayur jipang dengan bakso, tahu goreng, dan ayam goreng. Siswa laki-laki kelas 9 menjadi kelompok pertama yang menerima dan memakan jatah MBG sekitar pukul 10.30 pagi, sementara siswa perempuan dan kelas lain belum sempat makan sebelum makanan ditarik kembali.
Saat keluhan muncul, pihak Sekolah Penyelenggara Program Gizi (SPPG) langsung menginstruksikan agar seluruh makanan ditarik sebelum didistribusikan lebih lanjut. Namun langkah tersebut sudah terlambat bagi siswa yang telah menyantap menu, terutama ayam yang dikeluhkan berlendir dan berbau tidak segar. Sejumlah pelajar menyatakan ayam goreng terasa aneh dan mengaku langsung merasa mual.
Kepala sekolah mengaku ikut mencicipi makanan namun tidak mengalami gejala serupa. Ia hanya sempat memakan sedikit bagian ayam. Sementara itu, pengakuan siswa tetap menyoroti kualitas ayam goreng sebagai penyebab utama dugaan keracunan makanan.
Kepala Puskesmas II Temon, Viera Juniver Thenu, menyebutkan 28 siswa dari MTs Maarif Jangkaran melaporkan gejala pusing, mual, muntah, serta sakit perut. Dua siswa bahkan sempat dipasangkan oksigen saat mendapat perawatan di puskesmas, namun kondisinya pulih dan seluruh siswa kini sudah diperbolehkan pulang. Pendataan masih dilakukan dan tim epidemiologi puskesmas telah mengedarkan formulir investigasi untuk menelusuri lebih lanjut penyebab pasti insiden ini.
Upaya pengambilan sampel makanan terkendala karena menu MBG di sekolah sudah keburu ditarik usai laporan kasus. Puskesmas akhirnya berusaha mencari sampel di sekolah lain untuk keperluan pemeriksaan. Sampai saat ini, belum ditemukan kasus serupa pada guru atau pihak dewasa di sekolah tersebut.
Kejadian ini memicu sorotan keras terhadap ketatnya pengawasan kualitas makanan di program MBG. Penjelasan mengenai penyebab pasti kasus keracunan masih menunggu hasil investigasi tim kesehatan. Namun, rangkaian kasus ini menegaskan perlunya pengetatan standar keamanan pangan, terutama di program intervensi makanan massal bagi siswa di sekolah. Warga dan pihak sekolah mendesak evaluasi menyeluruh agar peristiwa serupa tidak terulang, demi keselamatan dan kesehatan para pelajar. (*)








































