NABI KITA ADALAH SANG PELOPOR TOLERANSI

denny

- Redaksi

Sabtu, 21 Juni 2025 - 12:06 WIB

50287 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Teuku Zikril Hakim

Teuku Zikril Hakim

Oleh: Teuku Zikril Hakim

Mahasiswa Pascasarjana UIN Ar-raniry, Komunikasi dan Penyiaran Islam

Di negeri yang dirajut dari ribuan pulau, ratusan Bahasa terpelihara dari moyang, dan berbagai iman hidup dan berkembang, Indonesia berdiri sebagai mozaik agung dalam sejarah dunia. Di tengah kemajemukan itu, kita sering bertanya bagaimana caranya agar perbedaan itu tidak menjadi jurang? Bagaimana agar perbedaan itu tidak menjadi Batasan? melainkan menjadi sebuah jembatan?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Jawabannya bukan sekadar pada sila, bukan semata pada undang-undang. Ia harus dihidupkan dan ditumbuhkan dalam konsep berfikir, dan didiktum menjadi keteladanan. Banyak orang-orang terkenal dalam sejarah keilmuan menggagaskan ide ini. John Locke, seorang filsuf dari Inggris pernah berkata, “Toleransi adalah bahan pokok dari masyarakat yang damai”. Begitupun dengan Voltaire seorang pemikir Humanis dari Prancis menandaskan hal yang sama, “Saya mungkin tidak setuju dengan apa yang Anda katakan, tetapi saya akan membela hak Anda untuk mengatakannya”.

Namun jauh sebelum orang-orang terkenal ini mengeforisasi kata-kata toleran, jauh sebelum dunia berbicara hak asasi, jauh sebelum bangsa-bangsa berdialektika tentang pluralisme. Nabi kita, Muhammad SAW merupakan pelopor yang sesungguhnya dari konsep yang dianggap sebagai tiang Utopia, yaitu Toleransi.

“Wahai manusia, ketahuilah bahwa Tuhanmu satu dan bapakmu satu. Seorang Arab tidak lebih mulia dari seorang non-Arab. Putih tidak lebih mulia dari hitam, dan hitam tidak lebih mulia dari putih, kecuali karena takwa”. Begitulah khotbah terakhirnya di Padang Arafah, suara yang digemakan bukan hanya bagi umatnya, tapi bagi seluruh umat manusia.

Bayangkan! Kata-kata ini lahir dari seorang pemimpin bangsa gurun abad ke-7, namun bukankah terasa lebih relevan dari banyak pidato di abad ke-21. Di saat dunia masih larut dalam kasta, disaat suasana masih terfokus pada kesukuan dan warna kulit, beliau menyuarakan kesetaraan. Yang hebatnya beliau tidak hanya berbicara tentang konsep, tapi beliau mewujudkannya. Dalam Piagam Madinah, Rasulullah menyusun tatanan sosial yang mengakui hak semua kelompok dan agama. Muslim, Yahudi, Nasrasni, Arab, Persia dan kaum lain. Mereka tidak dipaksa menyeragam, tapi diajak saling menjaga. Ini bukan kompromi politik, tapi ini adalah visi kemanusiaan.

Di bumi Indonesia yang majemuk ini, ajaran Nabi terasa seperti kompas moral yang tak pernah usang. Ketika Sumpah Pemuda digemakan dan Bhinneka Tunggal Ika dijunjung sebagai semboyan, sesungguhnya semangat Nabi kita telah hadir di antara baris-baris tekad itu. Semangat untuk hidup bersama dalam damai, tanpa harus menyeragamkan kepercayaan.

Toleransi ala Rasulullah bukan berarti membenarkan semua hal, tapi memahami bahwa kebenaran tidak memerlukan kekerasan untuk disampaikan. Bahwa perbedaan bukanlah dosa, tetapi bagian dari sunatullah. Ia mengajarkan bahwa cinta kepada sesama adalah buah dari cinta kepada Tuhan.

Dan Hari ini, di era digital yang penuh bising dan kebencian instan ini. Kita seperti ditantang untuk mengikuti jejak dan amanah yang beliau tinggalkan. Mampukah kita menahan lidah dari sulutan emosi? Mampukah kita menahan jari dari panasnya suasana maya? Mampukah kita meneladani Nabi bukan hanya di mimbar, tapi dalam tutur dan sikap?

Jika Nabi kita pernah menanamkan benih toleransi di tanah tandus Arab, maka kita sebagai umatnya yang hidup dalam kecanggihan era, yang hidup dengan kemajuan peradaban, harus bisa menjadikannya sebagai pohon yang menaungi bangsa. Karena toleransi bukanlah sekedar wacana. Ia adalah warisan, dan iman yang harus dijaga.(**)

Berita Terkait

Asah Ketangkasan dan Kedisiplinan, Menwa UTU Gelar Latihan Menembak di Lapangan Tembak Yonif 116/GS
Kritik, Evaluasi, dan Harapan: Menatap Peran Baitul Mal Secara Objektif
MBG, Korupsi, Dan Pengkhianatan Dari Lingkar Kekuasaan
RAPI Wilayah Nagan Raya Apresiasi Capaian Opini WTP ke-18 Pemkab Nagan Raya
Termul dan Sindroma Dunning-Krruger
Semangat Kebangsaan Menggema, Brimob Batalyon C Pelopor Ikuti Upacara Hari Lahir Pancasila
Hery Yanda Ketua Komisi 1 DPRK Nagan Raya.Dukung Penuh Investasi Rp200 Triliun, Minta Oknum Luar Tak Giring Opini Negatif Kepada Masyarakat
Fraksi Partai GOLKAR Apresiasi Bupati TRK, ajak Masyarakat Dukung Investasi Rp 200 Triliun

Berita Terkait

Minggu, 7 Juni 2026 - 04:42 WIB

Prof Dr Sutan Nasomal : Presiden RI Harus Sadar Horor Dolar Menerkam Keamanan Indonesia

Sabtu, 6 Juni 2026 - 21:00 WIB

DOSA EKOLOGIS DI ATAS TANAH JARAHAN,Status Tersangka Para Kades Bongkar Borok Operasional dan Kejahatan Kehutanan PT AGM di Hulu Sungai Selatan

Sabtu, 6 Juni 2026 - 19:21 WIB

Skandal Tambang di Atas Lahan Cacat Hukum: Penetapan Tersangka Para Kepala Desa Runtuhkan Legitimasi Operasional PT AGM

Rabu, 3 Juni 2026 - 23:03 WIB

Kejagung Tetapkan Tiga Eks Pimpinan BGN Tersangka Korupsi MBG, Dugaan Penyimpangan Sentuh Pengadaan Rp 1 Triliun

Rabu, 3 Juni 2026 - 22:55 WIB

Dadan Hindayana Ditahan Kejagung, Pergantian Mendadak Pimpinan BGN Memantik Sorotan Publik

Rabu, 3 Juni 2026 - 03:28 WIB

Sidang Pembelaan Nadiem Makarim: Antara Klaim Tak Bersalah dan Deret Bukti Lapangan

Selasa, 26 Mei 2026 - 10:34 WIB

Dapat Tanah dari Orang Tua? Simak Penjelasan Proses Balik Nama Sertipikat Berikut Ini

Selasa, 26 Mei 2026 - 10:29 WIB

Sambangi Sulbar, Wamen Ossy Imbau GTRA Jadi Kunci Penyelesaian Konflik Pertanahan di Daerah

Berita Terbaru