Gayo Lues – Bencana longsor yang menutup total Jalan Lintas Kutacane–Blangkejeren di kawasan Puteri Betung, terutama di Titi Maut, telah memicu kemarahan dan keprihatinan mendalam dari masyarakat. Sejak Selasa malam, delapan September dua ribu dua puluh enam (8/9/2026), ratusan (100-an) pengendara, warga sekitar, hingga keluarga yang tengah melakukan perjalanan terjebak tanpa kepastian kapan jalur vital tersebut dapat dibuka kembali.
Bencana yang memutus akses utama dua kabupaten ini jelas menunjukkan betapa buruknya kesiapsiagaan pemerintah, khususnya jajaran Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN), Dinas PUPR, hingga pemerintah daerah Gayo Lues. Meski sudah ada peringatan cuaca ekstrem dan potensi bencana, namun fakta di lapangan sangat memprihatinkan. Tidak satu pun (1) alat berat maupun petugas penanganan bencana tampak di lokasi hingga siang ini, membuat warga harus merasakan langsung dampak kemacetan total, ketiadaan logistik, serta putusnya aliran listrik dan koneksi internet yang sangat dibutuhkan.
Salah satu titik longsor terparah terjadi di kawasan Titi Maut, Desa Singah Mulo, Dusun Air Panas. Material longsor berupa tanah dan batu menimbun badan Jalan Lintas Kutacane–Blangkejeren sehingga tidak dapat dilalui kendaraan roda dua (2) maupun roda empat (4).
Situasi semakin parah dengan padamnya lampu dan jaringan telkomunikasi. Informasi dan komunikasi warga benar-benar lumpuh. Banyak di antara korban yang sudah tidak dapat lagi menghubungi keluarga, mengakses bantuan, maupun mendapatkan informasi terbaru mengenai penanganan yang seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah.
Kritik keras pun disampaikan oleh masyarakat kepada pemerintah pusat dan daerah. Pemerintah dinilai hanya sibuk menunggu laporan dan tidak mengerti urgensi krisis di lapangan. Mereka abai terhadap kebutuhan dasar warga yang terjebak, termasuk kebutuhan listrik untuk penerangan malam, air bersih, makanan, hingga akses kesehatan.
Dimana pemerintah ketika warga benar-benar membutuhkan aksi cepat? Longsor sudah sering terjadi setiap musim hujan, namun respons selalu berulang—lambat dan inkonsisten. Jalan lumpuh, listrik padam, sinyal hilang, dan warga dipaksa bertahan dalam ketidakpastian. Sampai kapan harus begini?” keluh salah satu warga yang juga tertahan di lokasi.
Banyak pengendara menyayangkan minimnya informasi, tidak adanya posko darurat, bahkan ketiadaan niat nyata pemerintah untuk segera mengerahkan alat berat. Sementara, masyarakat harus bertahan di tengah ancaman longsor susulan dan cuaca yang tidak bersahabat.
Bencana kali ini semakin mempertegas lemahnya manajemen krisis dan ketidakseriusan pemerintah menangani infrastruktur serta kewaspadaan bencana di daerah rawan. Pemerintah diminta tidak hanya mengimbau dan berjanji, melainkan benar-benar turun ke lapangan, segera mengatasi tumpukan material, memulihkan aliran listrik, serta mengaktifkan kembali jaringan komunikasi agar seluruh aktivitas masyarakat Gayo Lues dan Aceh Tenggara tidak lumpuh berkepanjangan.
Hingga berita ini diturunkan, penanganan nyata dari pemerintah belum tampak. Warga menuntut aksi nyata, bukan sekadar janji dan imbauan dari balik meja kantor. Sudah saatnya pemerintah bergerak cepat, profesional, dan peduli agar keterisolasian serta penderitaan warga berhenti menjadi pemandangan rutin setiap musim bencana.








































