BLANGKEJEREN – Pemerintah Kabupaten Gayo Lues bersama Badan Narkotika Nasional mulai mematangkan berbagai rangkaian persiapan menyambut rencana kunjungan kerja Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, bersama Kapolri ke kabupaten yang dikenal dengan julukan Negeri Seribu Bukit tersebut.
Persiapan itu dibahas secara intensif dalam rapat Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) yang dipimpin Bupati Gayo Lues, Suhaidi, S.Pd., M.Si., dalam rangka kunjungan kerja Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi Aceh, Brigjen Pol. Dr. Dedy Tabrani, S.I.K., M.Si., di Kantor Bupati Gayo Lues, Jumat (6/11/2026).
Rapat tersebut turut dihadiri Kepala Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Gayo Lues, unsur Forkopimda, sejumlah kepala Satuan Kerja Perangkat Kabupaten (SKPK), serta pihak terkait lainnya. Pertemuan itu menjadi momentum awal untuk menyelaraskan seluruh agenda, mulai dari kesiapan lokasi, pengamanan, hingga substansi kegiatan yang akan diperlihatkan kepada Presiden dan Kapolri apabila kunjungan tersebut terealisasi.
Dalam rapat itu, Kepala BNNK Gayo Lues memaparkan sejumlah agenda yang telah disiapkan. Beberapa di antaranya adalah peluncuran koperasi kopi, penanaman perdana, peninjauan perkebunan kopi produktif, kegiatan panen, hingga dialog langsung dengan mantan petani ganja yang kini beralih mengembangkan perkebunan kopi.
Agenda-agenda tersebut disusun bukan sekadar sebagai seremoni penyambutan, melainkan sebagai gambaran utuh mengenai perubahan sosial dan ekonomi yang tengah terjadi di Gayo Lues. Pemerintah daerah bersama BNN ingin menunjukkan bahwa upaya pemberantasan narkotika di daerah ini berjalan seiring dengan pembangunan ekonomi masyarakat, khususnya melalui pengembangan komoditas kopi sebagai pengganti tanaman ganja.
Program yang menjadi tulang punggung perubahan itu adalah Grand Design Alternative Development (GDAD). Program tersebut merupakan upaya pemberdayaan masyarakat untuk mengalihkan mata pencaharian dari penanaman ganja ke komoditas pertanian yang lebih produktif, legal, dan memiliki nilai ekonomi yang berkelanjutan. Melalui GDAD, para mantan petani ganja difasilitasi untuk menekuni perkebunan kopi, mulai dari penanaman, perawatan, panen, hingga pemasaran hasil.
Kepala BNN Provinsi Aceh, Brigjen Pol. Dr. Dedy Tabrani, dalam rapat tersebut mengapresiasi capaian BNNK Gayo Lues dalam mendorong perubahan mata pencaharian masyarakat melalui pengembangan komoditas kopi. Menurut dia, capaian itu menjadi bukti bahwa pendekatan pemberantasan narkotika tidak bisa hanya bertumpu pada penindakan.
Dedy menegaskan, upaya pemberantasan narkotika tidak cukup hanya dilakukan melalui penindakan dan penegakan hukum. Ia menilai, langkah represif harus dibarengi dengan pendekatan pemberdayaan ekonomi agar masyarakat memiliki alternatif penghidupan yang lebih baik dan berkelanjutan, sehingga tidak kembali tergoda untuk menanam ganja karena alasan ekonomi.
Ia menilai pengembangan perkebunan kopi menjadi salah satu langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap tanaman ganja sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani. Kopi, kata Dedy, memiliki pasar yang jelas, harga yang relatif stabil, serta cocok dengan kondisi geografis dan ketinggian wilayah Gayo Lues yang selama ini dikenal menghasilkan kopi berkualitas.
Dalam rapat tersebut juga disampaikan bahwa produk kopi hasil pengembangan program alternatif di Gayo Lues telah menjalin kerja sama pemasokan dengan Starbucks di luar negeri. Kerja sama itu menjadi penanda bahwa kopi yang dihasilkan para mantan petani ganja tersebut telah memenuhi standar kualitas pasar internasional dan mampu bersaing di tengah ketatnya persaingan komoditas kopi dunia.
Capaian tersebut sekaligus menjadi alasan mengapa peluncuran koperasi kopi dimasukkan sebagai salah satu agenda utama dalam rencana kunjungan Presiden dan Kapolri. Koperasi diharapkan menjadi wadah kelembagaan yang memperkuat posisi tawar petani, menjamin keberlanjutan pasokan, serta memastikan nilai tambah dari kopi Gayo Lues tidak hanya dinikmati oleh pihak luar, tetapi juga kembali kepada petani sebagai produsen.
Bupati Gayo Lues, Suhaidi, dalam rapat itu menekankan pentingnya kesiapan menyeluruh dari seluruh jajaran Pemkab Gayo Lues. Ia meminta setiap SKPK terkait untuk memastikan lokasi kegiatan benar-benar siap, mulai dari akses jalan, kesiapan lahan penanaman perdana, perkebunan yang akan ditinjau, hingga tempat dialog dengan para petani. Suhaidi juga menekankan agar seluruh rangkaian kegiatan disiapkan dengan matang tanpa mengabaikan aktivitas pelayanan publik kepada masyarakat.
Pemkab Gayo Lues bersama BNN dan Forkopimda juga membahas aspek pengamanan dan kelancaran arus kunjungan. Koordinasi lintas instansi dinilai menjadi kunci agar seluruh agenda dapat berjalan optimal, tertib, dan memberikan kesan yang baik mengenai kesiapan daerah dalam menyambut kunjungan kepala negara.
Rencana kunjungan Presiden Prabowo Subianto bersama Kapolri ke Gayo Lues sendiri masih terus dikoordinasikan hingga saat ini. Namun, Pemkab Gayo Lues bersama BNN memastikan seluruh persiapan dilakukan sejak dini agar ketika jadwal kunjungan ditetapkan, daerah ini telah benar-benar siap.
Bagi masyarakat Gayo Lues, rencana kunjungan tersebut diharapkan tidak hanya menjadi momentum seremonial, tetapi juga menjadi penguat bagi upaya transformasi ekonomi dari tanaman terlarang menuju komoditas yang legal dan menyejahterakan. Kisah para mantan petani ganja yang kini menjadi petani kopi dan mampu menembus pasar internasional diharapkan menjadi contoh nyata bahwa pemberdayaan yang konsisten dapat mengubah jalan hidup masyarakat di Negeri Seribu Bukit. (*)










































