ACEH TENGGARA, 20 September 2026 – Di kedalaman bentang alam Gunung Leuser, Aceh, mengalir sebuah urat nadi ekosistem yang menjadi benteng terakhir bagi keanekaragaman hayati Sumatera. Sungai Ketambe, yang menyatu dengan aliran Sungai Alas, bukan sekadar aliran air, melainkan laboratorium alam raksasa yang menyimpan misteri kehidupan dari hulu di pegunungan hingga muaranya di pesisir Singkil.
Kawasan ini menjadi salah satu dari sedikit tempat di dunia yang masih menampung empat spesies satwa besar kunci secara bersamaan, yakni harimau sumatera, gajah sumatera, badak sumatera, dan orang utan sumatera. Di bagian hulu yang didominasi tebing cadas dan vegetasi rapat, sungai mengalir deras membentuk jeram yang menantang. Hutan di kawasan ini berfungsi sebagai benteng perlindungan bagi predator puncak seperti harimau sumatera yang memanfaatkan tutupan semak dan pepohonan sebagai ruang pergerakan yang nyaris tak terlihat.
Memasuki wilayah tengah, karakter sungai perlahan berubah seiring dengan melandainya topografi lembah. Di sinilah ekosistem air dan daratan berpadu membentuk ceruk kehidupan yang kompleks. Penelitian menunjukkan kawasan ini menjadi habitat bagi tidak kurang dari 20 spesies ikan, di mana kelompok Siprini menjadi populasi dominan. Keberadaan satwa primata seperti kedih, surili, dan orang utan, serta mamalia besar seperti gajah sumatera yang kerap terlihat melintasi tepian sungai saat bermigrasi, menjadi bukti betapa vitalnya konektivitas ekosistem di sepanjang aliran ini.
Tidak hanya kaya akan fauna, wilayah ini juga merupakan rumah bagi lebih dari 4.000 spesies flora, termasuk vegetasi langka seperti raflesia dan kantung semar. Fungsi ekologis sungai ini meluas hingga ke wilayah hilir, di mana aliran air membawa nutrisi penting yang menopang kehidupan di kawasan dataran rendah. Di bagian hilir yang lebih tenang, sungai menjadi tempat bernaung bagi predator perairan seperti buaya dan berbagai jenis satwa amfibi lainnya.
Secara keseluruhan, sistem Sungai Alas-Ketambe merupakan jalur ekologis yang tak terputus. Kelestarian sungai ini sangat bergantung pada integritas hutan Leuser yang berdiri di sekelilingnya. Selama tutupan hutan tetap terjaga, air akan terus mengalir sebagai pembawa kehidupan, menjaga keseimbangan rantai makanan dari pegunungan hingga muara, sekaligus mempertahankan warisan alam Indonesia yang tak ternilai bagi dunia. (*)










































