Soeharto Dinilai Layak Menjadi Pahlawan Nasional, Ini Deretan Pencapaian Semasa Pemerintahannya

Redaksi Bara News

- Redaksi

Kamis, 20 November 2025 - 21:52 WIB

50443 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta — Penilaian terhadap peran sejarah Presiden kedua Republik Indonesia, Soeharto, kembali mencuat ke ruang publik. Direktur Eksekutif Political and Public Policy Studies (P3S), Jerry Massie, pada Kamis (20/11/2025) menyatakan bahwa Soeharto patut mendapatkan gelar pahlawan nasional atas berbagai kontribusi besar yang ditorehkannya selama tiga dekade memimpin Indonesia.

Menurut analisis Jerry, Soeharto bukan hanya berperan dalam menstabilkan politik nasional pasca-1965, tetapi juga membawa Indonesia keluar dari krisis ekonomi akut dan membangun fondasi pembangunan nasional yang masih dapat dirasakan hingga saat ini. Pada awal masa Orde Baru, Indonesia menghadapi inflasi yang amat tinggi, mencapai lebih dari 600 persen. Situasi kritis tersebut perlahan berhasil dikendalikan melalui kebijakan fiskal dan moneter yang ketat serta dukungan tim ekonomi andal seperti Widjojo Nitisastro, Ali Wardhana, Ma’rie Muhammad, J.B. Sumarlin, Radius Prawiro, dan Soemitro Djojohadikusumo.

Dalam waktu singkat, inflasi berhasil ditekan hingga menyentuh angka 10 persen, sementara kepercayaan investor terhadap perekonomian nasional mulai pulih. Stabilitas tersebut menjadi modal penting bagi terjadinya percepatan pertumbuhan ekonomi. Menjelang akhir kekuasaan Soeharto, yakni pada kurun waktu 1996–1997, Indonesia mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 7,8 persen, melampaui negara-negara maju di Asia Timur saat itu seperti Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok. Prestasi itu mengangkat reputasi Indonesia sebagai “Macan Asia”.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kemajuan pesat tidak hanya terlihat pada sektor ekonomi, tetapi juga dalam bidang teknologi komunikasi. Indonesia menjadi salah satu negara ketiga di dunia yang memiliki satelit komunikasi sendiri melalui peluncuran Satelit Palapa A1 pada 9 Juli 1976. Peluncuran ini mempercepat integrasi nasional dan menjangkau komunikasi dari Sabang hingga Merauke. Langkah berani lainnya dilakukan pada awal 1980-an dengan mengakuisisi Indosat dari ITT, perusahaan Amerika Serikat. Aksi korporasi senilai US$ 43,6 juta ini menggambarkan keberanian pemerintah saat itu untuk menjaga kedaulatan teknologi strategis bangsa.

Di sektor industri, Soeharto mendukung kelahiran proyek mobil nasional Timor pada 1996. Meski menuai kritik, proyek ini menjadi simbol awal usaha kemandirian industri otomotif dalam negeri. Pada saat bersamaan, sektor dirgantara berkembang pesat di bawah kepemimpinan BJ Habibie. Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) berhasil memproduksi sejumlah pesawat seperti CN-235 dan N-250 Gatotkaca yang menjadi kebanggaan bangsa. Kekuatan alutsista pun diperkuat dengan pengadaan pesawat tempur modern seperti F-5 Tiger, A-4 Skyhawk, dan BAE Hawk.

Penekanan besar juga diberikan pada pembangunan sumber daya manusia. Hingga tahun 1994, pemerintah Orde Baru membangun hampir 150.000 unit Sekolah Dasar Inpres (Instruksi Presiden). Program ini tak sekadar menurunkan tingkat buta huruf, tetapi juga meningkatkan angka partisipasi pendidikan dasar secara signifikan. Dampak jangka panjang dari program ini menjadi objek studi para ekonom dunia dan turut berkontribusi dalam riset yang kemudian memenangkan Hadiah Nobel Ekonomi pada tahun 2019.

Pengaruh Soeharto dalam mengembangkan generasi teknokrat juga menjadi catatan penting. Tokoh-tokoh seperti Widjojo Nitisastro, Emil Salim, Ali Wardhana, dan Mohammad Sadli, yang dijuluki sebagai “Mafia Berkeley”, merancang kerangka ekonomi nasional yang sistematis dan berkelanjutan. Dalam pendekatan keamanan, figur seperti Jenderal Benny Moerdani dan Ali Moertopo memainkan peranan penting menjaga negeri tetap stabil di tengah turbulensi politik kawasan. Masa itu juga dikenal sebagai satu fase di mana Indonesia menghasilkan jajaran intelektual dan birokrat unggul bertaraf internasional.

Dalam bidang ketahanan pangan, Soeharto mencetak tonggak sejarah melalui capaian swasembada beras pada 1984. Hasil tersebut dicapai lewat program besar yang meliputi pembangunan irigasi, intensifikasi pertanian, penyediaan pupuk, hingga penyuluhan petani melalui forum seperti Kelompencapir. Atas keberhasilan ini, Indonesia menerima berbagai pengakuan internasional, termasuk World Food Day Award dari FAO. Pada 1985, Soeharto diundang untuk berbicara dalam konferensi FAO di Roma, mengukuhkan citra Indonesia sebagai negara berkembang yang berhasil menata ketahanan pangannya sendiri.

Tak berhenti sampai di situ, sejumlah penghargaan bergengsi lain pun diterima selama kepemimpinannya. Antara lain, Global Statesman Award (1988), UN Population Award (1989), Health for All Gold Medal dari WHO (1991), dan UNDP Award pada 1997. Ragam penghargaan ini dinilai sebagai bentuk pengakuan atas kontribusinya dalam menyejahterakan rakyat Indonesia melalui pembangunan jangka panjang.

Jerry juga menyinggung peran krusial Soeharto dalam memulihkan stabilitas nasional seusai peristiwa 30 September 1965. Menurutnya, keberhasilan menumpas pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) menjadi titik balik terpenting yang membuka jalan bagi konsolidasi politik nasional serta pembangunan terencana yang berkesinambungan.

Dengan semua pencapaian tersebut—mulai dari pemulihan ekonomi, modernisasi teknologi, pembangunan pendidikan, ketahanan pangan, hingga stabilitas politik—Soeharto dinilai layak dianugerahi gelar pahlawan nasional. Ia disebut telah meletakkan fondasi penting bagi kemajuan Indonesia yang pengaruhnya masih terasa hingga hari ini.

“Dari ekonomi, teknologi, pendidikan, pangan, hingga stabilitas negara, jejaknya luar biasa. Karena itu saya berpendapat Soeharto layak diberi gelar pahlawan nasional,” ujar Jerry. (RED)

Berita Terkait

Kejagung Tetapkan Tiga Eks Pimpinan BGN Tersangka Korupsi MBG, Dugaan Penyimpangan Sentuh Pengadaan Rp 1 Triliun
Dadan Hindayana Ditahan Kejagung, Pergantian Mendadak Pimpinan BGN Memantik Sorotan Publik
Sidang Pembelaan Nadiem Makarim: Antara Klaim Tak Bersalah dan Deret Bukti Lapangan
Dapat Tanah dari Orang Tua? Simak Penjelasan Proses Balik Nama Sertipikat Berikut Ini
Sambangi Sulbar, Wamen Ossy Imbau GTRA Jadi Kunci Penyelesaian Konflik Pertanahan di Daerah
Perkuat Kepastian Hukum untuk Rumah Tinggal, Masyarakat Bisa Tingkatkan Sertipikat HGB ke HM Sekarang
Jadi Pembicara dalam SUSBANPIM VIII, Menteri Nusron: Good Governance Dimulai dari Disiplin, Pembagian Tugas, dan Tata Kelola yang Jelas
Beda Fungsi dan Kegunaan, Pahami Perbedaan Pengecekan Sertipikat dan SKPT

Berita Terkait

Kamis, 4 Juni 2026 - 21:32 WIB

Aktivis Nasional Apresiasi Ketegasan Menteri Imipas Agus Andrianto, Bukti Nyata Komitmen Bersihkan Institusi dari Praktik Korupsi

Minggu, 31 Mei 2026 - 22:39 WIB

*Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN)*

Minggu, 31 Mei 2026 - 10:05 WIB

Sebanyak 1.052 Narapidana dan Anak Binaan Terima RK dan PMP Khusus Waisak Tahun 2026

Kamis, 28 Mei 2026 - 21:21 WIB

*Jokowi Dijadwalkan Kunjungi Lampung Akhir Juni 2026, BRN: Jawaban atas Kerinduan Masyarakat*

Selasa, 26 Mei 2026 - 10:32 WIB

Simak Cara Jual Beli Tanah yang Aman agar Terhindar Masalah di Masa Mendatang

Selasa, 26 Mei 2026 - 10:30 WIB

Pasang Patok, Cara Sederhana Cegah Sengketa Tanah dengan Tetangga

Jumat, 22 Mei 2026 - 13:45 WIB

Berantas Mafia Tanah, Ini Cara Melapor ke Kementerian ATR/BPN

Jumat, 22 Mei 2026 - 13:38 WIB

Jadi Bagian dari Satgas PKH, Kementerian ATR/BPN Kawal Kepastian Hukum dan Tata Kelola Kawasan Hutan

Berita Terbaru

ACEH TENGGARA

Polda Aceh Ajak Masyarakat Meriahkan Bank Aceh Bhayangkara Run 2026

Sabtu, 6 Jun 2026 - 14:16 WIB