SURAKARTA – Kediaman pribadi Presiden ke-7 RI Joko Widodo di kawasan Sumber, Surakarta, Jawa Tengah, didatangi massa yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Indonesia Bergerak pada Kamis (10/9/2026). Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk protes atas pernyataan Ketua Umum Projo, Budi Arie, yang sebelumnya melontarkan isu mengenai adanya indikasi gerakan makar.
Dalam aksinya, massa menuntut klarifikasi dan menyampaikan surat peringatan serta plakat sebagai simbol keresahan mereka terhadap situasi politik nasional. Bangun Sutoto, perwakilan massa, menyatakan bahwa kehadiran mereka di kediaman tersebut didorong oleh kepedulian terhadap stabilitas Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ia menegaskan bahwa posisi Joko Widodo yang terlihat duduk berdampingan saat Budi Arie menyampaikan pernyataan kontroversial tersebut menjadi pemantik kekecewaan publik. Massa menuntut agar pihak-pihak terkait, termasuk mantan kepala negara, tidak terlibat dalam manuver yang dianggap melanggar konstitusi dan berpotensi memicu kegaduhan.
Situasi di lokasi sempat diwarnai permintaan massa untuk bertemu langsung dengan Joko Widodo. Namun, pihak pengamanan dalam, termasuk personel Paspampres Serka Zainudin, memberikan penjelasan bahwa setiap pemberian dokumen maupun audiensi harus melalui prosedur administratif yang berlaku melalui staf sekretariat. Ajudan Joko Widodo, AKBP Syarif Fitriansyah, menyatakan bahwa pihaknya telah menerima surat dan plakat tersebut secara resmi. Ia memastikan bahwa seluruh aspirasi yang tertuang dalam dokumen akan disampaikan kepada Joko Widodo untuk dibaca. Terkait permintaan pertemuan, Syarif menegaskan bahwa keputusan akhir mengenai jadwal audiensi sepenuhnya bergantung pada kesediaan dan agenda yang bersangkutan. (*)








































