slot preparation.lsrs.lu

Tonicko Anggara: Menang API Award Bukan Jaminan Pariwisata Berkualitas

Redaksi Bara News

- Redaksi

Kamis, 21 Mei 2026 - 18:20 WIB

50253 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Aceh Selatan  |  Aktivis pariwisata Aceh, Tonicko Anggara, melontarkan kritik terhadap cara pandang sebagian pihak yang terlalu membanggakan kemenangan pada ajang Anugerah Pesona Indonesia Award atau API Award.

Menurut Tonicko, kemenangan dalam ajang tersebut tidak bisa dijadikan ukuran utama keberhasilan pembangunan sektor pariwisata di daerah.

“Menang API Award bukan berarti otomatis pariwisata daerah itu sudah maju atau berkualitas. Jadi menurut saya, pemerintah maupun publik tidak perlu terlalu berlebihan memaknainya sebagai kebanggaan besar,” kata Tonicko sebagaimana dikutip pada Rabu (20/5/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia menjelaskan, mekanisme penentuan pemenang API Award lebih banyak ditentukan melalui voting publik berbasis SMS, aplikasi, dan platform digital, sehingga sangat dipengaruhi oleh kemampuan mobilisasi massa dan jaringan kampanye.

“Pemenang API Award itu ditentukan oleh voting publik. Artinya sangat bergantung pada mobilisasi massa, jaringan komunitas, kemampuan kampanye digital, bahkan kekuatan promosi daerah. Jadi belum tentu destinasi yang menang itu memang terbaik secara kualitas,” ujarnya.

Tonicko menilai, sebuah destinasi wisata seharusnya diukur dari kualitas tata kelola, keberlanjutan, dan konsistensi kunjungan wisatawan, bukan sekadar kemenangan dalam ajang populer.

“Pariwisata yang bagus itu ukurannya bukan hanya menang penghargaan. Tapi bagaimana tata kelolanya, sustainability-nya, dan apakah wisatawan terus datang secara konsisten. Walaupun tidak membludak, tetapi ada pergerakan wisata setiap hari. Itu baru menunjukkan kualitas,” katanya.

Ia mencontohkan sejumlah destinasi wisata di Aceh Selatan yang sempat viral, ramai dikunjungi, bahkan meraih penghargaan API Award. Namun, menurutnya, Pemerintah Aceh Selatan belum mampu mempertahankan daya tarik destinasi tersebut dalam jangka panjang sehingga akhirnya terbengkalai.

“Misalnya Puncak Gemilang pada 2019. Kemudian Sigantangsira, bahkan meraih juara I sekaligus juara favorit API Award 2021. Pada awalnya memang ramai dikunjungi karena efek FOMO dan euforia publik. Setelah itu bagaimana? Apakah masih ramai dikunjungi? Begitu juga beberapa destinasi lain yang akhirnya terbengkalai,” ungkapnya.

Tonicko juga menyinggung produk kerajinan yang pernah meraih API Award, seperti Cenderamata Rencong Batu. Menurutnya, penghargaan tersebut perlu dibuktikan dengan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat.

“Kalau memang dianggap berhasil, harusnya ada data konkret. Misalnya berapa peningkatan penjualan per tahun, bagaimana dampaknya terhadap perajin rencong batu, apakah benar-benar berkembang secara ekonomi atau tidak,” pungkasnya.

Sebagai perbandingan, Tonicko mencontohkan kawasan wisata Danau Lut Tawar di Aceh Tengah yang menurutnya tetap dikenal luas dan ramai dikunjungi wisatawan tanpa harus bergantung pada kompetisi penghargaan.

“Danau Lut Tawar di Aceh Tengah setahu saya tidak pernah ikut API Award, tapi wisatawannya datang terus hampir setiap hari. Itu menunjukkan kualitas destinasi, tata kelola, dan sustainability yang berjalan,” jelasnya.

Menurut Tonicko, orientasi pembangunan sektor pariwisata oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan seharusnya tidak hanya berfokus pada pengakuan seremonial semata, melainkan lebih diarahkan pada keberlanjutan sektor wisata serta dampak nyata terhadap peningkatan ekonomi masyarakat.

“Kalau wisatawan terus datang, UMKM hidup, ekonomi masyarakat bergerak, itu baru indikator keberhasilan pariwisata yang sebenarnya,” tutupnya.

Berita Terkait

Tinjau Kondisi Dermaga Nelayan Sawang Bak U, Jamaluddin Idham Siap Perjuangkan Aspirasi Masyarakat Pesisir
Dua Pelajar Tewas dalam Tabrakan di Jalan Nasional Tapaktuan-Subulussalam
HAMAS Dukung Perjuangan Masyarakat Trumon, T. Ridwansyah Kecam Keras Tindakan BKSDA
Excavator Hitachi Disita di Lokasi Dugaan Perambahan Kawasan SM Rawa Singkil Aceh Selatan
Masyarakat Kecamatan Samadua Tegaskan Sikap Tolak Aktivitas Perusahaan Tambang, Desak Pemerintah Batalkan Rekomendasi dan Izin
Dr Nasrul Zaman Kritik Pemkab Aceh Selatan Fasilitasi Sosialisasi IUP di Samadua
Tambang Emas Ilegal Aceh Selatan Menggila, Puluhan Alat Berat Diduga Beroperasi di Bawah Bayang-Bayang Setoran
Perempuan di Aceh Selatan Alami Patah Kaki Akibat Diinjak Gajah Liar

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 02:28 WIB

Kapolres Bireuen Gelorakan Semangat Jaga Kelestarian Alam di Kecamatan Jangka Lewat Program Green Policing

Rabu, 28 Oktober 2026 - 23:54 WIB

Kapolres Subulussalam Pimpin Upacara Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke- 98

Rabu, 28 Oktober 2026 - 22:29 WIB

Kapolres Bireuen Ikuti Upacara Peringatan Hari Sumpah Pemuda 2026, Kuatkan Sinergi Pemuda untuk Indonesia

Senin, 26 Oktober 2026 - 20:01 WIB

Kapolres Bireuen Pimpin Apel Gelar Pasukan Operasi Patuh Seulawah 2026, Digelar Serentak 26 Oktober hingga 8 November 2026

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 22:53 WIB

Kadistanbun Bireuen Mulyadi Tinjau Progres Rehabilitasi Sawah di Sejumlah Lokasi, Target Awal November Petani Mulai Tanam

Kamis, 22 Oktober 2026 - 00:52 WIB

Kadistanbun Bireuen Hadiri Musyawarah Rencana Khanduri Rakyat dalam Rangka Turun Sawah di Samalanga

Kamis, 22 Oktober 2026 - 00:52 WIB

Tanah Mati Suri Pasca Banjir, PT. BIO ENERGI RIMBA RAYA Bersama Tani Merdeka Bireuen “Suntikkan” PTOC untuk Selamatkan Lahan Petani

Selasa, 20 Oktober 2026 - 23:59 WIB

Kapolres Bireuen Hadiri Wisuda Sarjana dan Magister Angkatan XXXVIII Universitas Islam Aceh

Berita Terbaru