JAKARTA, 7 September 2026 – Tokoh agama Bahar bin Smith kembali menyampaikan kritik tajam terhadap kondisi sosial dan politik nasional saat ini. Dalam sebuah ceramah yang berlangsung di tengah peringatan tahun baru Islam, ia menekankan komitmennya untuk tetap bersikap vokal terhadap segala bentuk ketidakadilan serta kezaliman, terlepas dari siapa pun pemimpin yang sedang menjabat di Republik Indonesia.
Bahar menyatakan bahwa posisinya sebagai pengkritik kebijakan pemerintah tidak akan berubah meski kursi kepresidenan saat ini diduduki oleh Prabowo Subianto. Ia menekankan bahwa prioritas utamanya adalah membela kepentingan bangsa dan rakyat kecil yang menurutnya masih menghadapi berbagai tekanan ekonomi. Dalam pandangannya, integritas seorang pemimpin dan para pengikutnya diuji melalui keberanian untuk bersuara ketika kebijakan publik tidak lagi berpihak pada rakyat.
Lebih lanjut, ia menyoroti fenomena maraknya praktik korupsi di berbagai sektor yang ia nilai sudah mencapai taraf mengkhawatirkan. Menurutnya, praktik koruptif tidak hanya terjadi di level atas, melainkan mulai menjalar secara sistematis. Ia mendesak agar pemerintah melakukan pengawasan yang lebih ketat terhadap program-program strategis agar tidak menjadi ajang kepentingan segelintir pihak, seraya mengajak seluruh elemen masyarakat untuk turut serta melakukan kontrol sosial.
Selain menyoroti kinerja pemerintah, ia juga memberikan kritik keras kepada para tokoh agama, ulama, dan habaib yang dianggap cenderung memilih diam atau bahkan menjadi penjilat penguasa. Menurutnya, ulama memiliki tanggung jawab moral untuk menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim, sesuai dengan prinsip amar makruf nahi munkar. Ia berpendapat bahwa kemunduran suatu bangsa sering kali diawali dari rusaknya moral para elit penguasa dan hilangnya keberanian para pemuka agama untuk bersikap jujur.
Di akhir penyampaiannya, Bahar mengajak masyarakat untuk memanfaatkan waktu dengan lebih produktif dan melakukan refleksi diri demi perbaikan kualitas hidup di masa depan. Ia menegaskan bahwa perjuangan menjaga kedaulatan dan keadilan di tanah air merupakan tanggung jawab bersama yang memerlukan keteguhan hati, meskipun harus menghadapi berbagai risiko berat dalam prosesnya. (*)








































