Aceh Tenggara – Sebanyak sekitar 500 jiwa warga Aceh Tenggara yang bekerja sebagai buruh harian pemetik kopi di Kabupaten Bener Meriah dan Takengon meminta perhatian dan bantuan dari Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara.
Para warga tersebut hingga kini masih bertahan di lokasi perkebunan kopi. Sebagian dari mereka tinggal jauh dari pusat perkotaan, bahkan ada yang menetap di kawasan pegunungan sebagai penjaga kebun kopi. Kondisi ini membuat mereka kesulitan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Salah seorang warga Aceh Tenggara yang bekerja di Bener Meriah, Oby Plis, kepada awak media menjelaskan bahwa saat ini sebanyak 17 rumah warga Aceh Tenggara dilaporkan mengalami kerusakan. Selain itu, warga juga mengeluhkan tingginya harga sembako, khususnya beras.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Untuk harga beras di sini sudah sangat mahal, mencapai Rp500.000 per sak. Beras juga sulit didapat karena langka,” ujar Oby.
Ia menambahkan, mayoritas warga Aceh Tenggara yang bekerja sebagai pemetik kopi merupakan masyarakat tidak mampu, sehingga tidak sanggup membeli beras dan kebutuhan pokok lainnya dengan harga yang sangat tinggi.
“Atas kondisi ini, kami berharap kepada Pemerintah Aceh Tenggara agar segera menyalurkan bantuan bahan pokok, terutama beras dan sembako, kepada masyarakat Aceh Tenggara yang saat ini bekerja dan bertahan di Bener Meriah dan Takengon,” harapnya.
Warga berharap bantuan tersebut dapat meringankan beban hidup mereka di tengah sulitnya akses dan mahalnya kebutuhan pokok di wilayah perkebunan kopi tersebut.
Red







































