TORAJA | Rapat Dengar Pendapat yang digelar di ruang sidang paripurna DPRD Tana Toraja pada Jumat, 4 September 2026, berubah menjadi ajang ketegangan menyusul pernyataan tidak simpatik dari salah satu mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi terkait dugaan kasus keracunan massal siswa. Dalam forum resmi yang dihadiri oleh para orang tua siswa tersebut, pihak penyedia layanan justru melontarkan pertanyaan retoris yang menyudutkan korban dengan kalimat, “Kalau sudah tahu basi, kenapa masih dimakan, Adek?”
Pernyataan yang dianggap tidak etis dan minim empati tersebut sontak memicu kemarahan para orang tua yang hadir, mengingat forum tersebut diadakan untuk mencari kejelasan atas musibah yang menimpa anak-anak mereka. Kasus ini bermula dari dugaan keracunan massal yang melibatkan program Makanan Bergizi Gratis, sebuah inisiatif yang seharusnya menjamin standar keamanan dan kelayakan konsumsi bagi para pelajar.
Potongan rekaman ucapan tersebut pun cepat beredar luas di media sosial dan menuai kecaman keras dari warganet. Publik mempertanyakan bagaimana seorang siswa dapat mendeteksi kelayakan makanan sebelum menyantap hidangan yang disediakan melalui program resmi pemerintah tersebut. Masyarakat menuntut agar kasus ini diusut secara menyeluruh, tidak hanya untuk mencari penyebab dugaan keracunan, tetapi juga menuntut evaluasi total terhadap proses penyediaan serta distribusi makanan yang dinilai abai terhadap aspek higienitas.
Meski pihak mitra SPPG sempat menyatakan siap bertanggung jawab atas insiden tersebut dan mengklaim telah menjalankan prosedur operasional standar, namun pernyataan mereka yang terkesan menyalahkan korban telah mencederai rasa keadilan bagi para orang tua. Publik mendesak pihak berwenang untuk memberikan sanksi tegas kepada penyedia layanan yang terbukti lalai dan tidak menunjukkan tanggung jawab moral dalam menjalankan program strategis ini. (*)








































